Selasa, 28 Januari 2020

BLUSUKAN YANG TIDAK DIRENCANAKAN “JALUR WIROSARI – GROBOGAN”

Liburan Imlek bingung mau liburan kemana. Berdiam diri dirumah juga membosankan rasanya. Mau ke Solo bosen, pasti ramai. Mau ke Lawu juga bosen, sudah sering ngadem disana. Akhirnya kepikiran untuk main ke Bledug Kuwu di Grobogan. Pagi itu jam setengah 7 pagi berangkat dari rumah dengan cuaca yang cukup cerah agak mendung-mendung tipis. Rasanya cuacanya enak buat jalan-jalan naik motor ke Grobogan, tidak terlalu panas.
            Tancap gas dengan kecepatan 50-60 kilo meter per jam, perjalanan saya nikmati dengan santai. Menikmati hamparan sawah, lading jagung, dan hutan jati yang ijo royo-royo sungguh menyejukkan mata. Rute yang saya lewati kali ini adalah Sragen – Tangen – Galeh – Kuwu.
            Kurang lebih satu jam perjalanan akhirnya tiba juga saya di Kuwu. Langsung saja saya focus menuju ke Bledug Kuwu. Sebelum ke lokasi Bledug Kuwu saya sempat mampir juga ke bekas Stasiun Kuwu SJS yang tak jauh dari lokasi wisata Bledug Kuwu. Kondisi stasiun masih sama seperti dulu, tidak jauh berubah. Bangunannya masih menjadi toko bangunan dan bisa dibilang terawat (baca artikel saya blusukan petak Wirosari – Kuwu ya).
            Karena memang tidak berencana blusukan saya hanya melihat sebentar saja di bekas Stasiun Kuwu. Kemudian perjalanan saya lanjut ke Bledug Kuwu. Kurang lebih 3 menit saya menikmati Bledug Kuwu dari luar pagar (malas masuk ke lokasi, karena takut bayar tiket, hehehe).
            Karena sudah merasa puas dan rasanya nanggung kalau langsung balik pulang, akhirnya saya iseng berencana pulang ke Sragen dengan rute memutar lewat Grobogan kota. Langsung saja saya tancap gas. Sesampainya di pertigaan Wirosari saya jadi kepikiran untuk blusukan di jalur Wirosari – Grobogan. Soalnya di lintas sejauh 18 km tersebut dahulu saya hanya sepintas saja melewatinya saat blusukan ke Blora.
            OK akhirnya saya niatkan blusukan dilintas Wirosari –  Grobogan kurang lebih sejauh 18 km. Perlahan tapi pasti motor saya geber kea rah Grobogan. Sembari clingak clinguk barang kali saya menemukan artefak perkeretaapian yang belum terdokumentasi dulu. 15 km perjalanan ternyata saya berhasil menemukan beberapa peninggalan kereta api, yaitu bekas jembatan dan pondasi jembatan.

            Untuk peninggalan berupa rel kereta saya hanya menemukan di 2 titik saja. kenapa sangat sedikit? Karena jalan nya sudah ditinggikan dan tanah disamping jalan raya sudah ditutup tanah. Sehingga bekas jalur kereta sudah tertimbun. Namun dugaan saya di petak ini bekas jalur kereta juga sudah banyak yang dicabuti. Hanya patok milik PT. KAI saja yang bisa dijadikan petunjuk.


Bekas Besi Jembatan Kereta Api yang Tertinggal di Petak Wirosari – Grobogan

Plang Aset PT. KAI


Bekas Pilar Jembatan Kereta yang Mulai Goyah

Wesel 1


Wesel 2

            Sepanjang penelusuran awal saya yang berjarak kurang lebih 15 km, saya tidak menemukan satupun bekas bangunan halte atau stasiun yang tersisa. Memang menurut referensi yang dahulu pernah say abaca, disepanjang jalur tersebut sudah tidak menyisakan bangunan halte. Hal ini dikarenakan adanya pelebaran jalan dan bangunan halte yang hanya terbuat dari kayu.
            Akhirnya sampai juga perjalanan saya memasuki Kota Grobogan. Disini saya mulai berjalan pelan. Karena banyaknya percabangan jalan dan tidak ada peta yang memandu saya. Saya hanya mengandalkan insting saja dan kejelian melihat patok-patok milik PT. KAI.
            Sebelum masuk ke Kota Grobogan, saya melewati sebuah sungai besar dimana disana terdapat bekas jembatan kereta yang masih utuh dan terawatt berwarna biru. Mungkin bangunan jembatan tersebut sekarang dipelihara oleh PDAM. Bangunan pondasi dan besi-besinya masih terlihat kokoh. Hanya saja besi rel dan bantalannya sudah raib. Jika ikuti jalur tersebut akan mengarah ke Alun-alun Kota Grobogan.



Bekas Jembatan Kereta

Jalur Kereta Menuju Kota Grobogan

            Sembari mengikuti patok PT. KAI perjalanan saya lanjutkan kerah kota. Dari jembatan bekas jalur kereta telah berubah menjadi area trotoar dan tertutup blok paving. Penelusuran saya tibalah di Alun-Alun Grobogan. Bekas jalur kereta dahulu berada persis disamping Alun-Alun Grobogan dekat Pendopo Bupati. Betapa indahnya dahulu saat kereta melintasi tengah kota.
            Dari alun-alun, jalur kereta mengarah ke barat melewati depan kantor pos dan menikung berbelok kearah Simpang Lima Purwodadi. Belokan jalur kereta ini berada di patung kuda segitiga emas Grobogan. Terus berjalan pelan saya mengikuti insting dan patok yang bisa saya temui. Penelusuran saya mengantarkan saya di Pasar Grobogan dimana didepannya terdapat terminat angkutan kota yang dulu merupakan bekas Stasiun Purwodadi.
            Sebelum memasuki stasiun, saya sempat melihat bangunan tua dengan ukuran yang cukup besar. Saya memperkirakan bangunan tersebut adalah bangunan gudang. Bentuknya hamper mirip dengan bangunan gudang Stasiun Demak. Kini bangunan tersebut telah beralih fungsi menjadi toko material. Kondisi bangunannya bisa dibilang masih cukup baik meskipun pada bagian fasad kayu luarnya telah banyak yang lapuk. Kondisi memprihatinkan justru disandang bekas bangunan dipo yang kini menjadi tempat pengumpulan barang bekas.
            Sampainya di Kota Grobogan ini berakhir pula penelusuran saya. Semakin bertambahnya tahun dan pesatnya pembangunan kota jejak-jejak peninggalan kereta masa lalu memang susah untuk ditemukan. Semoga ini bisa menjadi dokumentasi yang berharga.


Bekas Jalur Kereta Melintas di Depan Alun-Alun Grobogan

Jalur Kereta Berbelok di Segitiga Emas Purwodadi
(Perhatikan Plang dan Patok PT. KAI)

Bekas Jalur Kereta di Belakang Patung Kuda


Bekas Bangunan Gudang

Akhir Jalur dari Gudang

Simpang Lima Purwodadi


Bekas Bangunan Dipo

Bekas Stasiun Purwodadi

Stasiun Purwodadi
sumber: kitlv.nl

Plang Nama Stasiun Purwodadi
sumber: video sejarah


Purwodadi Tempo Dulu
sumber: Purwodadi Tempo Dulu 

Bekas Papan S35 Dekat Simpang Lima yang Sudah Hilang