Selasa, 31 Maret 2015

MUSEUM KERETA API AMBARAWA

  MENENGOK RENOVASI MUSEUM AMBARAWA

      Hampir satu jam perjalanan saya menuju Ambarawa setelah melakukan blusukan di daerah Kemijen Semarang untuk mencari jejak stasiun tertua di Indonesia. Tepat pukul tiga sore akhirnya saya mendarat di Ambarawa. Suasana berbeda sentak menyambut kedatangan saya. Sejumlah bangunan yang berada disekitar jalur rel antara Ambarawa hingga Tuntang sudah diratakan dengan tanah. Selain itu wajah Museum ambarawa pun juga terlihat semakin rapi.
            Kebetulan saya sempat bertanya dengan seorang warga asli Ambarawa yang menjadi juru parkir di area Museum Ambarawa mengenai proses reaktivasi Stasiun Ambarawa. Beliau menjelaskan bahwa penggusuran pemukiman warga di Ambarawa memang berkaitan dengan rencana reaktivasi Stasiun Ambarawa yang akan dihubungkan dengan Stasiun Kedung Jati. Beliau juga senang jika Stasiun Ambarawa akan dijadikan stasiun kereta regular. Menurutnya, dengan reaktivasi stasiun otomatis akan meningkatkan ekonomi warga, karena kawasan Ambarawa akan semakin ramai.
            Setelah cukup berbincang-bincang, saya pun melanjutkan blusukan saya ke Stasiun Ambarawa yang juga berfungsi sebagai Museum Kereta Api Ambarawa. Tujuan saya kali ini bukanlah untuk berwisata atau melihat koleksi museum, akan tetapi lebih melihat proses reaktivasi Stasiun Ambarawa dan proses Renovasi Museum Ambarawa.
            Sedikit berbicara mengenai sejarah Stasiun Ambarawa, bangunan stasiun ini didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda melalui perintah raja Belanda kala itu yaitu Raja Willem I pada tahun 1873. Tujuan utama dibangunnya Stasiun Ambarawa adalah untuk kepentingan militer, karena pada zaman dahulu Ambarawa merupakan salah satu pusat basis militer pemerintah Hindia Belanda. Stasiun Ambarawa juga dikenal dengan nama Stasiun Willem I, sesuai dengan nama pencetus pendiriannya. Pada zaman dahulu di stasiun ini dilalui kereta dengan tujuan Semarang via Kedung jati, Magelang, Jogja, Temanggung, dan  Parakan. Seiring dengan berjalannya waktu dan berkembangnya alat transportasi, Stasiun Ambarawa mulai ditinggalkan penumpangnya. Akhirnya pada tahun 1976 Stasiun Ambarawa resmi ditutup oleh pemerintah.
            Dalam rangka melestarikan sejarah perkeretaapian di Indonesia, maka pemerintah kala itu berinisiatif mendirikan museum kereta api yang berfungsi sebagai tempat menyimpan peninggalan perkeretaapian serta sarana edukasi bagi masyarakat. Akhirnya dipilihlah Stasiun Ambarawa sebagai lokasi museum kereta api di Indonesia. Tepat pada tanggal 6 Oktober 1976 Stasiun Ambarawa resmi berubah menjadi Museum Kereta Api Ambarawa. Dan kini Museum Ambarawa melayani perjalanan kereta wisata ke Stasiun Tuntang dan Stasiun Bedono.

Proses Reaktivasi Jalur Kereta di Ambarawa

Sangat berbeda sekali kondisi Museum Ambarawa saat ini. Dulu kondisi lokomotif serta beberapa koleksi museum tampak tak terawat dan rusak. Lingkungan disekitar stasiunpun juga nampak kotor. Akan tetapi setelah adanya proses renovasi ini, kondisi museum nampak lebih rapi dan terawat. Lokomotif serta beberapa koleksi lainnya pun juga tampak diperbaiki. Menurut informassi yang saya peroleh, Museum Kereta Api Ambarawa akan dijadikan museum kereta api terbesar di Asia Tenggara. Semoga rencana ini benar-benar terwujud agar masyarakat bisa mengenal dan mengetahui sejarah perkeretaapian di Indonesia.
            Saat saya berkeliling di area museum, ada hal menarik yang saya temukan disana. Ada dua buah bangunan kecil yang terbuat dari kayu yang didirikan di samping stasiun mirip seperti bangunan gazebo atau warung kopi. Saya penasaran dengan dua bangunan tersebut karena ada sesuatu yang aneh dan unik yang mengusik rasa ingin tahu saya. Dugaan saya itu pasti bangunan halte. Setelah mendekat ternyata dugaan saya benar, dua bangunan tersebut adalah bekas bangunan halte kereta. Salah satu bangunannya adalah bekas bangunan Halte Cicayur. Senang sekali rasanya bisa menemukan bangunan halte disini. Halte adalah sebuah tempat yang digunakan untuk naik turunnya penumpang kereta api selain stasiun. Halte tidak selalu memiliki bangunan, kadang hanya berupa tempat berkumpul untuk naik dan turun penumpang kereta yang diberi plang penanda. Selama blusukan yang pernah saya lakukan, banyak sekali bangunan halte yang pernah saya temui dan rata-rata kondisinya kurang terawat. Sebagai contoh halte disepanjang jalur Solo-Wonogiri.

Turn Table Stasiun Ambarawa

Salah Satu Gerbong Kayu Koleksi Museum Ambarawa

Loko Penarik Tram Koleksi Museum Ambarawa

Gerbong Madura Koleksi Museum Ambarawa

Emplasemen Stasiun Ambarawa

Bekas Bangunan Halte Cicayur

Bangunan Dipo Lokomotif Stasiun Ambarawa

Halaman Stasiun Ambarawa

Stasiun Ambarawa Tahun 1890 – 1906
Sumber: kitlv.nl

Bangunan Gudang Stasiun Ambarawa

Puas menjelajahi isi Stasiun Ambarawa dan pertimbangan waktu yang semakin sore, akhirnya tepat pada pukul empat sore saya pergi meninggalkan Stasiun Ambarawa kembali melanjutkan perjalanan pulang menuju Kota Solo. Puas rasanya blusukan saya kali ini, karena bisa menjangkau tiga tempat sekaligus dalam satu waktu. Namun dibalik itu semua tersirat sedikit keprihatinan mengenai konservasi bangunan cagar budaya yang dilakukan oleh pemerintah dimana banyak sekali bangunan cagar budaya warisan kejayaan kereta api dimasa silam yang merana tak terawat. Hal ini perlu menjadi perhatian serius bagi pemerintah untuk menjaga warisan cagar budaya yang menjadi bagian besar dari sejarah perjalanan bangsa Indonesia.
            Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama dua jam, tak terasa perjalanan saya sudah tiba di Kota Bengawan. Semoga dilain kesempatan saya bisa berkesempatan kembali melakukan blusukan ditempat lain dengan cerita dan sejarah yang berbeda. Semoga. 

___________________________________________________
Developed by: blusukanpabrikgula.blogspot.com
___________________________________________________
PRIMA UTAMA / 2015 / WA: 085725571790 / MAIL, FB: primautama@ymail.com / INSTA: @primautama     







STASIUN TERTUA DI INDONESIA

MENCARI JEJAK STASIUN TERTUA DI INDONESIA


Perjalanan saya mencari jejak stasiun pertama di Indonesia merupakan serangkaian perjalanan saya di Semarang dan Kendal. Selepas blusukan di Kendal, beranjak saya menuju Kota Semarang untuk mencari dimana letak stasiun pertama di Indonesia. Kurang lebih pukul setengah satu siang saya mulai memasuki wilayah Kota Semarang. Tujuan saya kali ini adalah menuju kekawasan Pelabuhan Tanjung Mas Semarang tepatnya di Jalan Ronggowarsito yang menurut referensi yang saya peroleh disanalah dahulu stasiun pertama di Indonesia pernah berdiri.
  Teriknya matahari Semarang tak menghalangi langkah blusukan saya siang itu. Kurang lebih pukul satu siang saya mulai memasuki wilayah Tawang. Lima tahun pernah tinggal di Semarang lantas tak membuat saya hafal seluruh letak jalan yang ada di Kota Atlas. Saya pun harus berhati-hati dan jeli dalam mencari lokasi Jalan Ronggowarsito tempat perburuan saya kali ini.
Ternyata lokasi yang saya cari tak sesulit yang saya bayangkan. Lokasinya searah dengan jalan menuju Pelabuhan Tanjung Mas. Diarea tersebut saya mulai menemukan jejak peninggalan kereta api di masa lampau. Jejak pertama yang saya temui adalah bekas kantor pusat perusahaan kereta api milik SJS (Samarang Joana Stoomtram) yang bangunannya masih kokoh berdiri dengan kondisi yang sangat mengenasakan. Bagaimana tidak, kondisi bangunan yang sudah tidak terawat dan terendam oleh banjir rob membuat bangunan megah peninggalan SJS tersebut tampak merana.
Berjalan pelan diarea tersebut, saya juga menemukan bangunan bekas dipo atau mungkin kalau zaman sekarang kita mengenalnya sebagai balai yasa atau bengkel kereta api milik SJS. Kondisinya pun bahkan lebih memprihatinkan. Pondasi bangunan sebagian telah terendam air, lokasinya pun juga telah berubah menjadi tempat penampungan barang rongsokan. Yang lebih miris lagi adalah atap bangunan dipo tersebut sudah hilang tak bersisa. Sungguh sangat disayangkan. 
Sedikit berbicara mengenai sejarah Samarang Joana Stoomtram (SJS), merupakan salah satu perusahaan kereta api swasta pada masa pemerintahan Hindia Belanda yang pernah beroperasi di Indonesia khususnya disekitar Semarang. Perusahaan SJS mengelola jalur sepanjang 417 KM yang melintasi beberapa kota diantaranya: Kabupaten Demak, Kabupaten Kudus, Kabupaten Pati, Kabupaten Rembang, Kabupaten Jepara, sebagian Kabupaten Blora, sebagian Kabupaten Grobogan, Sebagian Kabupaten Bojonegoro, sebagian Kabupaten Tuban, dan tram dalam kota Semarang yang dibangun pada tahun 1882. Dari banyaknya jalur peninggalan SJS tersebut, tak satupun jalur yang masih aktif. Tahun terakhir jalur SJS aktif adalah pada tahun 1987.
Samarang Joana Stoomtram juga banyak memiliki stasiun besar, diantaranya adalah: Stasiun Jurnatan Semarang (sebagai stasiun pusat), Stasiun Demak, Stasiun Kudus, Stasiun Juwana, Stasiun Rembang, Stasiun Purwodadi, Stasiun Blora, dan Stasiun Lasem. Selain itu SJS juga memiliki beberapa bengkel dan dipo lokomotif dibeberapa daerah, diantaranya: di Stasiun Demak, Stasiun Kudus, Stasiun Blora, dan Stasiun Purwodadi.

Bekas Bangunan Kantor Pusat SJS

Bekas Bangunan Dipo SJS

Kantor Pusat SJS Tahun 1927
Sumber: kitlv.nl

Beranjak meninggalkan komplek bangunan milik SJS, perjalanan saya lanjutkan menuju Jalan Ronggo Warsito yang tak jauh dari sana. Tujuan saya kali ini adalah mencari gang Sporland yang menurut catatan di area itulah komplek stasiun Samarang NIS sebagai stasiun tertua di Indonesia pernah berdiri. Kurang lebih 2 kilometer saya tiba di gang Sporland yang secara tidak sengaja saya temukan. Posisinya tepat berada di sebelah kanan jalan. Saya pun mencoba masuk kedalam gang tersebut yang sudah padat oleh pemukiman penduduk.
            Terus merangsek kedalam gang, tak satupun petunjuk yang berkaitan dengan kereta api saya temukan. Mungkin karena padatnya bangunan serta banyaknya bangunan baru. Tanpa menyerah sayapun semakin masuk kedalam gang. Perjalanan saya terhenti di tepian sebuah tambak tepatnya disebuah lapangan voli milik warga. Sembari menikmati semilir angin dan menyaksikan banyaknya mancing mania yang sedang mengasah kemampuannya mencari ikan, tanpa sengaja saya menemukan sebuah bangunan stasiun. Saya yakin bahwa bangunan yang saya lihat adalah bangunan stasiun karena bangunan tersebut memiliki arsitektur seperti stasiun Godong di Grobogan yang pernah saya datangi sebelumnya. 
            Karena rasa penasaran saya semakin besar, sayapun mencoba mendekat ke bangunan yang hampir tenggelam tersebut. Benar saja dugaan saya, bangunan tersebut adalah bangunan Stasiun Semarang Gudang. Ornamen khas stasiun seperti papan identitas stasiun, papan ruang kepala stasiun, dan lain sebagainya masih bisa saya jumpai disana. Kondisinya sangat mengenaskan memang. Tak ada bekas rel yang masih terlihat, semuanya sudah tenggelam oleh banjir rob.
            Meskipun bukan stasiun tertua di Indonesia, Stasiun Semarang Gudang juga menyandang sebagai salah satu stasiun tertua yang ada di Indonesia. Menengok sejarah stasiun pertama di Indonesia tidak bisa lepas dari pembangunan jalur kereta api pertama di Indonesia yang dilakukan pada tanggal 16 Juni 1864 dengan pembangunan rute pertama sepanjang 25 kilometer dari Semarang menuju Tanggung melalui Halte Alastua.
            Masih menjadi pertanyaan bagi banyak orang memang mengenai stasiun apa yang menyandang predikat sebagai stasiun tertua di Indonesia. Ada referensi yang menyatakan bahwa stasiun tertua di Indonesia adalah Stasiun Tambaksari yang identifikasinya menuju pada Stasiun Samarang NIS. Namun, ada sumber lain yang menyebutkan bahwa stasiun pertama adalah Stasiun Kemijen yang terletak di dekat persilangan jalur rel milik NIS dan SJS, oleh karena itu Stasiun Kemijen sering disamakan dengan Stasiun Semarang Gudang. Entah stasiun mana yang menyandang sebagai stasiun tertua tapi pada dasarnya semua stasiun tersebut terletak di suatu kawasan yang sama yakni Kemijen Semarang.

Gang Sporland Menuju Stasiun Semarang Gudang

Meninggalkan lokasi Stasiun Semarang Gudang perjalanan saya lanjutkan mencari jejak jalur kereta yang mungkin masih bisa saya temui. Secara tidak sengaja, saya menemukan sebuah bekas jalur kereta api yang melintang memotong jalan raya dari arah Tawang menuju Stasiun Semarang Gudang. Sembari mengamati lebih lanjut, saya juga berhasil menemukan sebuah papan dengan ukuran yang lumayan besar yang saya perkirakan sebagai papan identitas stasiun. Di papan tersebut masih jelas tertulis nama Stasiun Semarang Gudang. Mungkin bekas jalur tersebut adalah bekas jalur kereta dari Stasiun Tawang menuju Stasiun Semarang Gudang. Menurut sebuah artikel yang pernah saya baca, Stasiun Semarang Gudang ditutup karena banjir rob yang sering melanda kawasan tersebut, sehingga pemerintah menggeser jalur kereta kesebelah selatan yang jauh dari ancaman rob. 

Bekas Bangunan Stasiun Semarang Gudang

Stasiun Samarang NIS Tahun 1905
Sumber: kitlv.nl

Bekas Rel dari Stasiun Tawang Menuju Stasiun Semarang Gudang

Bekas Papan Identitas Stasiun Samarang Gudang

Perjalanan saya mencari jejak stasiun tertua di Indonesia berakhir. Meskipun saya tidak berhasil menemukan bekas bangunan Stasiun Samarang NIS yang menurut beberapa artikel masih ada bagian bangunan yang tersisa dan berubah fungsi menjadi rumah warga, namun setidaknya saya masih bisa menyaksikan sendiri lokasi bersejarah dalam dunia perkeretaapian di Indonesia meskipun dalam kondisi yang mengenaskan. Sangat disayangkan memang, jika bangunan-bangunan bersejarah yang tak ternilai tersebut yang ikut andil dalam sejarah panjang bangsa ini harus merana tak terawat. Ini adalah PR besar bagi pemerintah terkait agar lebih bisa merawat dan melestarikan peninggalan sejarah dimasa lalu. Satu hal yang perlu diingat, “Kita tidak membuat, tapi kita mewarisi”. Kalau merawat saja tidak bisa, jangan berharap untuk bisa membuat.
Waktu terus berjalan, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Sayapun segera berbegas untuk melanjutkan perjalanan menuju lokasi blusukan saya yang terakhir yaitu Stasiun Ambarawa. Tujuan saya ke Ambarawa adalah untuk melihat proses reaktivasi stasiun Ambarawa yang akan dijadikan stasiun penumpang secara regular serta menengok proses renovasi Museum Ambarawa yang konon katanya akan dijadikan museum kereta api terbesar di Asia Tenggara. Perjalanan saya ke Ambarawa akan saya ulas dalam tulisan saya dengan judul yang berbeda.

______________________
Developed by: blusukanpabrikgula.blogspot.com
______________________
PRIMA UTAMA / 2015 / WA: 085725571790 / MAIL, FB: primautama@ymail.com / INSTA: @primautama   
            









JALUR MATI KOTA KENDAL

  JALUR MATI DALAM KOTA KENDAL: TERKUBUR DALAM TEBALNYA ASPAL PANTURA


Sabtu tanggal 21 Maret 2015 bertepatan dengan libur hari raya Nyepi, saya kembali berkesempatan melakukan blusukan jalur mati lagi. Entah ini blusukan saya yang keberapa, tapi blusukan saya kali ini tentu saja ditempat yang berbeda dengan tantangan yang berbeda pula. Tujuan saya kali ini adalah mencari jejak jalur mati dalam Kota Kendal. Sedikit berbicara mengenai jalur mati di petak Kota Kendal, dahulu di dalam Kota Kendal pernah dilewati jalur kereta api yang menghubungkan antara Stasiun Kaliwungu dengan Stasiun Kalibodri via Stasiun Kendal. Jalur tersebut dibangun oleh salah satu perusahaan kereta api swasta Hindia Belanda yaitu Samarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS). Sekitar tahun 1970 hingga 1980-an karena sarana kereta yang sudah tua dan banyaknya angkutan jalan raya yang mulai beroperasi, membuat kereta api mulai ditinggalkan dan ditutuplah jalur tersebut karena menurunnya jumlah penumpang.
            Perjalanan saya kali ini seperti biasa mengambil titik start dari Kota Solo. Kurang lebih pukul enam pagi perjalanan saya mulai menuju Kota Kendal. Blusukan saya kali ini sedikit berbeda dengan blusukan-blusukan saya sebelumnya karena ada beberapa tempat yang akan saya kunjungi dalam satu waktu blusukan. Tempat-tempat lain yang akan saya kunjungi dalam perjalanan kali ini selain Kendal adalah Kota Semarang untuk mencari jejak stasiun pertama di Indonesia dan Ambarawa untuk menengok proses reaktivasi Stasiun Ambarawa dan proses pemugaran Museum Kereta Api Ambarawa.
            Tujuan pertama saya adalah Kota Kendal. Sesampainya di Semarang saya menyempatkan terlebih dahulu untuk mampir ke Kecamatan Gunung Pati untuk menengok bekas kampus almamater saya disana. Berlanjut meninggalkan Gunung Pati, perjalanan saya lanjutkan menyusuri jalanan pantura menuju Kota Kendal. Kurang lebih pukul setengah sepuluh pagi saya mulai memasuki Kota Kendal. Perjalanan berlanjut mencari lokasi Stasiun Kaliwungu sebagai titik awal blusukan saya. Dalam blusukan saya kali ini ada beberapa stasiun dan halte kereta yang akan menjadi target pencarian saya, yaitu: Stasiun Kaliwungu, Halte Brangsong, Halte Cangkring, Halte Kendal Alun-Alun, Stasiun Kendal, Halte Patebon, Halte Pegadon, dan Stasiun Kalibodri.
            Menuju ke wilayah Kaliwungu, pencarian saya akan keberadaan Stasiun Kaliwungu ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Padahal Stasiun Kaliwungu masih menyandang stasus sebagai salah satu stasiun aktif di Kendal. Kesulitan saya ini cukup beralasan, papan petunjuk stasiun yang kecil dengan tulisan yang sudah tidak terlalu ketara serta lokasi stasiun yang ditutupi oleh pemukiman padat penduduk membuat saya harus tersesat berkali-kali. Berkat petunjuk dari seorang warga yang sempat saya tanyai dipinggir jalan, akhirnya saya berhasil menemukan keberadaan stasiun Kaliwungu yang berada tak jauh dari Pasar Kaliwungu.

Stasiun Kaliwungu

            Tiba di Stasiun Kaliwungu saya bergabung bersama warga sekitar yang kebetulan sedang bermain disekitar emplasemen stasiun. Saya berusaha mencari titik percabangan jalur menuju Halte Brangsong yang berada di sebelah barat laut Stasiun Kaliwungu. Pencarian saya kali ini tidak membuahkan hasil, saya tidak bisa menemukan bekas titik percabangan jalur kearah Brangsong. Namun saya bisa memperkirakan dimana titik percabangan jalur itu berada, yakni di sebelah barat laut berdekatan dengan posisi Pasar Kaliwungu. Bekas percabangan jalur menuju Brangsong mungkin sudah dicabut saat proses pembuatan double track di Kaliwungu.

Perkiraan Percabangan Jalur ke Brangsong Arah Barat Laut

Beranjak meninggalkan Stasiun Kaliwungu, perjalanan saya lanjutkan kearah Brangsong. Selepas melewati Pasar Kali Wungu, tepatnya disebelah kanan jalan, saya mulai menjumpai bekas jalur kereta yang secara keseluruhan kondisinya masih utuh. Hanya dibeberapa titik saja bekas rel tampak melengkung dan patah. Saya mencoba mengikuti kemana jalur tersebut mengarah. Sesuai prediksi saya, bekas rel tersebut mengarah menuju Brangsong. Hal yang membuat saya heran disini adalah sepanjang jalur menuju Brangsong tak ada satupun patok milik PT. KAI yang saya jumpai. Hal ini berbeda sekali dengan jalur-jalur lain yang pernah saya kunjungi dimana setiap jengkal jalur selalu ditandai oleh patok milik PT. KAI, baik patok beton maupun patok besi. Ketiadaan patok tersebut merupakan kesulitan tersendiri bagi saya untuk melacak jejak bekas jalur kereta.
            Bekas jalur rel yang bersebelahan dengan jalan raya ini mengingatkan saya akan jalur mati di sepanjang Grobogan hingga Blora. Perbedaannya, bekas rel di jalur Kendal ini sebagian besar kondisinya masih utuh. Akhirnya bekas jalur kereta menuntun saya ke pertigaan Brangsong yang mengarah ke Kota Kendal. Selepas pertigaan Brangsong, saya sudah tidak bisa menjumpai bekas jalur kereta. Asumsi saya, bekas jalur kereta telah tertutup aspal jalan raya yang tebal.

Bekas Rel Menuju Brangsong

            Didaerah Brangsong saya berusaha mencari keberadaan Halte Brangsong. Sambil berjalan pelan tak satupun bangunan yang menyerupai bangunan halte atau stasiun bisa saya temukan. Akhirnya disekitar Pasar Brangsong saya mencoba bertanya pada seorang nenek yang kebetulan berada di pinggir jalan. Saya menanyakan mengenai keberadaan lokasi Halte Brangsong. Jawaban mengejutkan saya dapatkan dari nenek tersebut yang menurut saya adalah warga asli Brangsong. Beliau mengatakan bahwa di Brangsong tidak pernah ada bangunan stasiun atau halte, satu-satunya stasiun terdekat hanyalah Stasiun Kaliwungu. Saya sempat bingung akan jawaban nenek tersebut karena berbeda dengan referensi yang saya miliki.
            Saya sempat melogika jawaban nenek tersebut. Jika memang benar di Brangsong tidak pernah ada stasiun atau halte hal itu mungkin bisa terjadi karena jarak antara Brangsong dengan Kaliwungu tidaklah terlalu jauh, bahkan bisa dikatakan dekat. Tapi jika referensi yang saya peroleh benar, itu juga bisa terjadi karena pada zaman dahulu jarak antara stasiun atau halte memang tidak terlalu jauh untuk mengakomodasi penumpang. Entah mana yang benar semua itu perlu untuk dikaji lebih lanjut lagi.
            Meninggalkan Brangsong perjalanan saya lanjutkan menuju Kota Kendal. Disepanjang perjalanan sebenarnya ada halte yang saya lewati yaitu Halte Cangkring, akan tetapi saya tidak berhasil menemukannya. Mungkin bangunan halte sudah lama dirubuhkan. Memasuki Kota Kendal tepatnya dijalan Soekarno-Hatta, diseberang jalan saya menemukan petunjuk keberadaan jalur kereta yaitu berupa bekas jembatan kereta yang diatasnya telah dibangun jembatan baru. Jika kita tidak teliti, kita mungkin tidak akan menyadari keberadaan jembatan tersebut.

Bekas Jembatan Kereta di Soekarno - Hatta

Bekas Jembatan Tampak Samping

            Bekas jalur kereta di dalam Kota Kendal memang sudah terkubur oleh aspal jalan raya. Jembatan tersebutlah yang menjadi salah satu bukti bahwa di dalam Kota Kendal pernah dilalui jalur kereta api. Mungkin jika jalur tersebut masih hidup, kondisinya akan sama seperti jalur kereta yang ada di Solo. Jika dilihat dari kondisi fisik jembatan kondisinya masih kokoh dan kuat. Mungkin dahulu pemerintah setempat sengaja mempertahankan jembatan tersebut sebagai tanda bahwa di dalam Kota Kendal pernah dilalui kereta api.
Perjalanan saya lanjutkan menuju Alun-Alun Kota Kendal untuk melacak keberadaan Halte Kendal Alun-Alun. Setibanya di alun-alun, saya tidak menemukan petunjuk apapun. Saya hanya bisa memperkirakan bahwa disekitar alun-alun itulah dulunya pernah berdiri Halte Kendal Alun-Alun. Hal ini mirip dengan Kota Magelang yang juga memiliki stasiun atau halte yang berada di alun-alun kota namun keberadaannya juga sama-sama telah hilang tak berbekas.
Banyaknya bekas jalur kereta api yang hilang di Kota Kendal menurut saya diakibatkan karena pembangunan kota yang terus berkembang. Kendal merupakan salah satu kabupaten yang memiliki posisi strategis karena lokasinya yang tepat berada di jalur pantai utara (pantura). Pembangunan infrastruktur seperti jalan raya telah mengubur bekas jalur kereta peninggalan SCS tersebut.

Perkiraan Lokasi Halte Kendal Alun-Alun

Berlanjut meninggalkan Alun-Alun Kota Kendal saya segera tancap gas menuju Stasiun Kendal. Tidak lah sulit bagi saya untuk menemukan Stasiun Kendal karena lokasinya yang tepat berada disamping jalan raya. Lokasi Stasiun Kendal tepatnya berada di jalan Brigjen Sudiarto Kelurahan Langenharjo. Posisinya berada di kanan jalan dengan papan nama identitas stasiun yang cukup besar. Diseberang jalan saya juga masih bisa menjumpai rumah dinas kepala stasiun yang kosong tak berpenghuni.
Jika dilihat dari kondisi bangunannya, Stasiun Kendal masih nampak terawat dengan balutan cat warna putih bersih. Bekas relpun masih bisa kita temukan di emplasemen stasiun. Saya memperkirakan bahwa disana dulu terdapat tiga jalur kereta. Disamping bangunan stasiun saya juga masih bisa menemukan bekas water toren atau menara air yang dahulu digunakan untuk menampung air untuk mengisi loko-loko uap. Kini Stasiun  Kendal dimanfaatkan sebagai rest area dan terminal pemberhentian truk-truk bermuatan besar.

Bekas Bangunan Stasiun Kendal

Stasiun Kendal Tempo Dulu
Sumber: kitlv.nl

Emplasemen Stasiun Kendal

Bekas Menara Air Stasiun Kendal

Rumah Dinas Kepala Stasiun Kendal

Beranjak meninggalkan Stasiun Kendal, perjalanan saya lanjutkan menuju daerah Petebon. Sepanjang perjalanan dari Stasiun Kendal menuju Patebon saya tidak menjumpai bekas rel kereta yang masih terlihat. Memasuki daerah Patebon tepatnya di pertigaan lampu merah sebelum PG Cepiring, saya menjumpai bekas rel yang melintas di depan rumah warga tertimbun aspal setebal 20 cm mengarah menuju Pegadon. Asumsi awal saya mungkin benar, bahwa rel dalam Kota Kendal sebenarnya masih ada namun telah tertimbun oleh tebalnya aspal jalan raya.
            Perjalanan saya akhirnya tiba di daerah Pegadon. Sesuai dengan prediksi saya sebelumnya, disini banyak sekali bekas rel yang masih utuh yang bisa saya jumpai seperti halnya dengan bekas rel yang ada di Kaliwungu. Mungkin karena ketebalan aspal di Pegadon tidak setebal aspal dalam Kota Kendal dan lebar jalan raya yang tidak begitu lebar mengakibatkan bekas rel masih bisa saya temui.
            Ada hal menarik yang saya temui di perbatasan Pegadon dengan Patebon. Saya menemukan sebuah persimpangan antara jalur kereta api dengan jalur decauville milik PG Cepiring. Selain itu saya juga menemukan sebuah percabangan jalur kereta yang menurut hipotesis saya percabangan tersebut menuju kearah PG Cepiring yang dulu digunakan sebagai jalur angkutan tetes tebu. Didaerah Pegadon posisi rel berada disebelah kiri jalan jika kita dari arah Kota Kendal. Posisi rel mirip sekali dengan jalur mati yang ada di daerah Wirosari menuju Blora.

Persimpangan Jalur Kereta dengan Decauville PG Cepiring

Bekas Jalur Angkutan Tetes Tebu PG Cepiring

Disana saya juga sempat mencari jejak dari jalur lori atau decauville milik PG Cepiring. Jika dibandingkan dengan kondisi bekas rel kereta, bekas jalur lori sudah jarang bisa di temui. Jalur lori tersebut mengarah ke perkebunan yang ada disekitar kawasan tersebut. Mungkin pada zaman dulu area tersebut memang kawasan perkebunan tebu milik PG Cepiring. Kini bekas decauville telah berubah menjadi gang dan jalan kampung serta jalan setapak menuju sawah.

Bekas Jalur Kereta Menuju Pasar Pegadon

Perjalanan saya lanjutkan menuju Pasar Pegadon. Sebenarnya sebelum sampai di Pasar Pegadon saya sempat beberapa kali tersesat karena minimnya papan penunjuk jalan. Akhirnya tiba juga saya di Pasar Pegadon. Saya berjalan pelan untuk mencari bangunan bekas Halte Pegadon, dimana sesuai dengan pengalaman saya bangunan stasiun biasanya terletak di dekat pasar. Banyak sekali bangunan tua berarsitektur Belanda dan Tionghoa yang ada disekitar pasar. Akan tetapi tak satupun bangunan yang saya jumpai yang mirip dengan bangunan stasiun ataupun halte. Bahkan papan milik PT. KAI pun juga tak saya jumpai. Yang saya jumpai hanyalah bekas rel kereta yang masih utuh berdiri memanjang di samping pasar. Asumsi saya mungkin bangunan stasiun atau halte sudah dibongkar seiring dengan pembangunan dan perkembangan pasar.

Bekas Rel di Sekitar Pasar Pegadon

Bekas Jalur Kereta Tertutup Semak Menuju Stasiun Kalibodri

Perpotongan Jalur Menuju Stasiun Kalibodri

Kurang lebih dua kilometer meninggalkan Pasar Pegadon, saya menemukan bekas rel yang memotong jalan raya. Sayapun mencoba mengikuti bekas jalur tersebut yang melintas di pekarangan belakang rumah warga. Kondisi jalur keretapun sudah rusak dan banyak tertutup oleh semak belukar. Ternyata jalur yang saya ikuti tersebut menuntun saya ke Stasiun Kalibodri. Disana saya masih bisa menjumpai titik percabangan rel menuju ke Kendal meskipun bekas rel di area stasiun sudah tertimbun dengan tanah.
Kurang lebih pukul setengah dua belas siang perjalanan saya berakhir di Stasiun Kalibodri. Masih banyak sekali informasi-informasi penting yang belum bisa saya dapatkan selama perjalan blusukan saya kali ini. Mungkin lain kali saya bisa blusukan di petak ini lagi untuk mengungkap hal-hal penting mengenai sejarah jalur mati dalam Kota Kendal.

Perkiraan Percabangan Jalur Menuju Kendal

Stasiun Kalibodri

Beranjak meninggalkan Stasiun Kalibodri perjalanan saya lanjutkan menuju Kota Semarang untuk mencari jejak stasiun pertama di Indonesia. Blusukan saya mencari jejak stasiun pertama di Indonesia akan saya bahas dalam tulisan saya di judul yang berbeda. 

________________
Artikel ini dikembangkan oleh: blusukanpabrikgula.blogspot.com
________________

PRIMA UTAMA / 2015 / WA: 085725571790 / MAIL, FB: primautama@ymail.com / INSTA: @primautama     















Selasa, 17 Maret 2015

RAIL BUS BATARA KRESNA SOLO - WONOGIRI

RAIL BUS BATARA KRESNA: “SPIRIT OF
SOLO – WONOGIRI”


            Setelah beberapa kali tertunda, akhirnya Rail Bus Batara Kresna secara resmi diluncurkan oleh pemerintah. Informasi ini saya peroleh secara tidak sengaja melalui radio yang mengumumkan bahwa rail bus akan diluncurkan pada hari Rabu tanggal 11 Maret 2015 oleh PT. KAI dan Pemerintah Kota Surakarta yang akan diresmikan oleh Menteri Perhubungan. Tentu informasi ini merupakan kabar gembira bagi saya, bukan karena keretanya atau adanya moda transportasi baru di Kota Solo, akan tetapi saya lebih senang karena jalur Solo - Wonogiri yang sempat mati kurang lebih selama  empat tahun akhirnya bisa berfungsi lagi. Sayang memang jika jalur yang dibangun pada tahun 1922 sepanjang 37 kilometer itu bila harus mangkrak tak berfungsi.
            Rabu tanggal 11 Maret 2015, saya mencoba meluangkan waktu untuk melihat acara peluncuran rail bus di Stasiun Solo Kota (Sangkrah), karena menurut informasi yang saya peroleh Menteri Perhubungan beserta rombongan dari PT. KAI dan Pemkot Solo akan melakukan perjalanan menggunakan rail bus dari Stasiun Purwosari hingga Stasiun Solo Kota. Kurang lebih pukul setengah sembilan pagi saya tiba di Stasiun Solo Kota atau yang akrab disebut Stasiun Sangkrah tersebut. Saya terkejut, ternyata banyak sekali masyarakat yang menungu kedatangan rombongan Menteri dengan menggunakan rail bus. Meskipun di dominasi oleh warga sekitar, tetapi saya juga menjumpai beberapa wartawan dan beberapa komunitas seperti RF (Rail Fans), Komunitas Ora Edan Sepur, Komunitas Edan Sepur, dan lainnya.
            Kurang lebih pukul sembilan pagi, dari arah utara Rail Bus Batara Kresna mulai terlihat. Suasana Stasiun Sangkrah menjadi riuh dengan antusias warga yang sejak pagi sudah menunggu kedatangan rail bus beserta rombongan. Sangat berbeda memang suasana stasiun kala itu yang biasanya sepi tak berpenghuni. Akhirnya Rail Bus Batara Kresna, salah satu moda transportasi kebanggaan Kota Solo berlabuh di Stasiun Solo Kota. Warga mulai berjubel mendekati kereta untuk berfoto dan bertemu dengan Menteri Perhubungan dan Walikota Solo.
            Di Stasiun Solo Kota, Menteri Perhubungan beserta rombongan meninjau kelengkapan stasiun dan peralatan pendukung perjalanan kereta api. Sebenarnya waktu itu saya ingin naik rail bus yang akan melanjutkan perjalanan ke Wonogiri, akan tetapi perjalanan waktu itu hanya dikhususkan untuk para tamu undangan saja. Apalah daya saya yang bukan siapa-siapa, niat itupun terpaksa saya urungkan.

            Mengusir rasa kecewa saya yang gagal naik rail bus, sayapun berjalan menengok isi Stasiun Sangkrah. Tampak berbeda memang kondisi stasiun saat itu. Kondisinya sangat bersih, ruang tunggu penumpang sudah tertata rapi, loket penjualan karcispun sudah diisi oleh pelayan penjual tiket yang cantik-cantik. Ikut nimbrung bersama masyarakat di depan loket karcis, sayapun mendapatkan informasi yang sangat menggembirakan, yaitu dalam rangka promosi selama dua hari kedepan tiket rail bus akan digratiskan. Sebagai masyarakat penggemar gratisan sayapun sangat antusias mendengar kabar ini. Saya berencana akan mencoba rail bus secara cuma-cuma esok hari. 

Rail Bus Memasuki Jalan Slamet Riyadi Solo

Rail Bus Tiba di Stasiun Solo Kota

Rombongan Turun dari Rail Bus

Rail Bus Melanjutkan Perjalanan Menuju Wonogiri

Ruang Tunggu Stasiun Solo Kota

Antusias Warga Menanyakan Jadwal Operasional Rail Bus

Berlanjut di hari berikutnya, tepatnya pada hari Kamis tanggal 12 Maret 2015 saya berniat mencoba Rail Bus Batara Kresna secara gratis di Stasiun Purwosari. Berangkat dari kos kurang lebih pukul lima pagi, saya memilih perjalanan jam pertama dengan asumsi setibanya di Wonogiri nanti saya bisa langsung membeli tiket pulang ke Solo karena perjalanan rail bus dalam sehari hanya melayani dua kali perjalanan. Kurang lebih pukul setengah enam pagi saya tiba di Stasiun Purwosari. Saya langsung menuju loket penjualan tiket untuk mendapatkan tiket secara cuma-cuma. Benar saja, saya tidak dipungut uang sepeserpun, bahkan di tiket tertulis harga IDR 0,-.
            Di Stasiun Purwosari ternyata tidak hanya saya saja yang memanfaatkan momen gratisan ini, saya melihat beberapa masyarakat dan beberapa kakek nenek beserta cucu-cucunya ikut mencoba moda transportasi baru Kota Solo ini. Selepas mendapatkan tiket, saya langsung masuk ke dalam kabin rail bus. Ini pertama kali bagi saya naik railbus. Sangat nyaman sekali berada di kabin rail bus. Udara yang dingin, kursi yang tertata rapi dan empuk, handle untuk penumpang berdiri yang tertata rapi, lantai yang bersih membuat penumpang betah dan nyaman berada didalam. Bahkan didalam kabinpun ada papan elektronik yang menginformasikan stasiun pemberhentian dan kecepatan rail bus.


Penumpang Menunggu Keberangkatan Perdana Rail Bus

Tiket Komersil Perdana Rail Bus

Interior Rail Bus

Peta Perjalanan Rail Bus

Tepat pukul enam pagi rail bus mulai berjalan perlahan meninggalkan Stasiun Purwosari. Wajah para penumpang tampak gembira tak sabar ingin menikmati perjalanan ke Wonogiri selama kurang lebih dua jam kedepan. Beberapa saat rail bus mulai membelah Kota Solo tepatnya di Jalan Slamet Riyadi. Perlu diketahui Solo adalah satu-satunya kota di Indonesia yang masih memiliki jalur kereta api aktif yang berdampingan dengan jalan raya.
Saat melintas di Jalan Slamet Riyadi, banyak masyarakat yang kagum dengan kehadiran rail bus, mungkin mereka tidak mengira bahwa perjalanan pagi itu adalah perjalanan komersil perdana Rail Bus Batara Kresna. Banyak masyarakat yang mengabadikan momen tersebut melalui kamera ponsel mereka, bahkan ada juga yang melambaikan tangan mereka. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Barisan gedung-gedung disepanjang Slamet Riyadi pun tampak indah disaksikan dari dalam rail bus.

Rail Bus Berhenti di Stasiun Solo Kota

Selama melintasi Jalan Slamet Riyadi, kecepatan rail bus dibatasi yakni berkisar 15-20 kilometer perjam. Hal ini dikarenakan banyaknya traffic light dan ramainya kendaraan yang melintas di Slamet Riyadi. Tak henti-hentinya masinis juga rutin membunyikan klakson sebagai peringatan bagi masyarakat. Tak terasa perjalanan saya menggunakan rail bus tiba di Stasiun Solo Kota. Disana ternyata  sudah banyak para penumpang yang juga ingin ikut menjajal rail bus.
Dari stasiun Solo Kota, perjalanan dilanjutkan menuju Stasiun Sukoharjo. Selama perjalanan menuju Sukoharjo ada hal menarik yang saya temui, yaitu posisi rel yang sudah mepet dengan pemukiman warga. Hal tersebut mungkin karena jalur ini sudah lama tidak terpakai sehingga masyarakat mendirikan bangunan terlalu dekat dengan jalur kereta. Tentu saja hal ini sangat membahayakan, baik bagi masyarakat maupun bagi perjalanan kereta api. Selain itu disepanjang jalur menuju Sukoharjo banyak sekali perlintasan yang tidak dijaga oleh petugas. Hal ini lah yang memaksa rail bus untuk berjalan perlahan. Kecepatan rail bus saat itu hanya berkisar 20-30 kilometer perjam.

Rail Bus Berhenti di Sukoharjo

Sambil menikmati pemandangan dari jendela, beberapa kali saya melihat masyarakat dengan usia yang bisa dikatakan sudah tua sangat hening menyaksikan perjalanan kami menggunakan rail bus. Tak jarang mereka juga melambaikan tangan kepada kami. Saya hanya berasumsi, mungkin mereka teringat akan kenangan puluhan tahun lalu saat “sepur klutuk” yang melayani perjalanan dari Solo hingga Baturetno masih aktif meramaikan jalur ini.
            Tak terasa perjalanan kami sudah tiba di Sukoharjo. Posisi rel hampir berdekatan dengan jalan utama di Sukoharjo. Setiba di Stasiun banyak masyarakat yang menyambut kedatangan kami. Sangat riuh suasana stasiun kala itu.
Berlanjut meninggalkan Stasiun Sukoharjo, perjalanan kami lanjutkan menuju Stasiun Pasar Nguter yang masih terletak di Kabupaten Sukoharjo. Sebenarnya ada beberapa halte pemberhentian kereta yang kami lewati sepanjang perjalanan ini, diantaranya adalah: Halte Kronelan, Halte Kalisamin, Halte Kepuh, dan Halte Tekaran. Akan tetapi semua halte tersebut sekarang sudah tidak digunakan dan kita masih bisa menyaksikan sisa-sisa bangunannya yang berdiri disamping jalur kereta menuju Wonogiri. Tak terasa perjalanan kamipun tiba di Stasiun Pasar Nguter.

Kepala Stasiun Pasar Nguter Melepas Perjalanan Rail Bus

Selepas dari Stasiun Pasar Nguter, perjalanan kami lanjutkan menuju stasiun terakhir yaitu Stasiun Wonogiri. Memasuki wilayah Wonogiri kami disambut dengan pemandangan bukit-bukit yang berjajar berwarna hijau. Sangat indah sekali pemandangannya. Hamparan hutan yang luaspun juga menyambut kedatangan kami. Sejenak saya teringat dengan jalur kereta non aktif Ponorogo - Slahung yang sempat saya datangi beberapa waktu lalu. Mungkin jika jalur tersebut masih aktif, keindahannya akan seperti jalur ini. Akan tetapi sayang jalur tersebut sudah mangkrak puluhan tahun silam. Akhirnya perjalanan saya tiba juga di Stasiun Wonogiri. Sayapun bersiap-siap turun untuk membeli tiket pulang kembali ke Solo.
Sesampainya di Stasiun Wonogiri saya sangat terkejut, ternyata dari Stasiun Wonogiri sudah banyak sekali penumpang yang hendak menjajal rail bus. Yang membuat saya semakin terkejut adalah ternyata tiket rail bus menuju ke Solo untuk perjalanan jam delapan sudah sold out alias habis terjual. Hal ini tentu diluar dugaan saya. Terpaksa saya harus menunggu keberangkatan rail bus kedua yakni pada jam dua belas siang. Itu artinya saya harus menunggu selama empat jam di Stasiun Wonogiri. Sungguh diluar rencana saya.

Pemandangan di Wonogiri dari Atas Rail Bus

Rail Bus Tiba di Stasiun Wonogiri

Rail Bus Bersiap Melanjutkan Perjalanan Menuju Solo

Sambil menunggu penjualan tiket perjalanan kedua yang rencananya akan dilayani pada pukul sembilan pagi, saya menyempatkan diri untuk mencari sarapan disekitar stasiun. Selesai sarapan saya mencoba menyusuri rel di sekitar area stasiun. Saya kembali teringat akan blusukan saya di stasiun ini tahun lalu saat menelusuri jalur menuju Baturetno. Sebenarnya sangat sayang jika jalur menuju Baturetno harus dimatikan, karena disepanjang jalur tersebut memiliki panorama yang sangat indah dan memiliki potensi ekonomi dan wisata.
Pukul Sembilan saya mulai mengantri di loket untuk mendapatkan tiket pulang ke Solo. Ternyata membeli tiket rail bus di Stasiun  Wonogiri tidak semudah yang saya alami ketika membeli tiket di Stasiun Purwosari tadi pagi. Sejatinya penjualan tiket bisa dilayani minimal tiga jam sebelum keberangkatan, akan tetapi pada kenyataannya pembelian tiket baru bisa dilayani pada pukul 09.45, itu artinya saya harus berdiri mengantri selama 45 menit demi selembar tiket pulang. Sungguh sebuah perjuangan yang berat bagi kaum gratisan seperti saya. Saya kurang tahu kenapa pelayanan penjualan tiket terlambat selama 45 menit, apakah karena ganguan sistem atau karena human error saya kurang tahu jelas karena petugas loketpun tidak memberitahukannya kepada para calon penumpang.
Penderitaan kami sebagai “penumpang gratisan” semakin bertambah tatkala tempat penjualan tiket di Stasiun Wonogiri tidak senyaman di stasiun-stasiun yang lain. Posisi loket berada di bagian depan stasiun yang juga tepat berada dipinggir jalan. Ditambah lagi cuaca yang sangat terik kala itu membuat kami harus rela bermandikan keringat. Yang lebih parah lagi kami para pengantri tiket menjadi tontonan warga sekitar yang kebetulan lewat didepan stasiun. Antrian yang panjang dan berjubel merupakan pemandangan yang tidak biasa bagi masyarakat sekitar. Mungkin karena stasiun ini sudah lama mati sehingga jarang pemandangan seperti itu ditemui.
Akhirnya perjuangan saya berakhir tatkala tiket pulang sudah berada dalam genggaman. Lega rasanya bisa kebagian tiket pulang, karena banyak rekan-rekan saya yang dari Solo tidak kebagian tiket pulang yang memaksa mereka untuk pulang menggunakan bus. Saya banyak menemukan kejanggalan saat mengantri tiket di stasiun ini. Kebetulan saat itu ada tiga turis asing yang juga mengantri tiket kembali ke Solo, akan tetapi tanpa melalui proses antri yang lama mereka bisa memperoleh tiket lebih dulu. Tentu ini sangat tidak adil bagi kami yang mengantri lama dan melelahkan.
Kejengkelan saya semakin bertambah, tatkala ada seorang laki-laki paruh baya dengan mengenakan seragam Dishub masuk ke bagian dalam penjualan tiket dan saat beliau keluar saya melihat beberapa lembar tiket sudah berada dalam genggamannya. Apakah ini yang namanya pelayanan professional?, tanya saya dalam hati. Mungkin oknum-oknum seerti itulah yang membuat negara dan perkeretaapian kita tidak berkembang dan kalah jauh dari negara-negara lain. Sungguh sangat ironis, mengingat kita adalah negara ke dua di Asia yang memiliki kereta api. Hal ini cukup menjadi pelajaran penting bagi saya.

Antrian Calon Penumpang di Stasiun Wonogiri

Kurang lebih pukul dua belas siang akhirnya rail bus yang akan mengantar saya pulang kembali ke Solo tiba di Stasiun Wonogiri. Semakin siang suasana Stasiun Wonogiri semakin bertambah padat dengan banyaknya masyarakat yang ingin menyaksikan kedatangan rail bus. Tepat lima belas menit dari pukul dua belas, rail bus berjalan meninggalkan Wonogiri. Akhirnya saya bisa beristirahat kembali di dalam rail bus. Kurang lebih pukul dua siang saya tiba di Stasiun Purwosari dan ini lah perjalanan saya mencoba rail Bus Batara Kresna. Saya berharap di lain hari memiliki kesempatan untuk mencoba rail bus kembali dengan pelayanan yang lebih baik tentunya.

Kepala Stasiun Wonogiri Menyambut Kedatangan Rail Bus

Rail Bus Siap Berangkat Menuju Solo

Saat Rail Bus Berdampingan dengan Jaladara


 __________________
Artikel ini dikembangkan oleh: blusukanpabrikgula.blogspot.com
__________________
PRIMA UTAMA / 2015 / WA: 085725571790 / MAIL, FB: primautama@ymail.com / INSTA: @primautama