Rabu, 06 September 2017

JEJAK JALUR KERETA API MADIUN - PONOROGO BAGIAN 3


Meninggalkan Jetis, perjalanan segera saya lanjutkan menuju Balong. Disepanjang perjalanan menuju Balong bekas jalur kereta masih banyak terlihat dan bahkan masih bisa dikatakan utuh. Disini posisi jalur kereta tepat berdampingan dengan jalan raya. Pemandangan dijalur ini bisa dikatakan indah. Pemandangan ladang persawahan serta gunung menghiasi perjalanan saya menuju Balong.

            Tibalah saya di Stasiun Balong. Posisi stasiun ini tidak jauh beda dengan Stasiun Jetis yang berada disamping jalan raya. Kondisi bangunan Stasiun Balong masih bisa dikatakan bagus. Saat ini bangunan dimanfaatkan untuk toko sembako. Stasiun ini dahulu memiliki dua jalur sepur yang hingga kini masih bisa dilihat dibagian emplasemen stasiun. Dari Stasiun Balong, jalur kereta memotong jalan raya menuju Stasiun Slahung sebagai pemberhentian terakhir dipetak jalur Madiun – Ponorogo.

Peta Lokasi Halte Balong
Sumber: kitlv.nl

Pemandangan Menuju Balong



Bekas Jalur Kereta Menuju Balong


Bekas Jalur Kereta di Emplasemen Stasiun Balong



Bangunan Stasiun Balong




Bekas Jalur Kereta dari Stasiun Balong (Atas) Meuju Slahung (Bawah)



            Hari semakin terik perjalanan segera saya lanjutkan menuju lokasi stasiun terakhir yakni Stasiun Slahung. Jarak dari Balong menuju Slahung bias dikatakan cukup jauh. Akan tetapi dipetak ini lagi-lagi saya disuguhi pemandangan indah yang memanjakan mata. Suasana jalan rayapun juga tidak begitu ramai.

            Dipetak Balong – Slahung, bekas jalur kereta api tidak tepat berada disamping jalan raya. Akan tetapi sedikit agak menjauh. Posisinya berada disebelah kiri jalan. Meskipun bekas rel sudah banyak yang hilang, namun kita masih bisa menyaksikan gundukan tanah bekas jalur kereta yang memanjang berdampingan dengan jalan raya.
            Sebelum memasuki Halte Slahung posisi rel berpindah kesebelah kanan jalan. Bahkan dititik persilangan tersebut masih bias dijumpai bekas rel dan pondasi jembatan. Tak lama kemudian tibalah saya di Pasar Slahung. Lokasi stasiun berada persis dibelakang pasar tersebut. Kondisi Stasiun Slahung masih sama seperti saat saya berkunjung ke tempat ini dua tahun yang lalu. Bangunan stasiun masih terlihat kokoh berdiri meskipun sudah lama tak terpakai. Jika dibandingkan dengan ukuran bangunan Stasiun Jetis dan Stasiun Balong, Stasiun Slahung masih kalah besar.
            Stasiun Slahung juga dilengkapi fasilitas rumah dinas bagi para pegawainya yang hingga kini masih ditempati dan masih terawat dengan baik. Dibagian emplasemen stasiun sudah tidak bisa dijumpai bekas besi rel sama sekali. Kini bangunan stasiun dimanfaatkan oleh warga sebagai gudang penyimpanan jahe.

Lokasi Stopplast Banggel dan Brata Sebelum Halte Slahung
Sumber: kitlv.nl

Lokasi Halte Slahung
Sumber: kitlv.nl
Jalur Kereta Menuju Slahung


Bekas Railban Menuju Slahung


Perkiraan Lokasi Halte Brata
Bekas Pondasi Jembatan di Slahung

Bekas Railban Menjadi Hutan (Kanan)



Stasiun Slahung


Kereta Menuju Slahung
Sumber: Rob Dickinson
Stasiun Slahung Saat Masih Aktif
Sumber: Rob Dickinson


Dengan tibanya saya di Slahung, maka selesai sudah perjalanan saya menelusuri bekas jalur kereta Madiun – Slahung Ponorogo. Banyak pelajaran penting yang bisa diambil selama penelusuran kali ini. Semoga suatu saat jalur yang sudah 30 tahun lebih mati tersebut bias dihidupkan lagi. Semoga.






Perjalanan Kereta di Ponorogo
Sumber: Rob Dickinson

PENELUSURAN TERDAHULU:JALUR MADIUN - PONOROGO



PRIMA UTAMA / 2017 / EMAIL: primautama@ymail.com / WA : 085725571790 / INSTAGRAM: @primautama  














Selasa, 05 September 2017

JEJAK JALUR KERETA MADIUN - PONOROGO BAGIAN 2



Bekas Pondasi Jembatan Kereta Menuju Pagotan

Bekas Jalur Kereta Menuju Pagotan



Bekas Jalur Kereta Diabadikan Menjadi Nama Jalan Stasiun


Halte Pagotan Saat Masih Aktif
Sumber: Foto James Waite




Bangunan Halte Pagotan





Pabrik Gula Pagotan 

Menyinggung sejarah Pabrik Gula Pagotan, pabrik yang didirikan pada tahun 1884 oleh NV CODY COSTEREN VAN VOORHOUT tersebut telah banyak mengalami peristiwa sejarah penting. Hingga tahun 1941 pabrik ini masih aktif memproduksi gula untuk kepentingan ekspor. Akan tetapi semenjak pendudukan Jepang pada tahun 1942, banyak rakyat yang melakukan penjarahan terhadap barang-barang pabrik yang mengakibatkan kerusakan berat. Akan tetapi Jepang mampu mengubah kondisi tersebut dan menjadikan PG Pagotan menjadi pabrik semen yang berbahan gips yang diperoleh dari daerah Slahung Ponorogo.
Saat masa revolusi fisik antara tahun 1945 – 1948, PG Pagotan berhasil diambil alih oleh rakyat Indonesia dan menjadikannya sebagai pabrik pembuat granat tangan dan markas tentara Indonesia. Pada masa Agresi Militer Belanda tahun 1949, Belanda kembali berhasil menguasai bangunan pabrik dan menjadikannya sebagai markas.
Selesainya masa perang PG Pagotan mulai berbenah. NV CODY COSTTERN VAN VOORHOUT  selaku pendiri PG Pagotan mulai melakukan perbaikan besar-besaran. Akhirnya pada tahun 1953 PG Pagotan berhasil melakukan giling pertamanya setelah perang.
PG Pagotan merupakan salah satu pabrik gula yang masih mengoperasikan lokomotif uap untuk menarik rangkaian lori tebu di emplasemen pabriknya. Hal ini tentu saja menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat sekitar terutama anak-anak dimana lokomotif uap khususnya narrow gauge sudah sangat sulit dijumpai karena perannya telah tergantikan oleh truk.

Salah Satu Lokomotif Uap PG Pagotan


Masyarakat Menunggu Lokomotif Uap PG Pagotan





Aktivitas Kereta Tebu di PG Pagotan
Sumber: Rob Dickinson

            Meninggalkan  PG Pagotan, perjalanan saya lanjutkan menuju Ponorogo. Dari Pagotan posisi rel berada di sebelah kiri jalan. Akan tetapi didaerah Dolopo posisi rel menyeberang kekanan jalan dan kemudian berpindah lagi kekiri jalan raya. Di petak Pagotan – Ponorogo masih banyak dijumpai bekas besi rel kereta api. Bahkan bekas pondasi-pondasi jembatan keretapun masih banyak yang tersisa. Dipetak ini juga posisi rel agak lebih tinggi dari jalan raya. Di Dolopo selain terdapat bekas jalur kereta api, saya juga banyak menjumpai bekas jalur kereta tebu milik PG Pagotan. Posisinya berada disebelah kanan jalan. Bisa dibayangkan pada zaman dahulu saat jalan raya Pagotan – Ponorogo diapit oleh dua jalur sepur, pasti sungguh sangat ramai dan indah.





Bekas Pondasi Jembatan dan Rel di Petak Pagotan – Ponorogo

Bekas Jembatan Lori PG Pagotan


Lokomotif B5012 Bersisian dengan Lokomotif PG Pagotan
Sumber: Rob Dickinson


Kereta Api di Dolopo Menuju Ponororo
Sumber: Rob Dickinson

Tiba juga saya di Kota Ponorogo. Sayapun langsung bergegas menuju lokasi Stasiun Ponorogo.  Karena ini blusukan saya yang kedua di petak Ponorogo, maka tak butuh waktu lama untuk menemukan lokasi Stasiun Ponorogo.
            Stasiun Ponorogo terletak di Jalan Soekarno Hatta. Memang bangunan stasiun sudah hilang tak berbekas, akan tetapi disekitar bekas lokasi Stasiun Ponorogo masih bisa dijumpai beberapa peninggalan yakni: Rumah dinas pegawai stasiun, sinyal masuk stasiun, turn table, dan beberapa bekas rel yang berada di bekas emplasemen stasiun.
            Kini bekas lokasi Stasiun Ponorogo telah berubah fungsi menjadi komplek pertokoan. Sementara bekas emplasemennya telah berubah menjadi perumahan penduduk dan lapangan. Bahkan bekas turn table pun juga sudah hampir terkubur oleh tanah. Dari Stasiun Ponorogo inilah jalur kereta bercabang menuju Sumoroto dan Slahung. Perjalanan berikutnya saya lanjutkan menuju ke Slahung.
Peta Jalur Kereta di Ponorogo
Sumber: kitlv.nl

Jalur Kereta Menuju Sumoroto dan Percabangan ke Kepung

Sumber: kitlv.nl
 

Lokasi Halte Seban dan Ujung Jalur Ponorogo – Badegan
Sumber: kitlv.nl

Bekas Rumah Dinas Pegawai Stasiun Ponorogo


Bekas Jalur Kereta Masuk Menuju Stasiun Ponorogo 

Bekas Emplasemen Stasiun Ponorogo



Bekas Jalur Kereta Menuju Stasiun Ponorogo


Bekas Sinyal Masuk Stasiun Ponorogo


Kereta Api di Stasiun Ponorogo
Sumber: Rob Dickinson

Dari Stasiun Ponorogo perjalanan saya lanjutkan menuju Stasiun Jetis. Selama perjalanan menuju Jetis bekas jalur kereta yang berada di dalam Kota Ponorogo sudah sulit untuk dilacak karena telah tertutup oleh aspal jalan raya. Namun mendekati wilayah Jetis, bekas jalur kereta masih banyak yang bisa dilihat. Sebelum Halte Jetis sebenarnya terdapat beberapa pemberhentian kereta, akan tetapi semua bangunannya telah hilang tak berbekas.
            Stasiun Jetis terletak di Jetis Ponorogo. Stasiun ini dahulunya memiliki dua jalur sepur. Dibagian depan bangunan stasiun juga terdapat beberapa rumah dinas pegawai stasiun yang masih ditempati dan terawat dengan baik. Meskipun bangunan stasiun tertutup, namun bisa dikatakan bangunan Stasiun Jetis masih terawat dengan baik. Dibagian emplasemen stasiun masih bisa dilihat dua bekas jalur kereta api. Kini dibagian belakang stasiun dimanfaatkan sebagai pasar.



Bekas Jalur Kereta Menuju Jetis


Jalur Kereta Masuk ke Stasiun Jetis
 

Bekas Bangunan Stasiun Jetis

Rumah Dinas Pegawai Stasiun Jetis



Bekas Emplasemen Stasiun Jetis

Bekas Pondasi Jembatan Disekitar Stasiun Jetis

        BERSAMBUNG (SYSTEM ERROR)

BAGIAN 1: JALUR KERETA MADIUN - PONOROGO BAGIAN 1
BAGIAN 3: JALUR MADIUN PONOROGO BAGIAN 3

PENELUSURAN 2015: JALUR KERETA MADIUN - PONOROGO

PRIMA UTAMA / 2017 / EMAIL: primautama@ymail.com / WA : 085725571790 / IG: @primautama