Senin, 23 Oktober 2017

BLUSUKAN STASIUN BARAT - LANUD ISWAHYUDI



Blusukan ke “Barat” Magetan (Part 1)

            Pagi itu suasana begitu santai. Tuntutan pekerjaan juga belum terlalu banyak. Mungkin tepat rasanya kalau pagi itu diisi dengan blusukan sebentar sebelum berangkat kerja. Kali ini jalur mati antara Bandara Iswahyudi dan Stasiun Barat menjadi lokasi hunting saya. Maklum selain rutenya yang pendek, lokasinya juga tidak begitu jauh dari tempat kos saya.
            Pagi itu jalan raya begitu ramai. Lalu lalang kendaraan begitu padat merayap. Sambil berjalan pelan, motor saya gas menuju Stasiun Barat yang berada di wilayah Kabupaten Magetan. Tak beda jauh ternyata, jalan menuju lokasi stasiun yang agak sedikit terpencil ternyata juga ramai oleh lalu lalang kendaraan manusia menuju tempat kerjanya.
            Tibalah saya di Stasiun Barat Magetan. Stasiun tersebut tampak sepi, berbeda dengan suasana yang saya jumpai tiga tahun silam. Seingat saya masih ada beberapa kereta yang berhenti di stasiun ini seperti Sritanjung. Mungkin karena waktu itu masih pagi, jadi belum tampak aktivitas petugas stasiun dan para penumpang.
            Stasiun Barat bukanlah stasiun yang besar seperti Stasiun Madiun. Stasiun ini hanya memiliki bangunan yang kecil dengan satu buah gudang disebelah timurnya dan rumah dinas bagi kepala stasiunnya. Akan tetapi jika kita menengok sejarah kebelakang, stasiun ini memiliki peran yang penting dimasa lalu. Melalui foto sejarah yang pernah saya lihat, Stasiun Barat merupakan stasiun yang sibuk pada masanya. Stasiun ini dulunya juga terhubung dengan jalur pabrik gula diwilayah Magetan seperti PG Purwodadi dan PG Rejo Sari. Selain itu stasiun ini juga terhubung langsung dengan Bandara Iswahyudi Magetan untuk keperluan muatan bahan bakar pesawat.
            Jika kita berjalan kesisi timur Stasiun Barat, kita akan menjumpai beberapa bangunan mirip peron stasiun yang dulu digunakan untuk menunjang aktivitas di Stasiun Barat. Pada blusukan saya kali ini saya akan menelusuri jejak jalur kereta yang menghubungkan Stasiun Barat dengan Landasan Udara (Lanud) Iswahyudi.
            Lanud Iswahyudi dahulu bernama Pangkalan Udara Maospati dan terletak di jalan Maospati - Madiun. Menurut referensi yang pernah saya baca, pangkalan udara tersebut dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1939. Pembangunan pangkalan udara tersebut mungkin dimaksudkan untuk memperkuat kedudukan Belanda di Indonesia.
            Pembangunan Pangkalan Udara Iswahyudi juga dilengkapi dengan jalur kereta untuk mensuplai kebutuhan bahan bakar pesawat. Hal ini bukanlah hal yang aneh ditemui pada bandara-bandara yang dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda. Sebagai contoh Bandara Udara Abdul Rahman Shaleh Malang, Bandara Adi Sucipto Yogyakarta, dan Bandara Ahmad Yani Semarang yang semuanya terhubung dengan jalur kereta.
            Penelusuran saya kali ini saya awali di Stasiun Barat Maospati. Dari sinilah saya mulai menelusuri bekas jalur rel yang masih tersisa. Tepat disebelah selatan stasiun, masih terdapat sisa rel percabangan masuk kedalam kampung mengarah ke Iswahyudi. Bekas tanda peringatan perlintasan keretapun juga masih tersisa di emplasemen stasiun.

Bangunan Stasiun Barat

Emplasemen Stasiun Barat Terhubung Jalur PG Purwodadi
Sumber: kitlv.nl

Stasiun barat Tahun 1928
Sumber: kitlv.nl

Bekas Tanda Perlintasan Kereta

Jalur Percabangan Menuju Iswahyudi

Sambil berjalan pelan, saya mulai mengikuti arah potongan-potongan besi rel yang mulai masuk ke perkampungan warga. Blusukan kali ini saya tidak menggunakan peta sebagai panduan, melainkan hanya menggunakan insting dan pengamatan bekas jalur kereta yang masih tersisa. Sebagian besar besi-besi rel sudah banyak yang hilang karena bekas jalurnya kini telah berubah fungsi menjadi jalan kampung. Akan tetapi saya masih bisa melihat tanda bekas jalur tersebut melalui sudut tikungan jalan.
            Tibalah saya di sebuah saluran irigasi. Disini jalur kereta melintas diatas sebuah sungai kecil. Besi rel dan besi jembatannya masih tertata apik dan lengkap pada tempatnya. Dari jembatan tersebut, jalur kereta kembali masuk ke perkampungan warga.

Bekas Jalur Kereta Menjadi Jalan kampung


Bekas Besi Rel yang Masih Tersisa



Jalur Kereta Melintas Diatas Sungai

Bekas Besi Rel di Perkampungan Warga

            Setelah memutar dan menyeberangi sungai, tibalah saya diperkampungan warga. Kini bekas jalur kereta berada tepat dipekarangan rumah warga. Penelusuran saya kali ini agak sedikit enak karena lokasi bekas jalur kereta agak bersisian dengan jalan raya.
            Posisi jalur kereta yang berada di pekarangan rumah warga ini hanya sedikit yang menyisakan bekas besi rel. Hal ini karena beberapa jalur kereta telah berubah fungsi menjadi jalan setapak dan toko milik warga. Bekas jalur avtur ini memang bukan asset milik PT. KAI yang biasa dijumpai pada jalur non aktif, melainkan tanah tak bertuan sehingga bisa dimanfaatkan siapapun. Patok penanda asset pun juga tidak saya jumpai.

Bekas Jalur Kereta Menjadi Jalan Setapak
 
Bekas Besi Rel yang Tersisa
            Selain jalur kereta, sebenarnya dititik ini juga banyak terdapat bekas jalur lori tebu milik pabrik gula yang berada di wilayah Kabupaten Magetan. Bahkan saya juga menjumpai titik yang saya perkirakan merupakan lokasi persilangan antara jalur kereta dengan jalur lori.
            Setelah berada di pekarangan warga, bekas jalur kereta mulai berpindah diarea persawahan. Dititik ini bekas besi rel kereta sudah tidak saya jumpai. Akan tetapi bekas jembatan masih tersisa dengan lengkap. Setelah melalui persawahan, jalur kereta mulai masuk kedalam kampung yang agak jauh dari jalan raya. Terpaksa saya harus mencari jalan menelusuri bekas jalur kereta tersebut.

Bersambung (Sistem Error)
BAGIAN 2 KLIK DISINI BAGIAN 2

PRIMA UTAMA / 2017 / WA: 085725571790 / MAIL: primautama@ymail.com / IG: @primautama  
         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar