Selasa, 17 Maret 2015

RAIL BUS BATARA KRESNA SOLO - WONOGIRI

RAIL BUS BATARA KRESNA: “SPIRIT OF
SOLO – WONOGIRI”


            Setelah beberapa kali tertunda, akhirnya Rail Bus Batara Kresna secara resmi diluncurkan oleh pemerintah. Informasi ini saya peroleh secara tidak sengaja melalui radio yang mengumumkan bahwa rail bus akan diluncurkan pada hari Rabu tanggal 11 Maret 2015 oleh PT. KAI dan Pemerintah Kota Surakarta yang akan diresmikan oleh Menteri Perhubungan. Tentu informasi ini merupakan kabar gembira bagi saya, bukan karena keretanya atau adanya moda transportasi baru di Kota Solo, akan tetapi saya lebih senang karena jalur Solo - Wonogiri yang sempat mati kurang lebih selama  empat tahun akhirnya bisa berfungsi lagi. Sayang memang jika jalur yang dibangun pada tahun 1922 sepanjang 37 kilometer itu bila harus mangkrak tak berfungsi.
            Rabu tanggal 11 Maret 2015, saya mencoba meluangkan waktu untuk melihat acara peluncuran rail bus di Stasiun Solo Kota (Sangkrah), karena menurut informasi yang saya peroleh Menteri Perhubungan beserta rombongan dari PT. KAI dan Pemkot Solo akan melakukan perjalanan menggunakan rail bus dari Stasiun Purwosari hingga Stasiun Solo Kota. Kurang lebih pukul setengah sembilan pagi saya tiba di Stasiun Solo Kota atau yang akrab disebut Stasiun Sangkrah tersebut. Saya terkejut, ternyata banyak sekali masyarakat yang menungu kedatangan rombongan Menteri dengan menggunakan rail bus. Meskipun di dominasi oleh warga sekitar, tetapi saya juga menjumpai beberapa wartawan dan beberapa komunitas seperti RF (Rail Fans), Komunitas Ora Edan Sepur, Komunitas Edan Sepur, dan lainnya.
            Kurang lebih pukul sembilan pagi, dari arah utara Rail Bus Batara Kresna mulai terlihat. Suasana Stasiun Sangkrah menjadi riuh dengan antusias warga yang sejak pagi sudah menunggu kedatangan rail bus beserta rombongan. Sangat berbeda memang suasana stasiun kala itu yang biasanya sepi tak berpenghuni. Akhirnya Rail Bus Batara Kresna, salah satu moda transportasi kebanggaan Kota Solo berlabuh di Stasiun Solo Kota. Warga mulai berjubel mendekati kereta untuk berfoto dan bertemu dengan Menteri Perhubungan dan Walikota Solo.
            Di Stasiun Solo Kota, Menteri Perhubungan beserta rombongan meninjau kelengkapan stasiun dan peralatan pendukung perjalanan kereta api. Sebenarnya waktu itu saya ingin naik rail bus yang akan melanjutkan perjalanan ke Wonogiri, akan tetapi perjalanan waktu itu hanya dikhususkan untuk para tamu undangan saja. Apalah daya saya yang bukan siapa-siapa, niat itupun terpaksa saya urungkan.

            Mengusir rasa kecewa saya yang gagal naik rail bus, sayapun berjalan menengok isi Stasiun Sangkrah. Tampak berbeda memang kondisi stasiun saat itu. Kondisinya sangat bersih, ruang tunggu penumpang sudah tertata rapi, loket penjualan karcispun sudah diisi oleh pelayan penjual tiket yang cantik-cantik. Ikut nimbrung bersama masyarakat di depan loket karcis, sayapun mendapatkan informasi yang sangat menggembirakan, yaitu dalam rangka promosi selama dua hari kedepan tiket rail bus akan digratiskan. Sebagai masyarakat penggemar gratisan sayapun sangat antusias mendengar kabar ini. Saya berencana akan mencoba rail bus secara cuma-cuma esok hari. 

Rail Bus Memasuki Jalan Slamet Riyadi Solo

Rail Bus Tiba di Stasiun Solo Kota

Rombongan Turun dari Rail Bus

Rail Bus Melanjutkan Perjalanan Menuju Wonogiri

Ruang Tunggu Stasiun Solo Kota

Antusias Warga Menanyakan Jadwal Operasional Rail Bus

Berlanjut di hari berikutnya, tepatnya pada hari Kamis tanggal 12 Maret 2015 saya berniat mencoba Rail Bus Batara Kresna secara gratis di Stasiun Purwosari. Berangkat dari kos kurang lebih pukul lima pagi, saya memilih perjalanan jam pertama dengan asumsi setibanya di Wonogiri nanti saya bisa langsung membeli tiket pulang ke Solo karena perjalanan rail bus dalam sehari hanya melayani dua kali perjalanan. Kurang lebih pukul setengah enam pagi saya tiba di Stasiun Purwosari. Saya langsung menuju loket penjualan tiket untuk mendapatkan tiket secara cuma-cuma. Benar saja, saya tidak dipungut uang sepeserpun, bahkan di tiket tertulis harga IDR 0,-.
            Di Stasiun Purwosari ternyata tidak hanya saya saja yang memanfaatkan momen gratisan ini, saya melihat beberapa masyarakat dan beberapa kakek nenek beserta cucu-cucunya ikut mencoba moda transportasi baru Kota Solo ini. Selepas mendapatkan tiket, saya langsung masuk ke dalam kabin rail bus. Ini pertama kali bagi saya naik railbus. Sangat nyaman sekali berada di kabin rail bus. Udara yang dingin, kursi yang tertata rapi dan empuk, handle untuk penumpang berdiri yang tertata rapi, lantai yang bersih membuat penumpang betah dan nyaman berada didalam. Bahkan didalam kabinpun ada papan elektronik yang menginformasikan stasiun pemberhentian dan kecepatan rail bus.


Penumpang Menunggu Keberangkatan Perdana Rail Bus

Tiket Komersil Perdana Rail Bus

Interior Rail Bus

Peta Perjalanan Rail Bus

Tepat pukul enam pagi rail bus mulai berjalan perlahan meninggalkan Stasiun Purwosari. Wajah para penumpang tampak gembira tak sabar ingin menikmati perjalanan ke Wonogiri selama kurang lebih dua jam kedepan. Beberapa saat rail bus mulai membelah Kota Solo tepatnya di Jalan Slamet Riyadi. Perlu diketahui Solo adalah satu-satunya kota di Indonesia yang masih memiliki jalur kereta api aktif yang berdampingan dengan jalan raya.
Saat melintas di Jalan Slamet Riyadi, banyak masyarakat yang kagum dengan kehadiran rail bus, mungkin mereka tidak mengira bahwa perjalanan pagi itu adalah perjalanan komersil perdana Rail Bus Batara Kresna. Banyak masyarakat yang mengabadikan momen tersebut melalui kamera ponsel mereka, bahkan ada juga yang melambaikan tangan mereka. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Barisan gedung-gedung disepanjang Slamet Riyadi pun tampak indah disaksikan dari dalam rail bus.

Rail Bus Berhenti di Stasiun Solo Kota

Selama melintasi Jalan Slamet Riyadi, kecepatan rail bus dibatasi yakni berkisar 15-20 kilometer perjam. Hal ini dikarenakan banyaknya traffic light dan ramainya kendaraan yang melintas di Slamet Riyadi. Tak henti-hentinya masinis juga rutin membunyikan klakson sebagai peringatan bagi masyarakat. Tak terasa perjalanan saya menggunakan rail bus tiba di Stasiun Solo Kota. Disana ternyata  sudah banyak para penumpang yang juga ingin ikut menjajal rail bus.
Dari stasiun Solo Kota, perjalanan dilanjutkan menuju Stasiun Sukoharjo. Selama perjalanan menuju Sukoharjo ada hal menarik yang saya temui, yaitu posisi rel yang sudah mepet dengan pemukiman warga. Hal tersebut mungkin karena jalur ini sudah lama tidak terpakai sehingga masyarakat mendirikan bangunan terlalu dekat dengan jalur kereta. Tentu saja hal ini sangat membahayakan, baik bagi masyarakat maupun bagi perjalanan kereta api. Selain itu disepanjang jalur menuju Sukoharjo banyak sekali perlintasan yang tidak dijaga oleh petugas. Hal ini lah yang memaksa rail bus untuk berjalan perlahan. Kecepatan rail bus saat itu hanya berkisar 20-30 kilometer perjam.

Rail Bus Berhenti di Sukoharjo

Sambil menikmati pemandangan dari jendela, beberapa kali saya melihat masyarakat dengan usia yang bisa dikatakan sudah tua sangat hening menyaksikan perjalanan kami menggunakan rail bus. Tak jarang mereka juga melambaikan tangan kepada kami. Saya hanya berasumsi, mungkin mereka teringat akan kenangan puluhan tahun lalu saat “sepur klutuk” yang melayani perjalanan dari Solo hingga Baturetno masih aktif meramaikan jalur ini.
            Tak terasa perjalanan kami sudah tiba di Sukoharjo. Posisi rel hampir berdekatan dengan jalan utama di Sukoharjo. Setiba di Stasiun banyak masyarakat yang menyambut kedatangan kami. Sangat riuh suasana stasiun kala itu.
Berlanjut meninggalkan Stasiun Sukoharjo, perjalanan kami lanjutkan menuju Stasiun Pasar Nguter yang masih terletak di Kabupaten Sukoharjo. Sebenarnya ada beberapa halte pemberhentian kereta yang kami lewati sepanjang perjalanan ini, diantaranya adalah: Halte Kronelan, Halte Kalisamin, Halte Kepuh, dan Halte Tekaran. Akan tetapi semua halte tersebut sekarang sudah tidak digunakan dan kita masih bisa menyaksikan sisa-sisa bangunannya yang berdiri disamping jalur kereta menuju Wonogiri. Tak terasa perjalanan kamipun tiba di Stasiun Pasar Nguter.

Kepala Stasiun Pasar Nguter Melepas Perjalanan Rail Bus

Selepas dari Stasiun Pasar Nguter, perjalanan kami lanjutkan menuju stasiun terakhir yaitu Stasiun Wonogiri. Memasuki wilayah Wonogiri kami disambut dengan pemandangan bukit-bukit yang berjajar berwarna hijau. Sangat indah sekali pemandangannya. Hamparan hutan yang luaspun juga menyambut kedatangan kami. Sejenak saya teringat dengan jalur kereta non aktif Ponorogo - Slahung yang sempat saya datangi beberapa waktu lalu. Mungkin jika jalur tersebut masih aktif, keindahannya akan seperti jalur ini. Akan tetapi sayang jalur tersebut sudah mangkrak puluhan tahun silam. Akhirnya perjalanan saya tiba juga di Stasiun Wonogiri. Sayapun bersiap-siap turun untuk membeli tiket pulang kembali ke Solo.
Sesampainya di Stasiun Wonogiri saya sangat terkejut, ternyata dari Stasiun Wonogiri sudah banyak sekali penumpang yang hendak menjajal rail bus. Yang membuat saya semakin terkejut adalah ternyata tiket rail bus menuju ke Solo untuk perjalanan jam delapan sudah sold out alias habis terjual. Hal ini tentu diluar dugaan saya. Terpaksa saya harus menunggu keberangkatan rail bus kedua yakni pada jam dua belas siang. Itu artinya saya harus menunggu selama empat jam di Stasiun Wonogiri. Sungguh diluar rencana saya.

Pemandangan di Wonogiri dari Atas Rail Bus

Rail Bus Tiba di Stasiun Wonogiri

Rail Bus Bersiap Melanjutkan Perjalanan Menuju Solo

Sambil menunggu penjualan tiket perjalanan kedua yang rencananya akan dilayani pada pukul sembilan pagi, saya menyempatkan diri untuk mencari sarapan disekitar stasiun. Selesai sarapan saya mencoba menyusuri rel di sekitar area stasiun. Saya kembali teringat akan blusukan saya di stasiun ini tahun lalu saat menelusuri jalur menuju Baturetno. Sebenarnya sangat sayang jika jalur menuju Baturetno harus dimatikan, karena disepanjang jalur tersebut memiliki panorama yang sangat indah dan memiliki potensi ekonomi dan wisata.
Pukul Sembilan saya mulai mengantri di loket untuk mendapatkan tiket pulang ke Solo. Ternyata membeli tiket rail bus di Stasiun  Wonogiri tidak semudah yang saya alami ketika membeli tiket di Stasiun Purwosari tadi pagi. Sejatinya penjualan tiket bisa dilayani minimal tiga jam sebelum keberangkatan, akan tetapi pada kenyataannya pembelian tiket baru bisa dilayani pada pukul 09.45, itu artinya saya harus berdiri mengantri selama 45 menit demi selembar tiket pulang. Sungguh sebuah perjuangan yang berat bagi kaum gratisan seperti saya. Saya kurang tahu kenapa pelayanan penjualan tiket terlambat selama 45 menit, apakah karena ganguan sistem atau karena human error saya kurang tahu jelas karena petugas loketpun tidak memberitahukannya kepada para calon penumpang.
Penderitaan kami sebagai “penumpang gratisan” semakin bertambah tatkala tempat penjualan tiket di Stasiun Wonogiri tidak senyaman di stasiun-stasiun yang lain. Posisi loket berada di bagian depan stasiun yang juga tepat berada dipinggir jalan. Ditambah lagi cuaca yang sangat terik kala itu membuat kami harus rela bermandikan keringat. Yang lebih parah lagi kami para pengantri tiket menjadi tontonan warga sekitar yang kebetulan lewat didepan stasiun. Antrian yang panjang dan berjubel merupakan pemandangan yang tidak biasa bagi masyarakat sekitar. Mungkin karena stasiun ini sudah lama mati sehingga jarang pemandangan seperti itu ditemui.
Akhirnya perjuangan saya berakhir tatkala tiket pulang sudah berada dalam genggaman. Lega rasanya bisa kebagian tiket pulang, karena banyak rekan-rekan saya yang dari Solo tidak kebagian tiket pulang yang memaksa mereka untuk pulang menggunakan bus. Saya banyak menemukan kejanggalan saat mengantri tiket di stasiun ini. Kebetulan saat itu ada tiga turis asing yang juga mengantri tiket kembali ke Solo, akan tetapi tanpa melalui proses antri yang lama mereka bisa memperoleh tiket lebih dulu. Tentu ini sangat tidak adil bagi kami yang mengantri lama dan melelahkan.
Kejengkelan saya semakin bertambah, tatkala ada seorang laki-laki paruh baya dengan mengenakan seragam Dishub masuk ke bagian dalam penjualan tiket dan saat beliau keluar saya melihat beberapa lembar tiket sudah berada dalam genggamannya. Apakah ini yang namanya pelayanan professional?, tanya saya dalam hati. Mungkin oknum-oknum seerti itulah yang membuat negara dan perkeretaapian kita tidak berkembang dan kalah jauh dari negara-negara lain. Sungguh sangat ironis, mengingat kita adalah negara ke dua di Asia yang memiliki kereta api. Hal ini cukup menjadi pelajaran penting bagi saya.

Antrian Calon Penumpang di Stasiun Wonogiri

Kurang lebih pukul dua belas siang akhirnya rail bus yang akan mengantar saya pulang kembali ke Solo tiba di Stasiun Wonogiri. Semakin siang suasana Stasiun Wonogiri semakin bertambah padat dengan banyaknya masyarakat yang ingin menyaksikan kedatangan rail bus. Tepat lima belas menit dari pukul dua belas, rail bus berjalan meninggalkan Wonogiri. Akhirnya saya bisa beristirahat kembali di dalam rail bus. Kurang lebih pukul dua siang saya tiba di Stasiun Purwosari dan ini lah perjalanan saya mencoba rail Bus Batara Kresna. Saya berharap di lain hari memiliki kesempatan untuk mencoba rail bus kembali dengan pelayanan yang lebih baik tentunya.

Kepala Stasiun Wonogiri Menyambut Kedatangan Rail Bus

Rail Bus Siap Berangkat Menuju Solo

Saat Rail Bus Berdampingan dengan Jaladara


 __________________
Artikel ini dikembangkan oleh: blusukanpabrikgula.blogspot.com
__________________
PRIMA UTAMA / 2015 / WA: 085725571790 / MAIL, FB: primautama@ymail.com / INSTA: @primautama 






             



Tidak ada komentar:

Posting Komentar