Selasa, 24 Februari 2015

JALUR KERETA MADIUN - PONOROGO

JALUR MATI MADIUN - PONOROGO

            Madiun adalah salah satu kota yang cukup ramai yang ada di Provinsi Jawa Timur. Kota yang terkenal dengan nasi pecelnya ini menyimpan banyak sejarah masa lalu yang sangat panjang. Bukti sejarah mengenai pentingnya kota ini dimasa lalu adalah banyaknya bangunan-bangunan kolonial serta industri peninggalan Belanda seperti pabrik gula yang masih bisa kita jumpai hingga sekarang.
            Perkembangan perekonomian Madiun kala itu tidaklah terlepas dari pengaruh pembangunan jalur kereta api milik Staats Spoorwegen (SS) yaitu perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda yang menghubungkan Madiun dengan kota-kota lain di Jawa seperti Solo dan Surabaya. Bahkan untuk menggeliatkan roda perekonomian di Kota Madiun, SS juga membangun sebuah jalur kereta api yang menghubungkan Madiun dengan Ponorogo.
Sedikit menyinggung sejarah kereta api yang dulu pernah menghubungkan Kota Madiun dan Kota Ponorogo, jalur kereta api tersebut dibangun di awal abad 19 yaitu sekitar tahun 1907 oleh perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda kala itu Staats Spoorwegen (SS) dari Stasiun Madiun hingga Stasiun Slahung di Ponorogo. Panjang jalur tersebut kurang lebih sepanjang 58 kilometer. Karakteristik jalur Madiun-Ponorogo hampir menyerupai jalur yang menghubungkan Kota Solo dengan Baturetno di Wonogiri.
Jalur tersebut dahulu diramaikan oleh penduduk yang mayoritas adalah pedagang yang akan menjual hasil buminya kepasar. Hingga tahun 1970-an jalur ini masih menjadi primadona masyarakat karena dianggap murah. Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya zaman, kereta api mulai ditinggalkan. Masyarakat mulai beralih menggunakan moda transportasi lain berbasis jalan raya dalam mobilitas hariannya karena dianggap lebih cepat dari pada kereta api. Pada tahun 1984, jalur kereta api Madiun-Ponorogo resmi ditutup karena kalah bersaing dengan moda transportasi lain. Kini sisa-sisa jalur yang menghubungkan dua kota tersebut masih bisa kita temukan meskipun jumlahnya tinggal sedikit. Sisa-sisa rel besi yang dulunya menjadi pijakan kereta api dibeberapa titik masih terlihat jelas dan kokoh seolah-olah menanti untuk dilewati kereta api kembali.

Peta Jalur Kereta Api Madiun – Ponorogo
Sumber: kitlv.nl

Bertepatan dengan Tahun Baru Imlek 2015, akhirnya saya bisa melakukan blusukan jalur mati lagi ditempat yang berbeda. Kali ini tujuan blusukan saya adalah jalur mati di petak Madiun - Ponorogo. Rencana blusukan ke Madiun hingga Ponorogo ini sebenarnya saya rencanakan di awal bulan Februari, akan tetapi karena banyaknya tugas yang harus diselesaikan dan kondisi cuaca yang masih kurang mendukung memaksa saya untuk menunda blusukan saya di Madiun dan Ponorogo. Akhirnya di tanggal 19 Februari 2015 saya bisa melaksanakan misi penting ini untuk menelisik sisa-sisa keberadaan jalur kereta api yang pernah menghubungkan kedua kota tersebut.
Tepat pada pukul 6 pagi saya berangkat meninggalkan Solo sebagai titik start saya menuju Kota Madiun. Kali ini jalur yang saya lalui adalah via Sarangan di Kabupaten Magetan. Suhu pegunungan yang dingin serta pemandangan alam pegunungan yang indah menghiasi perjalanan saya. Kurang lebih pukul 8 pagi saya mulai memasuki wilayah Maospati di Kabupaten Magetan. Disini saya berjalan melambat karena ada hal menarik yang saya temukan. Saya memperhatikan disebelah kanan dan kiri jalan tampak ada gundukan-gundukan tanah yang menurut saya berbentuk tak lazim terbentang menuju perkebunan milik warga yang dimanfaatkan warga sebagai jalan menuju ke ladang. Hipotesis saya itu adalah bekas decauville.
Tak berapa lama hipotesis saya ternyata benar, disekitar area tersebut saya menjumpai banyak decauville yang berpotongan dengan jalan raya. Bahkan dibeberapa titik saya masih bisa menjumpai sisa-sisa besi yang masih utuh tersamarkan oleh tanah. Ini adalah sesuatu yang langka bagi saya, hal  semacam ini sudah tidak bisa saya temui lagi di tempat asal saya di Kabupaten Sragen yang notabene juga terdapat sebuah Pabrik Gula (PG) atau Suiker Fabriek dimana semua decauville sudah hilang tergusur oleh pembangunan kota.
Sebagai informasi, decauville adalah jalur kereta lori pengangkut tebu yang biasa dimiliki oleh pabrik gula. Decauville memiliki gauge yang lebih kecil jika dibandingkan dengan gauge pada kereta api. Saat ini sudah jarang bisa kita temukan jalur decauville yang masih aktif. Seiring berkembangnya zaman, pabrik gula lebih memilih menggunakan truk untuk mengangkut tebunya ke pabrik karena dianggap lebih murah dan efisien.  

Bekas Decauville di Maospati

Puas mengamati sisa-sisa decauville di Maospati, saya segera tancap gas menuju Kota Madiun. Sebelumnya saya juga sempat melewati jalur kereta api non aktif dari Lanud Iswahjudi menuju Stasiun Barat yang dulu pernah saya bahas di tulisan saya sebelumnya. Kurang lebih pukul setengah sembilan saya mulai memasuki Kota Madiun. Tujuan pertama saya adalah mencari Stasiun Madiun yang merupakan titik awal jalur dari Madiun menuju Ponorogo.
Ini adalah pertama kali bagi saya blusukan ke Kota Madiun, meskipun sebelumnya saya juga pernah berkunjung ke kota ini. Sesampainya di Stasiun Madiun, saya menyempatkan diri untuk melihat pabrik kereta api atau PT. INKA yang berdiri diseberang stasiun meskipun hanya dari luarnya saja. Menurut sebuah artikel, PT. INKA adalah satu-satunya pabrik kereta api yang ada di Asia Tenggara. Selain memproduksi kereta api untuk kebutuhan dalam negeri, perusahaan ini juga telah mengekspor kereta api kebeberapa negara di Asia. Sungguh sangat membanggakan.  

PT. INKA Madiun

Didepan PT. INKA terdapat jalur kereta aktif yang menghubungkan Stasiun Madiun dengan dipo milik Pertamina. Jalur ini sepintas mirip dengan jalur antara Lanud Iswahjudi dengan Stasiun Barat di Magetan yang dulu juga digunakan untuk mengangkut avtur dari Stasiun Barat ke Lanud Iswahjudi. Kebetulan saya hadir disaat yang tepat, saat saya berada disana ada serangkaian gerbong milik Pertamina melaju menuju dipo dengan ditarik lokomotif jenis BB. Ini menjadi tontonan menarik bagi saya yang sebelumnya belum pernah melihat pemandangan seperti ini.

Kereta dari Stasiun Madiun Menuju Dipo Pertamina

Puas melihat sisi lain Kota Madiun, tepat pukul 9 pagi blusukan saya mulai dengan mengambil titik awal dari Stasiun Madiun. Dalam blusukan saya kali ini, ada sebanyak 26 stasiun dan halte yang akan saya lintasi, akan tetapi sesuai dengan data yang sudah saya persiapkan dan referensi yang saya baca sebelumnya hanya beberapa stasiun saja yang saat ini masih berdiri, sisanya sudah hilang tergusur pembangunan kota.
            Daftar stasiun dan halte yang terletak di sepanjang jalur dari Madiun hingga Ponorogo adalah: Stasiun Madiun – Halte Madiun Pasar Besar – Halte Sleko – Stasiun Kanigoro – Halte Kepuh – Stasiun Pagotan – Halte Uteran – Halte Slambur – Halte Delopo – Halte Umbul – Stasiun Milir – Halte Kanten – Halte Polorejo – Stasiun Ponorogo – Halte Surodikraman – Stasiun Siman – Halte Brahu – Halte Grageh – Halte Demangan – Stasiun Jetis – Halte Ngasinan – Stasiun Balong – Halte Nailan – Halte Banggel – Halte Broto – Stasiun Slahung.


Stasiun Madiun Tempo Dulu
Sumber: kitlv.nl

            Perjalanan saya yang pertama adalah mencari bekas jalur percabangan dari Stasiun Madiun menuju Halte Madiun Pasar Besar. Sesuai dengan peta Belanda tahun 1922, jalur percabangan tersebut terletak disebelah timur Stasiun Madiun. Saya pun segera meluncur ke sisi timur Stasiun Madiun. Benar saja, disebelah timur stasiun atau tepatnya di Jalan Kemuning, saya menjumpai sebuah portal besi dimana terdapat bekas jalur keluar area Stasiun Madiun, tepatnya disebelah gang kecil menuju perkampungan warga.
            Bekas jalur tersebut samar tertutup semak yang sangat lebat. Akan tetapi jika kita perhatikan secara seksama bekas percabangan rel masih bisa kita temukan.  Selain melalui pengamatan, sebenarnya kita juga bisa mencocokkan antara sudut jalan dititik percabangan tersebut dengan peta buatan Belanda yang persis membentuk sudut melengkung. 

Bekas Jalur Percabangan di Sisi Timur Stasiun Madiun

            Beranjak dari Jalan Kemuning, perjalanan saya lanjutkan menyusuri perkampungan warga yang saya duga sebagai bekas jalur kereta. Tidak mudah bagi saya menemukan bekas jalur kereta di lokasi tersebut. Padatnya perumahan penduduk dan sedikitnya patok milik PT. KAI serta minimnya pengetahuan saya mengenai daerah tersebut membuat saya agak kesulitan mencari bekas jalur kereta menuju Halte Pasar Besar. Saya pun masuk ke Jalan TGP di Kelurahan Oro-Oro Ombo kemudian tembus di Jalan Halmahera. Disana saya melihat patok besi tertancap dipinggir jalan. Menurut perkiraan saya jalur kereta masuk ke Jalan Halmahera memotong jalan Diponegoro kemudian berbelok menuju Halte Pasar Besar.

Bekas Jalur Kereta di Oro-Oro Ombo

Masuk ke Jalan Halmahera saya berhasil menemukan beberapa patok besi milik PT. KAI. Saya kembali dibingungkan dengan banyaknya gang yang ada disana. Saya putuskan untuk ambil jalan kekanan dan tembus di Jalan Bali. Di traffic light Jalan Bali terdapat sebuah patok tertancap disebelah kiri jalan. Dari titik tersebut berbelok ke kanan menuju Pasar Besar Madiun. Sesampainya di Pasar Besar Madiun hanya bangunan modern yang saya temui. Menurut informasi yang saya dapatkan, Halte Pasar Besar Madiun dulu terletak diseberang Pasar. Bangunan halte sudah dirubuhkan dan digantikan dengan bangunan ruko modern.
Sepanjang penelusuran saya dari Stasiun Madiun hingga Pasar Besar Madiun saya sudah tidak menjumpai bekas jalur kereta api yang masih terlihat. Asumsi saya bekas jalur tersebut kini telah tertimbun oleh aspal jalan raya serta telah tertutup oleh bangunan-bangunan baru milik masyarakat.

Pasar Besar Madiun

Bekas Jalur Kereta di Depan Pasar Besar Madiun Tahun 1930
Sumber: kitlv.nl

Kereta Melintas di Tengah Kota Madiun
Sumber: Copyright Rob Dickinson

Jika dilihat dari peta buatan Belanda, sebenarnya di jalur tengah Kota Madiun terdapat percabangan jalur kereta menuju ke kawasan Kauman. Akan tetapi jalur menuju Kauman tersebut buntu hingga sungai yang membelah Kota Madiun. Saya kurang tahu persis apa fungsi jalur tersebut, namun kemungkinan jalur tersebut ada kaitannya dengan aktivitas perdagangan yang ada di Kota Madiun zaman dulu.
Beranjak dari Pasar Besar Madiun, perjalanan saya lanjutkan menuju Pasar Sleko untuk mencari lokasi Halte Sleko. Jalan menuju Sleko searah dengan jalan menuju ke Ponorogo sehingga tidaklah sulit untuk menemukannya. Kurang lebih 15 menit akhirnya saya tiba di Pasar Sleko. Disekitar area pasar saya sudah tidak menjumpai bangunan yang menyerupai bangunan stasiun atau halte, yang tampak hanyalah sebuah plang milik PT. KAI tertancap diseberang jalan tepat di depan barisan ruko bertingkat. Itulah satu-satunya petunjuk yang bisa saya temukan disana. Menurut referensi, bangunan Halte Sleko memang sudah tidak ada. Lokasi bekas bangunan halte kini telah digantikan dengan barisan ruko modern bertingkat. Berhubung tidak ada petunjuk lain yang bisa saya dapatkan, perjalananpun saya lanjutkan kembali.

Bekas Lokasi Halte Sleko

Perjalanan saya lanjutkan kembali menuju PG Kanigoro. Menurut informasi yang saya dapatkan di PG Kanigoro dulu terdapat sebuah stasiun untuk mengangkut penumpang dan tetes tebu dari pabrik gula. Jarak dari Sleko menuju Kanigoro lumayan jauh. Disepanjang perjalanan saya berusaha mencari jejak jalur kereta api menuju ke Kanigoro. Tiba di Kelurahan Banjarejo Kecamatan Taman atau tepatnya di Jalan Mangkuprajan, saya mulai menjumpai banyak patok milik PT. KAI. Patok-patok tersebut tertancap di pinggir jalan perkampungan di dekat UII Madiun dan tembus hingga Jalan Kapten Tendean.
            Dari Jalan Kapten Tendean saya lurus masuk ke perkampungan hingga tembus ke PG Kanigoro. Sesampainya di pabrik gula, saya mulai menjumpai sisa-sisa rel kereta yang berubah fungsi menjadi pagar pabrik. Saya mencoba mengamati di sekitar pabrik mencari bangunan yang menyerupai bangunan stasiun. Pencarian saya nihil tak membuahkan hasil. Akhirnya saya putuskan untuk kembali berputar arah. Saya mencoba masuk kesebuah gang di kanan jalan tepat disamping pabrik. Sambil terus mengamati bangunan-bangunan di sekitar pabrik akhirnya saya tiba di ujung gang dimana terdapat sawah dan kebun tebu. Ternyata secara tak disengaja saya menemukan bangunan Stasiun Kanigoro yang masih gagah berdiri di kanan saya.

Bekas Jalur Kereta di Jalan Mangkuprajan Menuju Kanigoro

Bekas Stasiun Kanigoro

Stasiun Kanigoro dibangun pada tahun 1907 di ketinggian 78 meter. Stasiun ini dulu digunakan untuk angkutan penumpang dan angkutan gula dari PG Kanigoro. Seiring dengan berjalannya waktu, stasiun ini mulai sepi penumpang karena kecepatan kereta yang lambat dan mulai banyaknya moda transportasi lain berbasis jalan raya. Selain itu, prasarana kereta api yang sudah tua juga menjadi alasan ditutupnya jalur ini. Akhirnya pada tahun 1984 stasiun ini resmi ditutup. Kini bangunan stasiun nampak sepi tak berpenghuni. Kondisi bangunan stasiun pun masih bisa dikatakan bagus dengan warna cat yang beraneka ragam.  Disekitar stasiun saya sudah tidak bisa menemukan bekas rel kereta api. Mungkin bekas rel sudah dicabuti warga untuk dijadikan pagar seperti yang saya lihat di depan pabrik gula. Dari Stasiun Kanigoro perkiraan saya jalur kereta melintas di tengah kebun dan persawahan milik warga menuju ke arah Ponorogo.
Sebenarnya sebelum sampai di Stasiun Kanigoro saya sempat tersesat hingga daerah Kertosari. Disana saya menemukan banyak bekas jalur kereta api tepat berdiri sejajar di samping jalan raya Madiun-Ponorogo. Mungkin jika ditarik sebuah garis, bekas rel di Kertosari akan terhubung dengan Stasiun Kanigoro yang ada di sebelah utara.
Beranjak dari Stasiun Kanigoro, perjalanan saya lanjutkan menuju PG Pagotan untuk mencari lokasi Stasiun Pagotan. Niat hati ingin mencari jalan pintas, apa daya saya justru malah tersesat. Beberapa kali saya harus bertanya kepada orang dipingir jalan untuk menunjukkan arah menuju Pagotan. Dengan petunjuk dari orang yang saya tanyai di pinggir jalan, akhirnya saya menuju Pagotan via Dagangan.  Sebenarnya bekas jalur rel menuju Pagotan berada di wilayah Kertosari, akan tetapi dari pada harus memutar balik dan pertimbangan efisiensi waktu akhirnya saya putuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan via Dagangan. Kurang lebih 30 menit perjalanan akhirnya saya sampai di Pasar Pagotan yang berada tepat disamping PG Pagotan. Disekitar pasar saya tidak menjumpai bangunan yang mirip dengan bangunan stasiun. Hanya bangunan ruko modern yang berjejer menghiasi pasar. Akhirnya saya mencoba masuk kesebuah gang di belakang pabrik gula yang cukup sepi. Dikiri jalan secara tak sengaja saya menemukan bangunan Stasiun Pagotan yang tampak kumuh tapi masih utuh berdiri. Bangunan tampak tak terawat dengan ditutupi seng.


Bekas Jalur Kereta Menuju Pagotan di Kertosari

Stasiun Pagotan memiliki fungsi yang sama seperti Stasiun Kanigoro. Selain melayani penumpang, dulu stasiun ini juga melayani angkutan gula dari PG Pagotan. Stasiun ini didirikan pada tahun 1922 pada ketinggian 84 meter. Senasib dengan Stasiun Kanigoro, pada tahun 1984 stasiun harus ditutup karena sepinya penumpang yang mulai beralih ke moda transortasi lain.

Bekas Stasiun Pagotan

Stasiun Pagotan Tahun 1969
Sumber: Copyright James Waite

Lokomotif B5012 Melintas di Pagotan
Sumber: Copyright James Waite

Dari Pagotan perjalanan saya lanjutkan menuju Ponorogo. Sebenarnya disepanjang Pagotan hingga Ponorogo ada beberapa halte dan stasiun, akan tetapi menurut referensi yang saya dapatkan semua bangunannya telah hilang tak bersisa. Melintasi daerah Milir saya banyak menemukan sisa-sisa bekas jalur rel kereta api dan pondasi jembatan kereta api berdiri tepat disamping jalan raya. Bekas jalur kereta kadang berada di sebelah kanan jalan, namun dibeberapa titik jalur berpindah ke kiri jalan bersinggungan dengan jalan raya Madiun-Ponorogo. Sebenarnya jika diamati lebih detail, didaerah Milir ini bekas jalur kereta hampir berdampingan dengan jalur decauvile milik PG Pagotan. Hal ini saya buktikan dengan adanya sebuah bekas jembatan lori yang terletak hampir berdampingan dengan bekas jembatan kereta menuju Ponorogo. 
Tak berapa lama kemudian, akhirnya saya mulai memasuki wilayah Kabupaten Ponorogo. Disana saya masih bisa menemukan beberapa bekas pondasi jembatan kereta api yang kokoh berdiri di pinggir jalan. Menurut analisa saya, dulu posisi rel lebih tinggi dari jalan raya, hal ini dibuktikan dengan posisi bekas pondasi penyangga jembatan yang memiliki ketinggian lebih tinggi dari jalan raya.

Bekas Jalur Kereta di Milir

Kereta Berhenti di Milir
Sumber: Copyright Rob Dickinson

Gapura Masuk Kota Ponorogo

Masuk kedalam kota saya bergegas mencari lokasi bekas Stasiun Ponorogo. Di Jalan Soekarno-Hatta tepatnya disamping traffic light, saya menemukan sebuah bekas tiang sinyal berdiri di kanan jalan. Sinyal tersebut kemungkinan adalah sinyal masuk Stasiun Ponorogo. Terus berjalan akhirnya saya menjumpai sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai warung makan bertuliskan rumah dinas Stasiun Ponorogo. Perkiraan saya di sekitar area itulah dahulu Stasiun Ponorogo pernah berdiri.
            Tak puas dengan hanya menjumpai bangunan rumah dinas kepala stasiun, saya pun mencoba mencari jejak keberadaan Stasiun Ponorogo yang menurut cerita disana dulu juga terdapat turntable untuk memutar lokomotif. Sayapun mencoba masuk ke sebuah gang kecil dibelakang rumah dinas kepala stasiun dengan harapan bisa menemukan petunjuk. Disana terdapat sebuah pabrik tempe dimana saya melihat sebuah lubang melingkar tertutup semak-semak di belakang pabrik tersebut. Sayang sekali saya tidak bisa mendekat, karena area tersebut ditutupi pagar oleh siempunya rumah. Saya hanya bisa memperkirakan bahwa kemungkinan itu adalah bekas turntable milik Stasiun Ponorogo. Diarea yang saya perkirakan adalah bekas emplasemen Stasiun Ponorogo tersebut, saya juga menemukan bekas jalur kereta yang mengarah ke Slahung. Akan tetapi sayang, saya tidak bisa memperkirakan berapa jalur yang ada di emplasemen karena kondisi rel yang sudah tidak utuh akibat telah tertutup tanah dan hilang.

Kereta Melintas di Ponorogo
Sumber: Copyright Rob Dickinson

Bekas Sinyal Masuk Stasiun Ponorogo

Bekas Rumah Dinas Kepala Stasiun Ponorogo

Bekas Emplasemen Stasiun Ponorogo

Stasiun Ponorogo Tempo Dulu
Sumber: Copyright Rob Dickinson

Stasiun Ponorogo adalah stasiun terbesar dilintas jalur Madiun Ponorogo setelah Stasiun Madiun yang dibangun oleh perusahaan kereta Hindia Belanda Staats Spoorwegen (SS). Stasiun ini dibuka pada kisaran tahun 1922. Pada zaman dahulu stasiun ini juga terhubung dengan jalur kereta api menuju Sumoroto sebelum akhirnya jalur tersebut dibongkar oleh Jepang. Tahun 1984 adalah tahun terakhir stasiun ini beroperasi setelah ditutup oleh pemerintah karena menurunnya jumlah penumpang.
Dari lokasi bekas Stasiun Ponorogo perjalanan saya lanjutkan kembali menuju Jetis. Saat melintasi daerah Siman saya menjumpai banyak sekali bekas rel yang masih utuh berjajar tepat dipinggir jalan. Di daerah Siman ini dahulu juga terdapat stasiun dan halte. Akan tetapi menurut referensi yang saya dapatkan bangunan stasiun dan halte disepanjang area tersebut sudah dirubuhkan.
Akhirnya tak berapa lama kemudian perjalanan saya tiba di Pasar Jetis, sayapun segera mencari lokasi posisi Stasiun Jetis. Tak sulit bagi saya menemukan bangunan bekas Stasiun Jetis. Bangunan bekas Stasiun Jetis terletak disebelah kanan jalan setelah pasar. Bangunannya masih tampak terawat dengan cat warna putih bersih. Sayapun menyempatkan untuk masuk ke area emplasemen stasiun yang saya perkirakan berada dibagian belakang bangunan. Diarea tersebut saya masih bisa melihat dua jalur kereta api yang membentang menuju Slahung meskipun kondisinya sudah tertutup oleh tanah dan semak belukar.

Bekas Jalur Kereta di Siman

Bekas Bangunan Stasiun Jetis

Bekas Emplasemen Stasiun Jetis

Dari Stasiun Jetis perjalanan saya lanjutkan kembali menuju daerah Balong. Sepanjang perjalanan saya menuju Balong, saya kembali menjumpai banyak bekas rel kereta berjajar disamping jalan raya. Rata-rata kondisi rel masih utuh meskipun dibeberapa titik ada yang sudah hilang. Kondisi ini mengingatkan saya pada blusukan di Grobogan - Blora dimana posisi rel juga berada tepat disamping jalan raya.
            Tak lama kemudian saya tiba di Ngasinan. Dulu di daerah ini terdapat sebuah halte kereta api, tetapi saat saya berada di Pasar Ngasinan saya sudah tidak menjumpai bekas bangunan halte. Kemungkinan bangunan halte sudah dirubuhkan. Untuk menuju darerah Balong, dari perempatan Ngasinan berbelok ke kanan jika dari arah Jetis. Saya sempat tersesat diperempatan ini karena salah mengambil arah. Seharusnya arah yang saya ambil adalah berbelok kekanan, akan tetapi waktu itu saya justru mengambil arah lurus sehingga sempat tersesat cukup jauh.  
            Saat saya memasuki wilayah Balong hujan mulai turun. Kondisi bekas jalur rel disana rata-rata sudah tertutup oleh perumahan warga dan sedikit sekali bekas rel yang masih utuh. Hanya beberapa bekas pondasi jembatan kereta yang sesekali terlihat. Tak lama kemudian akhirnya saya menjumpai bekas bangunan Stasiun Balong. Bangunan stasiun berdiri tepat di sebelah kanan jalan raya. Letaknya berada sebelum perempatan Balong atau sebelum Pasar Balong.

Bekas Jalur Kereta di Ngasinan

Bekas Bangunan Stasiun Balong

Bekas Jalur Kereta di Emplasemen Stasiun Balong

Stasiun Balong dibangun pada tahun 1922 oleh perusahaan kereta api Hindia Belanda Staats Spoorwegen (SS). Sama dengan stasiun-stasiun sebelumnya, Stasiun Balong ditutup pada tahun 1984 karena jumlah penumpang yang menurun drastis. Kini bangunan stasiun dimanfaat sebagai tempat tinggal dan toko kelontong dengan kondisi yang masih cukup terawat.
Beranjak dari Stasiun Balong, dengan kondisi diguyur hujan perjalanan saya lanjutkan menuju Slahung. Tiba di perempatan Balong, saya kembali bingung dengan jalan yang harus saya ambil. Dua kali saya salah mengambil arah. Ternyata jalan menuju Slahung adalah berbelok kekiri dari Stasiun Balong. Saat perjalanan menuju Slahung hujan semakin deras menghujam. Hal ini menyulitkan saya untuk mengamati bekas jalur kereta api yang mungkin masih tersisa.
Untuk menghemat waktu, perjalanan tetap saya lanjutkan meskipun kondisi hujan deras. Sambil berjalan pelan, beberapa kali saya menemukan bekas rel menuju Slahung berada dikiri jalan. Dibeberapa titik yang tersisa hanyalah gundukan tanah bekas jalur kereta yang melintasi perkebunan warga.
Disepanjang jalur dari Madiun hingga Ponorogo, patok penanda bekas jalur kereta api masih menggunakan patok lama (patok dengan logo PT. KAI lama) dan patok dari bekas besi rel. Tak jarang beberapa patok tersebut sudah tidak jelas logo dan tulisannya. Hal ini berbeda dengan kondisi patok yang saya temui dibeberapa tempat yang pernah saya datangi dimana sudah menggunakan patok dengan logo PT. KAI yang baru.

Bekas Rel di Area Pasar Balong

Memasuki wilayah Slahung, kondisi jalan mulai sedikit berkelok-kelok. Pemandangan di sana sangat indah dengan bukit-bukit hijau menjulang yang nampak dari kejauhan. Mungkin pemandangan seperti itu akan semakin indah jika disaksikan dari atas kereta api. Pemandangan seperti ini mengingatkan saya akan jalur kereta api Wonogiri-Baturetno yang memiliki nasib serupa dengan jalur di Slahung ini. Mungkin jika jalur tersebut masih aktif, pemandangannya juga akan seindah di jalur ini. 
            Di Slahung saya melihat gundukan tanah yang saya perkirakan adalah bekas jalur kereta api terbentang memanjang di tengah persawahan. Bahkan saya juga sempat menemukan bekas perpotongan jalur kereta dengan jalan raya. Tak terasa perjalanan saya telah sampai di Pasar Slahung yang juga berfungsi sebagai Sub Terminal Slahung. Saya mencoba memasuki area pasar yang saya duga dibelakang pasar tersebutlah bekas Stasiun Slahung Berdiri. Dugaan saya tepat, dibelakang pasar itulah Stasiun Slahung berdiri.

Perpotongan Rel dengan Jalan Raya di Slahung

Bekas Bangunan Stasiun Slahung

Stasiun Slahung Tempo Dulu
Sumber: Copyright Rob Dickinson

Kereta Menuju Slahung
Sumber: Copyright Rob Dickinson

Stasiun Slahung didirikan pada tahun 1922 dan terletak pada ketinggian 154 meter. Menurut referensi yang saya baca, dulu jalur di stasiun ini sempat akan diperpanjang hingga Trenggalek. Namun hingga masa pendudukan Belanda berakhir rencana tersebut tak kunjung terealisasi. Stasiun ini menjadi stasiun paling ujung di jalur Ponorogo. Tahun 1984 adalah tahun terakhir stasiun ini beroperasi. Sedikitnya jumlah penumpang membuat pemerintah harus menutup jalur kereta disepanjang Madiun-Ponorogo. Sisa-sisa alat kereta api pun sudah tidak bisa saya temui disini. Bahkan di bagian bekas emplasemen stasiun pun sudah tidak tampak bekas rel kereta api. Kini bangunan stasiun digunakan warga sebagai tempat menyimpan jahe.
Setelah hujan cukup reda, perjalanan saya lanjutkan. Kali ini tujuan saya yang terakhir adalah menuju kawasan Badegan Sumaroto. Menurut peta Kota Ponorogo buatan Belanda yang saya miliki, dulu terdapat sebuah jalur percabangan dari Ponorogo menuju Badegan. Menurut refensi dijalur tersebut terdapat beberapa halte dan stasiun, diantaranya adalah: Badegan – Kapuran – Srandil – Sumoroto – Karanglo. Kebetulan jalur ini searah dengan jalan pulang saya via Purwantoro Wonogiri.
Setibanya di Badegan, saya sama sekali tidak menemukan jejak peninggalan kereta api disana. Bahkan patok milik PT. KAI satupun tidak saya jumpai. Bekas bangunan seperti pondasi jembatan kereta api juga tidak saya temukan. Menurut informasi yang saya peroleh, jalur kereta api dari Ponorogo hingga Badegan dulu dibongkar oleh Jepang saat menjajah Indonesia. Entah dipindah kemana rel-rel tersebut saya juga belum menemukan referensi yang jelas. Tapi menurut sebuah artikel yang saya baca, Bekas lokasi Stasiun Badegan terletak di komplek Pasar Badegan, akan tetapi bangunan stasiun sudah tidak bersisa sama sekali. 
            Karena tak satupun jejak kereta yang saya temukan di Badegan, sayapun lanjut meneruskan perjalanan pulang menuju Solo via Wonogiri. Sesampainya di Wonogiri sebenarnya ada rencana untuk mampir ke Stasiun Wonogiri untuk melihat persiapan reaktivasi jalur Solo-Wonogiri yang rencananya akan di lewati railbus Batara Kresna. Akan tetapi saya kurang beruntung, sesampainya di Wonogiri saya disambut dengan hujan yang amat deras hingga Solo. Terpaksa rencana tersebut urung saya lakukan.
            Tepat pukul setengah lima sore akhirnya saya tiba di Solo dengan kondisi basah kuyup. Jika kembali mengingat bekas jejak jalur kereta api dari Madiun hingga Ponorogo, saya rasa akan sulit untuk menghidupkan kembali jalur tersebut meskipun hal itu bisa saja dilakukan. Hal ini saya dasarkan pada kondisi jalur yang berada di tengah kota dan banyak bersinggungan dengan jalan raya. Akan tetapi saya secara pribadi juga berharap suatu saat jalur tersebut bisa dihidupkan kembali sebagai sarana transportasi alternatif bagi warga Madiun dan Ponorogo.

_________________________
Artikel ini dikembangkan oleh: blusukanpabrikgula.blogspot.com
_________________________
PRIMA UTAMA / 2015 / WA: 085725571790 / FB, MAIL: primautama@ymail.com / INSTA: @primautama 





































           




11 komentar:

  1. yap betul banget ... saya setuju jika jalur tersebut dihidupkan kembali.tapi... rasanya tidak mungkin sih... karena jika mau menghidupkan kembali biayanya juga nggak sedikkit.

    BalasHapus
  2. yap betul banget ... saya setuju jika jalur tersebut dihidupkan kembali.tapi... rasanya tidak mungkin sih... karena jika mau menghidupkan kembali biayanya juga nggak sedikkit.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Rel sa situasinya masih ada,jadi teringat masa lalu

    BalasHapus
  5. Salah satu peninggalan penjajah belanda yang saya sukai adalah jalur kereta di seluruh jawa, mungkinkah kalau bukan karena orang belanda, kita bisa punya kereta?

    BalasHapus
  6. Tulisan yang bagus, mudah mudahan peninggalan yg istimewa ini tetap terjaga syukur2 bisa d aktifkan kembali. Mengingat padatnya jalan madiun-ponorogo saat ini

    BalasHapus
  7. Tulisan yang bagus, mudah mudahan peninggalan yg istimewa ini tetap terjaga syukur2 bisa d aktifkan kembali. Mengingat padatnya jalan madiun-ponorogo saat ini

    BalasHapus
  8. Tulisan yang bagus dan mengingatkan saya lagi saat masih bisa menikmati naik kereta api dari stasiun pagottan ke stasiun sleko di Madiun..Dulu orang menyebutnya sepur kluthuk karena jalannya memang tidak bisa banget atau cepet..Sejarah memang tidak mudah untuk dilupakan apalagi kita pernah jadi pelaku didalamnya..Well done mas prima..

    BalasHapus
  9. Seingat saya, di Ngasinan bukan halte tetapi Stasiun. Lokasinya bukan di sekitar pasar Ngasinan. Tetapi di dekat perempatan kecil sebelum perempatan Ngasinan (disebut perempatan Njekesi) sedangkan perempatan Ngasinan yang ada pasarnya disebut Mantup. Stasiun Ngasinan sudah hilang berganti dengan toserba milik warga (Pak Edi Mantri). Waktu itu sering lihat pedagang yang dari Tamansari, Sawo dan Trenggalek mau atau pulang dari pasar Balong+Slahung naik dan turun di Stasiun Ngasinan ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih pak atas informasi tambahannya. sangat bermanfaat

      Hapus