Selasa, 31 Maret 2015

MUSEUM KERETA API AMBARAWA

  MENENGOK RENOVASI MUSEUM AMBARAWA

      Hampir satu jam perjalanan saya menuju Ambarawa setelah melakukan blusukan di daerah Kemijen Semarang untuk mencari jejak stasiun tertua di Indonesia. Tepat pukul tiga sore akhirnya saya mendarat di Ambarawa. Suasana berbeda sentak menyambut kedatangan saya. Sejumlah bangunan yang berada disekitar jalur rel antara Ambarawa hingga Tuntang sudah diratakan dengan tanah. Selain itu wajah Museum ambarawa pun juga terlihat semakin rapi.
            Kebetulan saya sempat bertanya dengan seorang warga asli Ambarawa yang menjadi juru parkir di area Museum Ambarawa mengenai proses reaktivasi Stasiun Ambarawa. Beliau menjelaskan bahwa penggusuran pemukiman warga di Ambarawa memang berkaitan dengan rencana reaktivasi Stasiun Ambarawa yang akan dihubungkan dengan Stasiun Kedung Jati. Beliau juga senang jika Stasiun Ambarawa akan dijadikan stasiun kereta regular. Menurutnya, dengan reaktivasi stasiun otomatis akan meningkatkan ekonomi warga, karena kawasan Ambarawa akan semakin ramai.
            Setelah cukup berbincang-bincang, saya pun melanjutkan blusukan saya ke Stasiun Ambarawa yang juga berfungsi sebagai Museum Kereta Api Ambarawa. Tujuan saya kali ini bukanlah untuk berwisata atau melihat koleksi museum, akan tetapi lebih melihat proses reaktivasi Stasiun Ambarawa dan proses Renovasi Museum Ambarawa.
            Sedikit berbicara mengenai sejarah Stasiun Ambarawa, bangunan stasiun ini didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda melalui perintah raja Belanda kala itu yaitu Raja Willem I pada tahun 1873. Tujuan utama dibangunnya Stasiun Ambarawa adalah untuk kepentingan militer, karena pada zaman dahulu Ambarawa merupakan salah satu pusat basis militer pemerintah Hindia Belanda. Stasiun Ambarawa juga dikenal dengan nama Stasiun Willem I, sesuai dengan nama pencetus pendiriannya. Pada zaman dahulu di stasiun ini dilalui kereta dengan tujuan Semarang via Kedung jati, Magelang, Jogja, Temanggung, dan  Parakan. Seiring dengan berjalannya waktu dan berkembangnya alat transportasi, Stasiun Ambarawa mulai ditinggalkan penumpangnya. Akhirnya pada tahun 1976 Stasiun Ambarawa resmi ditutup oleh pemerintah.
            Dalam rangka melestarikan sejarah perkeretaapian di Indonesia, maka pemerintah kala itu berinisiatif mendirikan museum kereta api yang berfungsi sebagai tempat menyimpan peninggalan perkeretaapian serta sarana edukasi bagi masyarakat. Akhirnya dipilihlah Stasiun Ambarawa sebagai lokasi museum kereta api di Indonesia. Tepat pada tanggal 6 Oktober 1976 Stasiun Ambarawa resmi berubah menjadi Museum Kereta Api Ambarawa. Dan kini Museum Ambarawa melayani perjalanan kereta wisata ke Stasiun Tuntang dan Stasiun Bedono.

Proses Reaktivasi Jalur Kereta di Ambarawa

Sangat berbeda sekali kondisi Museum Ambarawa saat ini. Dulu kondisi lokomotif serta beberapa koleksi museum tampak tak terawat dan rusak. Lingkungan disekitar stasiunpun juga nampak kotor. Akan tetapi setelah adanya proses renovasi ini, kondisi museum nampak lebih rapi dan terawat. Lokomotif serta beberapa koleksi lainnya pun juga tampak diperbaiki. Menurut informassi yang saya peroleh, Museum Kereta Api Ambarawa akan dijadikan museum kereta api terbesar di Asia Tenggara. Semoga rencana ini benar-benar terwujud agar masyarakat bisa mengenal dan mengetahui sejarah perkeretaapian di Indonesia.
            Saat saya berkeliling di area museum, ada hal menarik yang saya temukan disana. Ada dua buah bangunan kecil yang terbuat dari kayu yang didirikan di samping stasiun mirip seperti bangunan gazebo atau warung kopi. Saya penasaran dengan dua bangunan tersebut karena ada sesuatu yang aneh dan unik yang mengusik rasa ingin tahu saya. Dugaan saya itu pasti bangunan halte. Setelah mendekat ternyata dugaan saya benar, dua bangunan tersebut adalah bekas bangunan halte kereta. Salah satu bangunannya adalah bekas bangunan Halte Cicayur. Senang sekali rasanya bisa menemukan bangunan halte disini. Halte adalah sebuah tempat yang digunakan untuk naik turunnya penumpang kereta api selain stasiun. Halte tidak selalu memiliki bangunan, kadang hanya berupa tempat berkumpul untuk naik dan turun penumpang kereta yang diberi plang penanda. Selama blusukan yang pernah saya lakukan, banyak sekali bangunan halte yang pernah saya temui dan rata-rata kondisinya kurang terawat. Sebagai contoh halte disepanjang jalur Solo-Wonogiri.

Turn Table Stasiun Ambarawa

Salah Satu Gerbong Kayu Koleksi Museum Ambarawa

Loko Penarik Tram Koleksi Museum Ambarawa

Gerbong Madura Koleksi Museum Ambarawa

Emplasemen Stasiun Ambarawa

Bekas Bangunan Halte Cicayur

Bangunan Dipo Lokomotif Stasiun Ambarawa

Halaman Stasiun Ambarawa

Stasiun Ambarawa Tahun 1890 – 1906
Sumber: kitlv.nl

Bangunan Gudang Stasiun Ambarawa

Puas menjelajahi isi Stasiun Ambarawa dan pertimbangan waktu yang semakin sore, akhirnya tepat pada pukul empat sore saya pergi meninggalkan Stasiun Ambarawa kembali melanjutkan perjalanan pulang menuju Kota Solo. Puas rasanya blusukan saya kali ini, karena bisa menjangkau tiga tempat sekaligus dalam satu waktu. Namun dibalik itu semua tersirat sedikit keprihatinan mengenai konservasi bangunan cagar budaya yang dilakukan oleh pemerintah dimana banyak sekali bangunan cagar budaya warisan kejayaan kereta api dimasa silam yang merana tak terawat. Hal ini perlu menjadi perhatian serius bagi pemerintah untuk menjaga warisan cagar budaya yang menjadi bagian besar dari sejarah perjalanan bangsa Indonesia.
            Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama dua jam, tak terasa perjalanan saya sudah tiba di Kota Bengawan. Semoga dilain kesempatan saya bisa berkesempatan kembali melakukan blusukan ditempat lain dengan cerita dan sejarah yang berbeda. Semoga. 

___________________________________________________
Developed by: blusukanpabrikgula.blogspot.com
___________________________________________________
PRIMA UTAMA / 2015 / WA: 085725571790 / MAIL, FB: primautama@ymail.com / INSTA: @primautama     







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar