Senin, 24 November 2014

JEJAK KERETA API DI MAGELANG

 YANG TERSISA DARI (SEPUR) DI MAGELANG
           
Berbicara mengenai Kota Magelang, pastilah banyak hal yang bisa diperbincangkan. Mulai dari kuliner, tempat wisata, sampai sejarah semuanya dimiliki oleh kota yang terkenal dengan Gunung Tidarnya ini. Kota yang berusia lebih dari 1000 tahun ini memiliki sejarah yang amat panjang dan menarik untuk diperbincangkan. Banyaknya situs arkeologi yang ditemukan di wilayah ini menandakan bahwa peradaban di Kota Magelang telah tumbuh sejak berabad-abad yang lalu.
            Kali ini saya berkesempatan untuk melalukan observasi atau blusukan di Kota Magelang terkait dengan sejarah transportasi masal yang ernah ada di kota ini pada awal abad 19 yaitu kereta api. Berbicara mengenai transportasi kereta api di Magelang tentu tidak bisa kita lepaskan dari peran pemerintah kolonial yang menguasai Indonesia pada saat itu. Magelang yang memiliki udara yang sejuk layaknya di Belanda menjadi magnet tersendiri bagi orang-orang Belanda untuk bermukim di kota sejuta bunga itu. Dari situlah Magelang mulai ramai dengan peradaban yang dibangun oleh kolonialisme.
Banyak indsutri, sekolah, rumah sakit, pusat bisnis bahkan basis militer dibangun di Magelang pada waktu itu. Ramainya Magelang pada saat itulah yang membuat pemerintah kolonial ingin menghubungkan Magelang dengan kota-kota lain di pulau Jawa seperti Semarang, Yogyakarta, dan Parakan. Untuk memudahkan mobilitas dan menggerakkan roda perekonomian, maka dibangunlah jalur kereta api ke Magelang.
            Jalur kereta api ke Magelang merupakan perpanjangan dari jalur kereta api Ambarawa – Secang. Jalur tersebut dibangun di akhir abad 19 yang menghubungkan Magelang hingga Yogyakarta. Pada masanya jalur ini sangat ramai oleh mobilitas warga yang hendak bepergian. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya stasiun yang dibangun di jalur Magelang hingga Yogya. Seiring dengan berjalannya waktu dan majunya teknologi, moda transportasi mulai diramaikan oleh angkutan jalan raya. Banyak jalan mulai dibangun pada dekade 1960-an. Pembangunan jalan raya ini lah yang menyebabkan beberapa jalur kereta api bersinggungan dengan jalan raya yang kala itu sudah diramaikan oleh kendaraan berbasis ban karet.
            Seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya moda transportasi kereta api di Magelang harus dipaksa menyerah terhadap kemajuan zaman. Tercatat pada tahun 1976 kereta api yang kala itu dikelola oleh PJKA harus menutup layanan perjalanan kereta api dari Magelang hingga Yogyakarta akibat kalah bersaing dengan transportasi jalan raya yang dianggap lebih cepat dan efisien. Penutupan ini merupakan rentetan penutupan jalur kereta api dari Kedungjati – Tuntang – Ambarawa – Secang – Temanggung – Parakan – Magelang – Jogja.
            Kini yang tersisa dari sejarah kereta api di Magelang hanyalah bangkai-bangkai rel kereta api yang melintang diberbagai tempat serta bangunan stasiun dengan kondisi yang merana seolah menanti untuk dihidupkan kembali. Saat ini tak banyak orang yang tahu bahwa kota yang indah ini dulunya pernah dilalui oleh ular besi yang selalu menyembulkan asap hitam membumbung tinggi seolah menandakan keperkasaannya.  

Peta Jalur Kereta Api di Magelang Tahun 1903
Sumber: kitlv.nl

Sedikit meninggalkan rutinitas harian yang cukup melelahkan, kali ini saya mencoba untuk melakukan blusukan menguak sejarah kereta api di Indonesia khususnya di Kota Magelang. Blusukan kali ini saya lakukan pada tanggal 25 Oktober 2014, bertepatan dengan hari libur Tahun Baru Hijriyah. Sebenarnya rencana ini sudah saya rencanakan jauh-jauh hari akan tetapi karena berbagai alasan baru bisa terlaksana pada tanggal 25 Oktober. Tepat pukul enam pagi saya bergerak meninggalkan Solo. Blusukan saya kala ini saya rencanakan mengambil titik strart di Desa Krincing Kecamatan Secang Magelang.
Sebenarnya di sisi paling utara Kabupaten Magelang terdapat sebuah stasiun yaitu Stasiun Candi Umbul, akan tetapi karena saya pernah mengunjunginya beberapa waktu yang lalu dan pertimbangan efisiensi waktu maka saya putuskan untuk melewatinya. Sebagai informasi Stasiun yang berada di Magelang hingga Jogjakarta setelah Stasiun Candi Umbul adalah: Stasiun Brangkal – Stasiun Secang – Stasiun Payaman – Halte Magelang Kramat – Stasiun  Kebonpolo – Stasiun Magelang Alun-Alun – Stasiun Magelang Pasar – Halte Banyurejo – Stasiun Mertoyudan – Stasiun Japonan – Stasiun Blondo – Stasiun Blabak – Stasiun Pabelan – Stasiun Muntilan – Halte Muntilan Kidul – Stasiun Dangeyan – Stasiun Tegalsari – Stasiun Semen – Stasiun Tempel – Halte Ngebong – Stasiun Medari – Stasiun Sleman – Halte Pangukan – Stasiun Beran – Halte Mlati – Halte Kutu – Halte Kricak – Stasiun Tugu. Menurut informasi yang saya peroleh dari semua bangunan halte dan stasiun tersebut tidak semua bangunannya masih bisa ditemukan. Banyak bangunan halte dan stasiun yang sudah dirobohkan karena tergusur oleh pembangunan kota.  
            Kurang lebih dua jam perjalanan saya mulai memasuki wilayah Secang Kabupaten Magelang. Sesampainya di Secang saya mulai mencari lokasi keberadaan Desa Krincing yang mana di desa itulah Stasiun Brangkal pernah berdiri. Sempat tersesat, akhirnya saya berhasil menemukan lokasi Desa Krincing. Lokasinya berada di pertigaan Krincing sebelah kiri jalan dari Ambarawa. Disana terdapat sebuah pasar desa yang ukurannya tidak terlalu besar. Dari pertigaan tersebut masuk kurang lebih dua kilo meter maka akan menjumpai sebuah jembatan yang ukurannya tidak begitu besar. Disebelah jembatan terdapat bekas rel kereta api yang bersinggungan dengan jalan raya. Kondisi rel sudah tidak utuh lagi, hanya tampak beberapa potongan rel saja yang menandakan bahwa disitulah dulu kereta api pernah lewat. Terlihat dari jalan raya jalur kereta masuk kedalam hutan kopi milik warga.
            Menurut informasi yang saya peroleh dari teman saya yang merupakan warga asli Magelang, dahulu Stasiun Brangkal terletak dekat dengan jembatan disamping jalan desa dan bangunnya sendiri sudah lama dirubuhkan. Disana memang saya sudah tidak menemukan bangunan yang menyerupai stasiun, yang nampak hanyalah bangunan semi permanen milik warga. Hanya sebuah plang milik PT. KAI yang sudah tidak utuh lagi yang bisa dijadikan penanda bahwa di situlah lahan milik PT. KAI yang kemungkinan letak Stasiun Brangkal dulunya berdiri.
            Stasiun Brangkal adalah stasiun kecil yang terletak di Desa Krincing Kabupaten Magelang. Stasiun ini didirikan pada tahun 1905 oleh NIS. Seiring dengan berjalannya waktu stasiun ini resmi ditutup pada tahun 1976 karena jalur kereta mulai sepi penumpang.  

Bekas Jalur Kereta di Desa Brangkal dari Arah Candi Umbul

Perkiraan Lokasi Stasiun Brangkal

Rel Bersinggungan dengan Jalan Raya di Desa Brangkal


Beranjak meninggalkan bekas lokasi Stasiun Brangkal, perjalanan saya lanjutkan menuju Secang. Setelah Stasiun Brangkal stasiun berikutnya adalah Stasiun Secang. Pada perjalanan kali ini saya tidak mampir ke Stasiun Secang dikarenakan  saya sudah pernah singgah distasiun ini sebelumnya dan untuk mempersingkat waktu. Setelah melewati Secang perjalanan saya lanjutkan menuju Desa Payaman untuk mencari keberadaan Stasiun Payaman.
            Tidaklah sulit untuk mencari lokasi Stasiun Payaman. Letaknya tepat didekat Pasar Payaman disebelah kiri jalan dari arah Ambarawa. Setelah melewati pasar kita akan menjumpai gang kecil menuju perkampungan, dari gang tersebut masuk kurang lebih 50 meter maka kita akan menjumpai bangunan stasiun yang berada disebelah kanan jalan. Diarea tersebut saya masih banyak menjumpai bekas jalur kereta yang masih tampak utuh.
            Kebetulan kedatangan saya waktu itu agak kurang tepat. Kala itu warga sekitar sedang mengadakan acara jalan santai dan panggung dangdut tepat di depan bangunan Stasiun Payaman, sehingga saya tidak bisa leluasa mengamati dan mengambil gambar di bangunan bekas stasiun. Sambil menikmati musik dangdut yang kebetulan saat itu sedang menyanyikan lagu yang sedang naik daun “sakitnya tuh disini” saya mencoba mencari celah untuk bisa mengambil gambar di lokasi.
            Ada hal unik yang saya temukan disini. Ada sebuah prasasti kecil di samping bangunan stasiun yang bertuliskan H.W.P (Hoog Water Peil) 1930 yang berdasarkan referensi yang saya cari memiliki arti sebagai batas ketinggian air saat terjadi banjir pada tahun 1930. Hal ini menandakan bahwa stasiun ini pernah terendam banjir pada tahun 1930. Jika melihat kondisi fisik bangunan Stasiun Payaman sebenarnya kondisinya masih bisa dikatakan terawat. Akan tetapi sayang di bagian sisi lain bangunan stasiun kini telah ditutupi oleh bangunan baru milik warga setempat. Di samping bangunan stasiun saya juga masih bisa menjumpai bangunan toilet milik Stasiun Payaman akan tetapi dengan kondisi yang kurang terawat. 
            Stasiun Payaman mulai dibangun pada tahun 1905 oleh NIS yang melayani perjalanan dari Ambarawa hingga Magelang dan sebaliknya. Stasiun ini berada di Desa Payaman Kabupaten Magelang. Penutupan stasiun ini dilakukan pada tahun 1976 seperti stasiun yang lainnya karena kalah bersaing dengan bus dan mobil pribadi.  

Bekas Bangunan Stasiun Payaman

Bekas Jalur Kereta Menuju Stasiun Payaman

Bekas Jalur Kereta di Area Stasiun Payaman

Setelah puas menikmati musik dangdut gratis Stasiun Payaman, perjalanan saya lanjutkan ke Kecamatan Magelang Utara untuk mencari lokasi Halte Magelang Kramat. Tak lama kemudian perjalanan saya tiba di bekas lokasi Halte Magelang Kramat. Letaknya tepat di depan RSJ Soerojo Magelang. Dari lokasi yang saya amati, saya sudah tidak bisa menjumpai bekas bangunannya sama sekali. Referensi mengenai keberadaan halte ini pun juga sangat sedikit. Hanya sebuah plang milik PT. KAI saja yang menjadi penanda.

Perkiraan Lokasi Halte Kramat

Berlanjut meninggalkan lokasi Halte Magelang Kramat, saya segera beranjak menuju Stasiun Magelang Kota atau akrab disebut Stasiun Kebonpolo. Cukup mudah mencari letak stasiun ini. Sebelum masuk ke Kota Magelang kita akan menjumpai papan petunjuk menuju Terminal Kebonpolo dan disitulah letak lokasi Stasiun Magelang Kota atau Stasiun Kebonpolo berada. Komplek stasiun ini sekarang memang sudah dialih fungsikan sebagai terminal angkot di Kota Magelang. Dilihat dari fisik bangunannya, Stasiun Kebonpolo sebenarnya tidak memiliki ukuran yang terlalu besar akan tetapi pada zaman dulu stasiun ini memiliki fungsi yang cuku besar mengingat lokasinya yang strategis.
            Stasiun Kebonpolo terletak di Kelurahan Petrobangsan Kecamatan Magelang Utara. Stasiun ini didirikan pada tahun 1905 dan resmi ditutup pada tahun 1976. Penutupan stasiun ini juga diikuti penutupan stasiun lain yang sejalur. Dulu di lokasi stasiun ini terdapat sebuah gerbong kayu berjenis CR sebagai monument kereta api di Kota Magelang, akan tetapi karena kondisinya yang tidak terawatt dan rusak akhirnya pada tahun 2011 gerbong tersebut dipindahkan ke museum kereta api Ambarawa. Komplek area Stasiun Kebonpolo memiliki area yang cukup luas. Disini bekas rel  jalur kereta api sudah sulit ditemui karena telah tertutup oleh aspal jalan dan bangunan milik masyarakat.

Bekas Bangunan Stasiun Magelang Kota atau Stasiun Kebonpolo

Stasiun Magelang Kota (Kebonpolo)
Sumber: Tropen Museum

 Demi mengejar waktu, perjalanan saya lanjutkan menuju ke pusat Kota Magelang untuk mencari lokasi Halte Magelang Alun-Alun. Menurut info yang saya dapatkan dari berbagai sumber, lokasi halte tersebut berada di dekat Toserba Matahari yang berada disekitar alun-alun Kota Magelang. Bangunannya sendiri memang sudah tidak berbekas sama sekali karena tergusur oleh pembangunan kota.

Perkiraan Area Lokasi Stasiun Magelang Alun-Alun

Stasiun Alun-Alun Magelang Tahun 1910
Sumber: kitlv.nl

Kondisi Jalur Kereta di Kota Magelang Tahun 1910
Sumber: kitlv.nl

Bergerak meninggalkan alun-alun Kota Magelang, perjalanan saya lanjutkan menuju Pasar Rejowinangun. Menurut informasi yang saya dapatkan dulu di Pasar Rejowinangun terdapat sebuah stasiun kereta bernama Stasiun Magelang Pasar. Cukup sulit bagi saya menemukan lokasinya. Sayapun mencoba menyusuri setiap jalan dan gang yang ada diarea sekitar pasar. Bahkan Jejak-jejak rel pun tidak satupun yang bisa saya jumpai. Pencarian saya lakukan terus secara berulang dengan asumsi mungkin saya kurang teliti atau kurang jeli. Akhirnya setelah hampir 20 menit mencari saya menyerah dan tidak berhasil menemukan jejak-jejak dari Stasiun Magelang Pasar. Suasana pasar yang ramai dengan lalu lalang kendaraan bermotor serta padat akan bangunan toko-toko mempersulit pencarian saya di area tersebut. Mungkin kali ini saya kurang beruntung.
            Menurut info yang saya dapatkan dari rekan saya yang tinggal di Magelang, bangunan Stasiun Pasar Magelang memang sudah tidak ada dan digantikan oleh taman yang ada disekitar pasar. Stasiun Magelang Pasar didirikan pada tahun 1905 dan ditutup pada tahun 1976. Dahulunya stasiun ini ramai oleh pedagang yang akan menjual hasil perkebunan dan pertaniannya ke Pasar Rejowinangun.

Kereta Berhenti di Stasiun Pasar Magelang Tahun 1910
Sumber: kitlv.nl

Suasana Penumpang Menunggu Kereta Api di Stasiun Magelang Pasar
Sumber: Kitlv.nl

Beranjak dari Pasar Rejowinangun, perjalanan saya lanjutkan mencari Stasiun Banyurejo. Menurut info yang saya dapatkan letak stasiun ini berada di Jalan Mayor Jenderal Sugeng Kelurahan Mertoyudan. Setelah lama mencari saya tidak bisa menemukan lokasi stasiun, mungkin karena bangunannya sudah dibongkar tak bersisa. Akhirnya saya berlanjut ke stasiun berikutnya yaitu Stasiun Mertoyudan. Kali ini saya beruntung karena masih bisa menjumpai bangunnannya.
            Lokasi Stasiun Mertoyudan sendiri sangat strategis karena terletak dipinggir jalan Magelang - Muntilan. Bangunan stasiun masih nampak bagus dan terawat meskipun sudah tidak terpakai. Sama dengan stasiun sebelumnya, stasiun ini didirikan pada tahun 1905 dan ditutup pada tahun 1976. Diseberang jalan saya masih bisa melihat bekas bangunan rumah dinas kepala stasiun yang masih kokoh berdiri di pinggir jalan. Bangunan Stasiun Mertoyudan sangat kontras dengan bangunan yang ada disekitarnya yang rata-rata adalah bangunan baru. Disamping bangunan stasiun saya juga masih bisa menjumpai sisa alat persinyalan kereta api yang lazim ada di stasiun-stasiun. Jika dilihat dari foto Stasiun Mertoyudan zaman dulu, jalan raya yang ada didepannya adalah bagian emplasemen stasiun.

Bekas Bangunan Stasiun Mertoyudan

Stasiun Mertoyudan Tempo Dulu
Sumber: De Tuin Van Java

Perjalanan saya lanjutkan kembali, kali ini mencari lokasi Stasiun Japonan. Menurut sumber yang ada Stasiun Japonan terletak di Jalan Mayor Jenderal Sugeng. Kali ini saya kembali kurang beruntung karena saya tidak berhasil menjumpai bangunan stasiun. Mungkin bangunan stasiun sudah dibongkar seperti stasiun yang lain. Berlanjut perjalanan saya mencari Stasiun Blondo, kali ini perjalanan agak sulit karena ternyata posisi rel telah berubah bersilangan dengan jalan raya. Rel yang semula berada di kiri jalan searah dengan arah saya, kini telah bersilang ke kanan jalan. Tentu saja hal ini agak menyulitkan pencarian saya.
            Mencari Stasiun Blondo mengantarkan saya ke daerah Mungkid Desa Blondo yang letaknya berada di sebelah kanan jalan dari arah Magelang. Cukup sulit mencari lokasi stasiun karena setelah berputar-putar lama saya hanya berhasil menemukan jejak rel nya saja. Itupun sisa rel yang masih ada “nyelempit” diantara rumah warga yang sangat padat. Mungkin saya telah menemukan stasiunnya tapi saya melewatkannya. Sempat bertanya pada 3 orang anak yang kebetulan ada dipinggir jalan yang mengatakan bahwa lokasi stasiun telah menjadi rumah warga bernama Pak Aan. Stasiun Blondo berdiri pada tahun 1905 bebarengan dengan stasiun lain di Magelang. Lokasinya yang ada di tengah pemukiman warga ini lah yang membuat banyak orang tak tahu kalau disana pernah terdapat stasiun.

Bekas Rumah Dinas Kepala Stasiun Blondo
Sumber: AkeRu

Bekas Jalur Kereta di Blondo

Beranjak dari Desa Blondo perjalanan saya lanjutkan mencari Stasiun Blabak. Kali ini jalur kereta api mulai berpindah menyeberang jalan raya ke sebelah kiri jalan dari arah Magelang. Hal ini cukup memudahkan saya untuk melakukan penelusuran. Akan tetapi saya tidak bisa menemukan titik perpotongan jalur kereta dengan jalan raya karena sudah tidak terdapat bekas rel kereta.
Sesuai dengan petunjuk yang saya miliki, Stasiun Blabak terletak tidak jauh dari pabrik kertas Blabak. Dahulu distasiun ini terdapat jalur menuju pabrik kertas. Selain untuk mengangkut penumpang, Stasiun Blabak juga digunakan untuk angkutan kertas pada masanya. Stasiun ini di buka pada tahun 1905 dan resmi ditutup pada tahun 1976. Kini bangunan stasiun telah berubah menjadi warung makan.
Disekitar area stasiun saya masih bisa menjumpai beberapa potongan besi rel kereta api. Melihat kondisi fisiknya, bangunan Stasiun Blabak masih Nampak cukup terawat. Di titik ini sebenarnya saya agak kesulitasn untuk mengambil gambar stasiun karena kondisi jalan raya yang padat akan kendaraan sehingga saya harus berputar kesebrang jalan.

Bekas Bangunan Stasiun Blabak

Meninggalkan Stasiun Blabak, perjalanan saya lanjutkan menuju Stasiun Pabelan. Menurut info yang ada letak stasiun ini tidaklah jauh dari jembatan Kali Pabelan. Mendekati Kali Pabelan saya mencoba mencari jalan menuju bekas jembatan kereta yang melintas diatas sungai. Bekas jembatan kereta yang melintas di atas Kali Pabelan cukup besar. Bahkan dari jalan rayapun kita bisa menyaksikannya. Diperkampungan dekat jembatan, saya tidak berhasil menemukan bekas rel kereta. Menurut saya bekas rel telah banyak yang hilang dan tertimbun tanah. 
Setibanya di bibir jembatan saya menyempatkan untuk beristirahat sejenak melepas lelah sembari menikmati keindahan Sungai Pabelan. Disana saya juga berusaha mencari petunjuk yang mungkin bisa menuntun saya ke bekas lokasi Stasiun Pabelan. Cukup beristirahat perjalanan saya lanjutkan dengan melintasi jembatan bekas jalur kereta yang telah disemen tersebut. Cukup menakutkan memang mengingat ketinggian jembatan yang cukup tinggi.
Bangunan Stasiun Pabelan menurut informasi yang saya peroleh dari teman saya memang sudah tidak. Tiba diseberang jembatan saya mencoba mencari jejak bekas lokasi stasiun dahulu berada. Lama mencari, akhirnya saya teta tidak berhasil menemukan bekas lokasi stasiun. Akhirnya perjalanan saya lanjutkan kembali.

Bekas Jembatan Kereta di Pabelan

Perjalanan kali ini saya lanjutkan mencari Stasiun Muntilan. Cukup mudah mencari lokasi stasiun ini karena stasiun telah diberubah menjadi Terminal Bus Muntilan. Tiba diarea terminal saya langsung bisa mengenali bangunan bekas Stasiun Muntilan. Posisi bangunan terletak disamping pintu masuk terminal. Ukuran bangunannya lumayan besar dan masih tampak terawat. Sayang sekali saya tidak bisa mengabadikan bangunan stasiun karena kebutulan pada waktu itu Hand Phone mendadak error.
Beranjak dari Terminal Muntilan perjalanan saya lanjutkan menuju Stasiun Muntilan Kidul. Saya tidak berhasil menemukan bekas stasiun, karena menurut informasi yang ada bangunan stasiun sudah dirubuhkan. Untuk letak bekas stasiun sendiri terletak di Jalan Pemuda. Berlanjut, perjalanan saya lanjutkan di Desa Gulon Kecamatan Salam untuk mencari lokasi Stasiun Dangean. Kali ini saya kembali kurang beruntung karena susah sekali mencari informasi mengenai sisa stasiun ini. Akhirnya sayapun langsung bergegas menuju Desa Jumoyo untuk mencari lokasi Stasiun Tegalsari.
Kali ini saya agak beruntung karena berhasil menemukan lokasi Stasiun Tegalsari. Posisinya sendiri berada tepat di samping Jalan Magelang sebelum jembatan Kali Putih. Kondisi stasiun sendiri masih cukup baik dan telah berubah fungsi menjadi warung makan. Dilokasi bekas stasiun saya agak mengalami kesulitan karena kebetulan dijalan raya didepan bangunan bekas stasiun terjadi kemacetan panjang sehingga saya tidak bisa mengambil gambar bangunan stasiun.

Stasiun Tegalsari Tempo Dulu
Sumber: google.com

Sembari berkutat dengan macetnya jalan raya, perjalanan saya beranjak meninggalkan Stasiun Tegalsari menuju Stasiun Semen. Stasiun Semen terletak di Desa Sucen Kecamatan Salam atau di Jalan Magelang. Sayang sekali saya tidak bisa menemukan bekas bangunan stasiun. Sangat sedikit sekali informasi mengenai stasiun ini, namun menurut info lokasi stasiun berada didekat pertigaan Semen. Berhubung hari semakin siang, perjalanan saya lanjutkan menuju Stasiun Tempel yang berada di Kabupaten Sleman. Stasiun ini terletak disamping kanan jembatan Krasak atau perbatasan antara Jateng dan DIY.
            Awalnya saya sangat kesulitan mencari lokasi stasiun ini, karena posisi saya berada di kiri jalan sedangkan saya harus menyebrang jalan dengan kondisi lalu lintas yang sangat padat. Akhirnya melalui informasi yang saya peroleh dari seorang nenek yang berada disana, saya ditunjukkan jalan pintas menuju stasiun melalui terowongan yang berada di bawah jembatan.

Stasiun Tempel Tempo Dulu
Sumber: Tropen Museum

Bekas Bangunan Stasiun Tempel

Bangunan Gudang Stasiun Tempel

Bangunan Rumah Dinas Kepala Stasiun Tempel

Stasiun Tempel terletak di dekat Pasar Tempel. Stasiun ini dibuka pada tahun 1905 dan resmi ditutup pada tahun 1976 akibat sepinya jumlah penumpang. Bangunan bekas stasiun masih nampak bagus dan terawat. Disana kita masih bisa menemukan bekas rumah dinas kepala stasiun, bangunan stasiun, bangunan gudang stasiun dan menara air. Stasiun Tempel sendiri kini telah dialihfungsikan sebagai taman kanak-kanak.
Sebelum beranjak dari Tempel, saya menyempatkan diri untuk istirahat sejenak sambil melepas lelah. Kebetulan didekat jembatan Kali Krasak ada penjual lotek yang lumayan enak dengan harga terjangkau. Setelah puas mengisi perut perjalanan saya lanjutkan mencari Halte Ngebong yang pada akhirnya saya juga tidak berhasil menemukan bekas halte ini.
            Berpacu dengan teriknya matahari siang itu, saya segera tancap gas menuju stasiun berikutnya yakni Stasiun Medari. Stasiun Medari menurut info yang saya dapatkan terletak di dekat bekas pabrik Medari yang dulunya adalah bangunan Pabrik Gula Medari di Desa Caturharjo. Cukup lama saya berkutat ditempat itu, namun yang saya temukan hanyalah tiang listrik yang terbuat dari bekas besi rel kereta api. Dulu terdapat jalur kereta menuju ke pabrik Medari saat masih menjadi pabrik gula. Kini bekas jalur kereta sudah sangat sulit ditemukan.

Bekas Bangunan Stasiun Medari
Sumber: kombor.com

Selanjutnya perjalanan saya lanjutkan menuju Stasiun Sleman. Menurut info yang saya dapatkan Stasiun Sleman telah berubah menjadi taman kota yang berada di dekat Pasar Sleman. Tak banyak informasi yang saya miliki mengenai stasiun ini. Perjalananpun saya lanjutkan kembali menuju Stasiun Pangukan. Saya kurang tahu persis mengenai lokasi Stasiun Pangukan ini karena sedikitnya info yang saya miliki. Akhirnya perjalananpun saya lanjutkan menuju Stasiun Beran.

Perkiraan Bekas Lokasi Stasiun Sleman

Perjalanan saya akhirnya tiba dipusat Kota Sleman. Kali ini saya mencoba mencari posisi Stasiun Beran yang terletak di Desa Tridadi Sleman. Posisinya sendiri terletak dijalan Pringgodiningrat dibagian depan dan Jalan PJKA dibagian belakang. Sebenarnya saya agak sedikit mengalami kesulitan mencari lokasi bekas bangunan stasiun karena banyaknya percabangan jalan disana.
Menurut info yang saya dapatkan bangunan bekas Stasiun Beran kini dipakai sebagai kantor Koramil. Setibanya didepan kantor Koramil, sepintas bangunan yang saya lihat sudah tidak menyerupai bangunan stasiun lagi. Hal ini dikarenakan bangunan sendiri sudah mengalami banyak  renovasi. Menurut beberapa artikel yang pernah saya baca dibagian dalam kantor Koramil tersebut masih terdapat bagian bangunan yang dahulu digunakan sebagai tempat penjualan tiket seperti yang ada disetiap stasiun. Perlengkapan kereta api yang masih tersisa di lokasi tersebut adalah bekas peralatan sinyal yang terletak di saming bangunan kantor Koramil.

Bekas Bangunan Stasiun Beran

Beranjak dari Stasiun Beran, perjalanan saya lanjutkan menuju Halte Mlati. Halte ini terletak di Desa Sendangdadi Kecamatan Mlati Sleman. Lokasinya sangat mudah untuk ditemukan yaitu di Jalan Magelang KM 7,8. Bangunan halte sendiri sekarang sudah dialihfungsikan sebagai pos polisi sehingga bangunannya sudah tidak menyerupai bangunan halte kereta api.

Bekas Bangunan Halte Mlati

Dibagian samping halte terdapat sebuah bangunan gereja yang cukup besar yakni Gereja Santo Aloysius. Menurut sejarah yang pernah saya baca, dahulu tujuan pembangunan Halte Mlati adalah sebagai sarana bagi orang-orang Belanda yang hendak ingin pergi sembahyang ke gereja. Bahkan menurut beberapa referenssi menyebutkan didalam bekas bangunan  halte sekarang masih terdapat tulisan ruang tunggu bagi penumpang kereta.
 Perjalanan kembali saya lanjutkan mencari lokasi Halte Kutu. Halte ini terletak di Desa Sinduaji Kecamatan Mlati Sleman atau tepatnya berada di depan gedung TVRI Jogja. Sesampainya disana saya sama sekali sudah tidak bisa menemukan bekas halte karena telah tergusur oleh pembangunan kota. Sayapun hanya bisa memperkirakan lokasi halte dimana dulunya berdiri.

Perkiraan Lokasi Halte Kutu

Dibekas lokasi Halte Kutu inilah perjalanan saya berakhir. Sebenarnya setelah Halte Kutu masih ada dua lokasi lagi, yaitu Halte Kricak dan Stasiun Tugu. Halte Kricak menurut informasi yang saya peroleh bangunannya sudah tidak ada karena telah lama dirubuhkan. Halte ini terletak di Kelurahan Kricak atau tepatnya di depan gedung KPU Jogja. Sedangkan untuk Stasiun Tugu sendiri saat ini masih aktif digunakan dan merupakan stasiun terbesar di Provinsi DIY yang melayani perjalanan kereta api keseluruh pelosok pulau Jawa terutama dijalur selatan. Di Stasiun Tugu itulah jalur kereta api dari Megelang berakhir. Stasiun Tugu merupakan stasiun yang ramai dimasanya karena distasiun tersebut terdapat beberapa percabangan jalur menuju kebeberapa wilayah diantaranya adalah Solo, Kutoarjo, Magelang, Pundong via Ngabean, dan Sewugalur.

Stasiun Tugu Tahun 1890 dan 1935
Sumber: kitlv.nl

Setelah melalui puluhan stasiun dan halte disepanjang Magelang dan Jogja, perjalanan saya lanjutkan pulang menuju Solo. Kurang lebih dua jam perjalanan akhirnya saya tiba di Solo dengan selamat. Lelah pasti iya, akan tetapi banyak pengalaman dan hal-hal baru yang saya jumpai diperjalanan saya kali ini. Semoga dilain waktu saya bisa melakukan blusukan lagi ditempat lain dengan sejarah kereta api yang tak kalah serunya.

_______________________________________
Artikel ini dikembangkan oleh: blusukanabrikgula.blogspot.com
_______________________________________
PRIMA UTAMA / 2014 / WA: 085725571790 / MAIL, FB: primautama@ymail.com / INSTA: @primautama  




























8 komentar:

  1. Semangat bos... Semoga semarang magelang jogja terhubung kembali

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih mas. kita semua berharap semoga rencana itu segera terealisasi

      Hapus
  2. Waduuh.. Komplit sekali mas ulasannya..
    Btw anda jalan2 sendiri itu?
    oiya ada 2 hal yang saya mau sampaikan
    1) pertemuan jalan sepur dan rel di blabak, pas pemotongannya ada di dekat kerajinan akar blabak..
    2) Stasiun Pabelan menurut bapak saya, ada di dekat pertigaan masuk ponpes pabelan. (pertemuan jalan raya lama/jalan rel dengan jalan raya baru)

    ok
    sukses selalu mas!

    BalasHapus
    Balasan
    1. heheheh, komplit tapi banyak yang gak dapat datanya
      iya mas saya blusukan sendiri. semua postingan blusukan saya lakukan sendirian (modal nekat)

      makasih mas atas tambahan informasinya

      Hapus
  3. 'magelang-jogja' katanya mau di reaktivasi oleh PT KAI, yang sebelumnya 'semarang-demak' dan yang saat ini masih in progress 'tuntang-kedungjati'.

    Saya punya request buat admin nih, bisa ngga fotokan stasion Secang dan bukti emplasemen percabangannya ke Parakan ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. untuk request saudara silakan buka blog saya dan cari artikel yang berjudul jalur kereta di kota tembakau, diartikel tersebut terdapat poto stasiun secang dan emplasemennya

      ada juga foto menuju ke parakan yang terletak di dekat pom bensin di daerah secang menuju temanggung parakan

      terimaksih

      Hapus
  4. Mantab... saya suka sekali, baca sejarah dan liat foto2nya seolah ingin sekali masuk ke masa lalu...

    BalasHapus
  5. Mantab... saya suka sekali, baca sejarah dan liat foto2nya seolah ingin sekali masuk ke masa lalu...

    BalasHapus