Rabu, 08 Oktober 2014

JALUR KERETA TEMANGGUNG - PARAKAN

 JEJAK KERETA API DI KOTA TEMBAKAU

            Siapa yang mengira bahwa Kota Temanggung, kota yang terkenal akan hasil tembakaunya ini dahulu pernah dilintasi kereta api. Bahkan beberapa stasiun tercatat pernah berdiri di Kabupaten yang terkenal dengan bakso ulegnya ini. Saya sendiri baru mengetahui keberadaan kereta api di Temanggung saat tinggal di Semarang melalui cerita yang disampaikan oleh teman kos saya yang merupakan penduduk asli Temanggung.
            Pengetahuan saya akan bukti keberadaan kereta api di Temanggung semakin bertambah tatkala saya tinggal di Temanggung selama hampir 45 hari dalam rangka menyelesaikan tugas Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari kampus pada tahun 2012. Waktu itu saya sempat menjumpai beberapa bukti keberadaan kereta api di Temanggung seperti bangunan bekas stasiun dan bekas jembatan kereta api dibeberapa titik. Namun waktu itu saya belum berfikiran untuk menggali lebih jauh informasi mengenai keberadaan kereta api di Temanggung mengingat masih sedikitnya informasi yang saya miliki kala itu. Blusukan saya kali ini akan membahas mengenai bukti keberadaan kereta api di Temanggung dimasa lampau yang telah lama mati akibat kalah bersaing dengan moda transportasi berbasis jalan raya seperti bis dan kendaraan pribadi. 

Sejarah Singkat
            Jalur kereta api dari Secang menuju Parakan adalah jalur kereta yang dibangun setelah pembangunan jalur Secang-Magelang yang selesai dibangun pada 15 Mei 1903. Pembangunan jalur ini di bagi dalam dua tahap, yakni rute Secang hingga Temanggung yang mulai beroperasi pada 3 Januari 1907 dan rute Temanggung hingga Parakan yang mulai beroperasi pada 1 Juli 1907. Sepanjang rute ini tercatat ada beberapa stasiun dan halte sebagai tempat naik turun penumpang, diantaranya adalah: Stasiun Secang, Halte Nguwet, Stasiun Kranggan, Halte Guntur, Stasiun Temanggung, Halte Maron, Stasiun Kedu, dan Stasiun Parakan.
            Menurut catatan sejarah, pembangunan jalur kereta api diwilayah Ambarawa, Secang, Temanggung, Parakan, dan Magelang tidaklah luput dari peran pemborong sekaligus insinyur asal Tiongkok kala itu yang bernama Ho Tjong An. Tercatat biaya pembangunan jalur kereta api dari Magelang hingga Secang serta Secang hingga Parakan sebesar f 350.000,- (Guilders Belanda). Tentu angka tersebut merupakan nominal yang sangat besar diwaktu itu.

Peta Jalur Kereta Api di Temanggung Tahun 1903
Sumber: kitlv.nl


Memulai Blusukan
            Blusukan kali ini saya lakukan pada tanggal 21 September 2014 tepatnya pada hari Minggu. Saya mengambil titik start dari Solo menuju Secang Magelang pada pukul enam pagi. Rute yang saya ambil kali ini melewati Boyolali dan Salatiga via Banyubiru selama kurang lebih dua jam perjalanan. Tujuan pertama saya yaitu mencari letak Stasiun Secang sebagai stastiun awal rute kereta menuju Parakan. Tepat pukul delapan pagi saya tiba di Kecamatan Secang.
            Sesampainya di Secang saya langsung mencari lokasi gudang pupuk milik Pusri karena menurut info yang saya dapatkan, didekat gudang itulah Stasiun Secang berada. Sesampainya di pertigaan Secang, saya mulai melihat bangunan kuno rumah dinas kepala stasiun yang tampak kosong tak terawat tepat berdiri disekitar traffic light Secang. Dugaan saya kemungkinan Stasiun Secang berada di sekitar kawasan tersebut. Terus berjalan ke arah barat akhirnya saya menemukan gudang Pusri. Tepat di sebelah gudang terdapat jalan kecil menuju perkampungan. Saya pun bergegas memasuki gang tersebut dengan harapan menemukan bekas bangunan Stasiun Secang.
            Terus masuk kedalam kampung, akhirnya saya menemukan sebuah bangunan yang mirip dengan bangunan gudang berdiri tepat di samping rumah warga. Dengan rasa penasaran yang semakin bertambah, saya mencoba menilik area di belakang gudang tersebut. Benar saja, akhirnya saya berhasil menemukan bekas bangunan Stasiun Secang yang nampak kotor tak terawat berada tak jauh dari bangunan gudang stasiun.
            Diemplasemen stasiun, saya mencoba mengamati kondisi sekitar Stasiun Secang sembari melepas lelah. Kondisi bangunan stasiun sendiri sebenarnya masih utuh dengan daun pintu dan daun jendela yang saya perkirakan masih asli. Bahkan saya masih bisa menemukan lantai khas emplasemen stasiun dengan bentuk kotak-kotak berwarna kuning yang masih asli. Lokasi area Stasiun Secang sebenarnya belum terlalu banyak berubah. Disana juga masih bisa dijumpai sisa-sisa rel menuju ke arah Magelang dan Temanggung.
Stasiun Secang adalah stasiun yang terletak di Kecamatan Secang Kabupaten Magelang yang berdiri diatas ketinggian 466 meter diatas permukaan air laut. Stasiun ini didirikan oleh perusahaan kereta api Hindia Belanda NIS dengan memiliki tiga jalur, yaitu jalur menuju ke Semarang, Yogyakarta, dan Parakan. Sebelum tahun 1970 jalur ini ramai oleh penumpang yang hendak bepergian. Namun seiring dengan berjalannya waktu, penumpang mulai beralih menggunakan angkutan berbasis jalan raya  yang mengakibatkan jumlah penumpang kereta turun drastis.
Tepat pada tahun 1973 jalur dari Secang menuju Parakan ditutup oleh Jawatan Kereta Api karena menurunnya jumlah okupansi penumpang. Tak lama kemudian setelah jalur tersebut ditutup menyusul jalur Kedungjati hingga Magelang yang ikut ditutup karena alasan yang sama pada tahun 1976.

Bekas Bangunan Gudang Stasiun Secang

Bekas Emplasemen Stasiun Secang

Bekas Rel Menuju Magelang

Halaman Depan Stasiun Secang

Puas menengok keberadaan Stasiun Secang, perjalanan saya lanjutkan menuju Halte Nguwet. Masih mengikuti jalan kampung yang ada disekitar stasiun, saya masih bisa menjumpai sisa-sisa rel menuju Temanggung yang menyatu dengan jalanan aspal kampung. Perjalanan saya lanjutkan ke utara ke arah Temanggung. Masih di wilayah Secang, saya menjumpai persilangan jalur kereta api memotong jalan raya menuju ke timur. Lokasinya tepat berada di seberang pom bensin yang ada di Secang. Di persilangan tersebut juga masih nampak bekas rel dan gundukan tanah bekas jalur kereta api.
Diarea ini saya sempat berhenti sejenak sembari mengamati pergerakan jalur kereta.  Ada kejadian unik yang saya alami saat berada di area ini. Rasa penasaran saya yang tinggi akan kondisi bekas jalur kereta membuat saya nekat masuk kedalam perkebunan mengikuti gundukan tanah bekas jalur kereta. Terus merangsek masuk kedalam perkebunan tanpa saya sadari jalan tersebut ternyata menuntun saya ke sebuah area pemakaman warga yang berada di tengah perkebunan. Guna menghindari hal-hal yang tidak saya inginkan saya pun langsung berputar arah.    

Bekas Jalur Kereta dari Stasiun Secang

Rel Berotongan dengan Jalan Raya


Dari titik persilangan tersebut perjalanan saya lanjutkan mencari keberdaan Halte Nguwet. Menurut info yang saya dapatkan Halte Nguwet terletak di Desa Nguwet Kecamatan Kranggan Temanggung. Bangunannya sendiri menurut informasi sudah tidak berbekas. Dengan rasa penasaran sayapun bergegas menuju kesana.
            Cukup mudah mencari lokasi Desa Nguwet. Memasuki Kecamatan Kranggan saya menjumpai pertigaan yang memiliki traffic light. Di pertigaan tersebut nampak plang milik PT. KAI tertancap di sebelah kanan jalan. Untuk menuju Desa Nguwet saya mengambil arah kekanan dari arah Secang kurang lebih sejauh 3 kilometer. Sampai di Desa Nguwet sebelum pom bensin saya melihat beberapa tiang sinyal kereta yang terbuat dari besi rel kereta tertancap di area persawahan. Tepat disamping pom bensin saya kembali menemukan persilangan rel dengan jalan raya. Rel tersebut membentang lurus melintas diatas sebuah sungai yang posisinya agak jauh dari jalan raya.

Bekas Rel Bersilangan dengan Jalan Raya


Sesampainya di depan Kantor Desa Nguwet saya mencoba masuk ke sebuah jalan kampung dengan harapan akan memperoleh petunjuk mengenai keberadaan Halte Nguwet. Terus masuk hingga tiba di ujung jalan, saya sama sekali tidak menemukan petunjuk mengenai keberadaan halte disana. Kebetulan saya bertemu dengan seorang kakek yang sedang membersihkan halaman rumahnya. Saya menanyakan kepada beliau mengenai keberadaan Halte Nguwet dengan harapan kakek tersebut mengetahuinya. Benar saja, kakek tersebut dengan hafalnya menunjukkan kepada saya dimana letak Halte Nguwet berdiri.
            Informasi yang saya dapatkan dari kakek tersebut adalah bahwa Halte Nguwet terletak dibelakang sebuah pabrik yang kebetulan tadi saya lewati. Beliau menandaskan bahwa bangunan halte sendiri sudah tidak ada bekasnya. Dengan berbekal informasi tersebut, saya segera tancap gas menuju pabrik yang dimaksud sang kakek. Sesampainya di depan pabrik saya cukup sulit menemukan jalan masuk menuju area dibelakang pabrik karena lokasi pabrik yang dikelilingi oleh sawah. Akhirnya setelah mondar-mandir saya menemukan sebuah jalan kecil menuju ke persawahan yang tak jauh dari pabrik.
            Jalan yang saya lewati ini sungguh berbahaya. Lebar jalan yang tidak terlalu besar serta kondisi jalan yang terbuat dari batu sungai yang di susun membuat saya harus ekstra hati-hati. Setelah masuk kurang lebih 100 meter, akhirnya saya tiba di ujung jalan yang berada tepat di belakang pabrik. Disekitar area tersebut saya menemukan patok yang terbuat dari rel kereta api tertancap di tengah sawah. Menurut perkiraan saya disitulah dulunya lokasi Halte Nguwet berdiri. Tak jauh dari patok tersebut, saya juga menjumpai sebuah jembatan yang lumayan besar melintas di atas sungai dengan konstruksi bangunan yang masih tergolong baik.

Perkiraan Lokasi Halte Nguwet

Bekas Jembatan di Nguwet

Puas mengamati area jembatan di Desa Nguwet, perjalanan saya lanjutkan kembali menuju Kranggan untuk mencari keberadaan Stasiun Kranggan. Setibanya di Kranggan saya berusaha mencari lokasi stasiun yang menurut informasi yang saya peroleh berada tidak jauh dari lokasi Pasar Kranggan. Sambil berjalan pelan saya mengamati perkampungan di seberang pasar dan tak sengaja menemukan plang milik PT. KAI tertancap di ujung gang kampung. Saya segera bergegas menghampiri plang tersebut.
Di sekitar area plang milik KAI saya melihat sebuah tiang sinyal yang terbuat dari potongan besi rel kereta tertancap di sebuah kandang ayam milik warga. Saya pun berlanjut menelusuri kampung tersebut melalui jalanan kampung yang sempit. Menurut analisa saya jalan kampung yang saya lewati ini adalah bekas jalur kereta api, mengingat lebar dan bentuk gundukan jalan yang menyerupai jalur kereta api ditambah dengan tiang sinyal yang saya temukan tadi memperkuat hipotesis saya.

Bekas Sinyal Stasiun Kranggan

Tiba diujung jalan secara tak sengaja akhirnya saya menemukan bangunan bekas Stasiun Kranggan. Bentuknya mirip dengan yang saya lihat di gambar. Selain itu bentuk bangunan khas stasiun dengan lubang ventilasi bundar di bagian atasnya membuat saya yakin bahwa itulah bangunan yang saya cari. Dilihat dari bentuk fisiknya, bangunan stasiun masih nampak terawat meskipun ada penambahan bangunan baru di sisi utara.
  Stasiun Kranggan adalah salah satu stasiun yang ada di Temanggung yang terletak di Desa Pendowo. Stasiun ini dibuka pada tahun 1907 dan ditutup pada tahun 1973 setelah 66 tahun beroperasi. Stasiun ini berdiri di diketinggian 467 meter diatas permukaan air laut dan dibangun oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) sebuah perusahaan swasta kereta api Hindia Belanda. Kini bangunan stasiun di gunakan oleh mantan pegawai PJKA sebagai tempat tinggal.  

Stasiun Kranggan

 Dari Stasiun Kranggan perjalanan saya lanjutkan menuju Temanggung untuk mencari lokasi Halte Guntur. Tak jauh perjalanan saya dari Kranggan saya melintasi Kali Progo yang diatasnya masih terdapat bekas jembatan kereta api yang melintang. Menurut informasi yang saya dapatkan pada tahun 1947 pernah terjadi kecelakaan kereta api di jembatan tersebut yang mengakibatkan kereta api tercebur ke dalam sungai. Saya menyempatkan diri untuk mendekati area jembatan untuk melihat kondisi jembatan.

Bekas Jembatan Kereta Melintas Diatas Kali Progo


Kereta Melintas Diatas Kali Progo Tahun 1900
Sumber: kitlv.nl

Dari area jembatan Kali Progo perjalanan saya lanjutkan menuju Halte Guntur yang berada di Desa Guntur. Letak Desa Guntur sendiri berada di sebelah kanan jalan gapura masuk Kecamatan Temanggung atau tepatnya kanan jalan sebelum Kantor Dinhub Temanggung. Perjalanan saya lanjutkan menyusuri jalanan kampung yang sepi. Kebetulan saat tiba di sana, perjalanan saya agak terhambat karena ada perbaikan jalan yang sedang dilakukan oleh masyarakat desa. Perjalanan saya pun dialihkan oleh warga menyusuri jalan setapak yang ada di kampung tersebut.
            Pengalihan jalur yang dilakukan warga tersebut ternyata menjadi sebuah keberuntungan tersendiri bagi saya. Ternyata jalan setapak yang saya lalui adalah bekas jalur kereta api di Desa Guntur. Beberapa potongan rel keretapun masih bisa saya temukan. Bahkan batuan kerikil yang mirip bantalan jalur kereta pun masih bisa saya jumpai. Tak lama kemudian bekas rel tersebut mengarahkan saya ke sebuah lokasi yang menurut artikel yang saya dapatkan adalah bekas lokasi Halte Guntur berdiri dahulu. Bangunan Halte Guntur sendiri memang sudah tidak ada dan tak berbekas. Dari titik tersebut rel bersilangan dengan jalan desa dan menembus ke rumah warga.

Bekas Jalur Kereta di Desa Guntur

Perkiraan Lokasi Halte Guntur

Beranjak dari Desa Guntur pencarian saya lanjutkan menuju Kota Temanggung untuk mencari letak Stasiun Temanggung. Tidaklah sulit bagi saya untuk menemukan lokasi stasiun. Selain posisinya yang sangat strategis yakni di belakang Kantor Bupati Temanggung, saya sudah pernah melihat bangunan Stasiun Temanggung sebelumnya saat mengikuti program KKN di Temanggung tahun 2012, sehingga saya hafal betul letak dan kondisi dari Stasiun Temanggung.
            Setibanya di Stasiun Temanggung, saya masih bisa melihat bangunan stasiun yang masih tampak gagah berdiri dengan kondisi yang masih terawat. Posisinya yang berdiri di tengah padatnya pemukiman penduduk membuat tidak banyak orang mengetahui bahwa bangunan tua bercat merah tua itu dulunya adalah sebuah stasiun. Bahkan teman kuliah saya dulu yang berasal dari Temanggung hanya mengetahui bahwa stasiun yang ada di Temanggung hanyalah Stasiun Parakan saja.
            Masyarakat sekitar sekarang lebih mengenal tempat ini sebagai Gedung Juang 45. Stasiun Temanggung dibangun pada tahun 1907 oleh Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Dahulunya stasiun ini selain untuk angkutan penumpang juga digunakan untuk mengangkut hasil bumi seperti tembakau. Stasiun di tutup pada tahun 1973 setelah 66 tahun beroperasi. Alasan penutupan stasiun ini sama dengan stasiun-stasiun lainnya yaitu kalah bersaing dengan angkutan jalan raya. Selain itu laju kereta yang lambat pada masa itu juga membuat masyarakat malas menggunakan kereta. Kini bangunan stasiun dimanfaatkan sebagai kantor sekretariat Persatuan Purnawirawan ABRI (Pepabri).

Bangunan Bekas Stasiun Temanggung

Stasiun Temanggung Tahun 1907
Sumber: Oliver Johannes Collection

Puas mengambil gambar di Stasiun Temanggung, perjalanan saya lanjutkan menuju ke arah Kecamatan Kedu. Sepanjang perjalanan saya menuju Kedu, saya disuguhi dengan sebuah pemandangan yang luar biasa saat melintasi Kali Kuwas. Tepat di atas Kali Kuwas membentang sebuah bekas jembatan kereta api yang masih nampak kokoh berdiri dengan kerangka bajanya yang masih utuh. Sebenarnya jembatan ini juga sudah tidak asing bagi saya, karena dulu jika hendak pergi ke Kota Temanggung saat KKN, saya sering menyaksikan jembatan ini dari kejauhan.
            Meskipun jembatan Kali Kuwas sudah tidak asing bagi saya, tetapi jembatan ini tetap menyimpan keindahan tersendiri bagi saya dan tidak pernah bosan untuk memandangnya. Tak bisa dibayangkan keindahannya seumpama jembatan tersebut masih aktif dilalui kereta api, pasti akan memberikan pemandangan yang luar biasa indahnya. Saat itu saya mencoba untuk menjangkau lebih dekat kearah jembatan untuk melihat kondisinya secara lebih detail. Saya mencoba masuk kesebuah perkampungan yang letaknya tepat di bawah jembatan melalui sebuah gang kecil dari jalan raya. Warna sawah yang hijau serta jernihnya air sungai menambah keindahan pemandangan di lokasi tersebut.

Jembatan Kali Kuwas

Jembatan Kali Kuwas Tahun 1900
Sumber: kitlv.nl

Kerangka Jembatan Kali Kuwas

Puas menikmati keindahan jembatan Kali Kuwas perjalanan saya lanjutkan ke Kecamatan Kedu. Sebelum tiba di Kedu saya teringat bahwa di daerah Maron dulunya terdapat sebuah halte pemberhentian kereta api. Tak lama berselang perjalanan saya tiba di pertigaan Maron. Menurut referensi yang saya dapatkan bahwa letak Halte Maron dulunya berada di sekitar pertigaan tersebut.  Saya mencoba berbelok ke kanan dari arah Temanggung menuju sebuah terminal kecil yang tak jauh dari lokasi pertigaan. Disana saya menemukan sebuah plang milik PT. KAI tertancap di samping ruko dengan kondisi sedikit tertutup pohon rambutan. Saya memperkirakan bahwa dilokasi itulah dulunya Halte Maron berdiri. Sayang bangunan haltepun sekarang sudah dibongkar dan berubah menjadi kawasan pertokoan. Perjalananpun saya lanjutkan menuju Kecamatan Kedu untuk mencari letak Stasiun Kedu.

Perkiraan Lokasi Halte Maron

Selama perjalanan menuju Kecamatan Kedu saya mulai menjumpai bekas-bekas jalur kereta yang masih nampak terlihat di sisi kanan jalan. Beberapa sisa rel masih nampak jelas, akan tetapi juga ada yang sudah tertutup oleh bangunan warga dan perkebunan. Bahkan di sebuah titik saya masih bisa menjumpai tiang sinyal yang tertancap di pinggir jalan.  Akhirnya saya masuk diwilayah Kecamatan Kedu. Kali ini tujuan saya adalah Kantor Kecamatan Kedu yang menurut referensi letak Stasiun Kedu berada persis didepan kantor kecamatan. Sebelumnya saya sudah tahu dimana lokasi kantor kecamatan, karena saat KKN dulu kebetulan teman saya menginap di kompleks kantor kecamatan tersebut.
            Tibanya di depan Kantor Kecamatan Kedu, saya mulai mengamati area didepan kantor. Benar saja, ada sebuah gang kecil dimana terdapat bangunan tua bercat kuning yang berdiri di ujung gang. Saya pun kemudian masuk ke gang tersebut. Suasana sepi langsung terasa ketika saya menuju bangunan tua tersebut. Tak ada aktivitas yang bisa saya jumpai di sana. Bahkan suasana angkerpun sempat muncul dibenak saya. Dibagian belakang bangunan terdapat alat persinyalan seperti yang lazim terdapat di stasiun dan ada beberapa bekas potongan besi rel kereta api.

Bagian Depan Stasiun Kedu

Jika dilihat dari arsitek bangunan stasiun, bentuk bangunan Stasiun Kedu tidak menyerupai bentuk stasiun yang saya jumpai sebelumnya. Saya sempat berpendapat bahwa mungkin bangunan stasiun adalah bangunan yang telah di pugar sehingga bentuk aslinya telah dirubah. Menurut sejarahnya Stasiun Kedu dibangun pada tahun 1907 oleh NIS. Pada masanya stasiun ini melayani angkutan penumpang dan barang. Stasiun ini masih beroperasi hingga dekade 1970-an dan kemudian ditutup pada tahun 1973 karena menurunnya jumlah penumpang. Bekas bangunan stasiun kini digunakan oleh Pepabri sebagai kantor sekretariat.

Emplasemen Stasiun Kedu

Sebuah Kereta Berhenti di Wilayah Kedu Tahun 1910
Sumber: kitlv.nl

Hari beranjak siang, perjalananpun saya lanjutkan menuju stasiun terakhir yakni Stasiun Parakan. Jarak antara Stasiun Kedu dengan Stasiun Parakan lumayan cukup jauh. Sepanjang perjalanan saya disuguhi pemandangan ladang tembakau dengan latar belakang Gunung Sindoro Sumbing yang sangat indah. Masih didaerah Kedu, saya teringat pada sebuah referensi bahwa di Desa Campursari Kecamatan Bulu terdapat bekas jembatan kereta api yang bersilangan dengan jalan raya yang kini digunakan warga sebagai jembatan penyeberangan yang terkenal dengan nama Plengkung Campursari. Sayapun mencoba mencari jembatan tersebut. Ternyata tidaklah sulit menemukan lokasi tersebut. Sebelum Parakan ada sebuah pertigaan besar belok kiri ke arah Bulu, kurang lebih 2 kilometer maka kita akan menjumpai jembatan tersebut.

Bekas Jembatan Kereta di Bulu

Beranjak dari Plengkung Campursari, saya segera tancap gas menuju Parakan. Setibanya di Parakan saya sempat tersesat mencari lokasi Stasiun Parakan. Suasana yang ramai serta banyaknya jalan searah membuat saya kebingungan. Setelah memasuki beberapa jalan dan bertanya kepada seorang tukang parkir akhirnya saya berhasil menemukan lokasi Stasiun Parakan. Lokasinya terletak di sebuah jalan kecil kiri jalan sebelum Indomaret Parakan. Dari pertigaan masuk kurang lebih 50 meter. Sebelum SMK Parakan ada jalan kekanan kemudian masuk maka kita akan menjumpai area bekas Stasiun Parakan.
            Bangunan pertama yang saya temui adalah bekas gudang stasiun. Bangunannya cukup besar dengan kondisi yang masih terawat. Kurang lebih 30 meter dari bangunan gudang saya kemudian menjumpai lokasi Stasiun Parakan. Bentuk bangunannya menyerupai Stasiun Temanggung akan tetapi kondisinya jauh sangat memprihatikan. Bangunan stasiun tampak kotor dan tidak terawat serta banyak sampah yang berserakan meskipun bangunan tersebut dihuni oleh pensiunan PJKA. Mungkin karena lokasinya yang dekat dengan pasar membuat bangunan stasiun nampak kumuh.
Stasiun Parakan adalah stasiun pemberhentian terakhir kereta api dari Secang. Stasiun ini didirikan oleh NIS pada tahun 1907. Pada masanya stasiun ini memiliki fasilitas yang lengkap seperti gudang, dipo kereta api dan dipo lokomotif. Stasiun ini masih ramai oleh penumpang pada tahun 1970-an kemudian selang tak berapa lama pada tahun 1973 stasiun ini resmi ditutup seiring ditutupnya jalur dari Secang karena jumlah penumpang yang turun drastis. Kini area sekitar bangunan Stasiun Parakan dimanfaatkan sebagai tempat parkir truk-truk angkutan barang yang melakukan distribusi barang di Pasar Parakan. 

Bekas Bangunan Gudang Stasiun Parakan

Halaman Depan Stasiun Parakan

Stasiun Parakan Tahun 1910
Sumber: N.I.S.M. Lijn Djoeja

Bagian Belakang Stasiun Parakan

Emplasemen Stasiun Parakan

Beranjak dari Stasiun Parakan perjalanan saya lanjutkan pulang. Saat perjalanan pulang, di dekat Pasar Parakan saya melintas disebuah jembatan yang berukuran lumayan besar. Disisi kiri saya melihat bekas jembatan kereta api yang masih nampak utuh dan kokoh. Saya pun tertarik untuk mendekat ke area jembatan tersebut. Cukup sulit ternyata untuk menjangkau jembatan tersebut karena area disekitar jembatan telah berubah menjadi kawasan pertokoan yang padat.
Dengan sangat teliti saya mencoba mencari jalan menuju jembatan tersebut. Akhirnya saya melihat sebuah gang kecil terletak disamping sebuah showroom. Sayapun masuk melalui jalan tersebut. Sampainya disana saya agak sedikit kecewa, ternyata ujung jembatan telah digunakan warga sebagai tempat menyimpan kayu bakar sehingga saya tidak bisa melihat lebih jauh kondisi jembatan.

Bekas Jembatan Kereta di Parakan

Beranjak dari Parakan perjalanan saya lanjutkan pulang menuju Solo. Sebelum kembali ke Solo saya menyempatkan untuk mampir ke Kota Magelang untuk beristirahat sambil menikmati keindahan kota yang terkenal dengan getuk trionya itu. Kurang lebih pukul setengah lima sore akhirnya saya tiba di Solo dengan pengalaman yang luar biasa mengenai sejarah kereta api di tanah Kedu. Semoga dilain waktu saya bisa kembali melakukan blusukan di tempat lain yang tak kalah serunya. 

_________________________________________
Artikel ini dikembangkan oleh: blusukanpabrikgula.blogspot.com
_______________________________________________________
PRIMA UTAMA / 2014 / WA: 085725571790 / MAIL, FB: primautama@ymail.com / INSTA: @primautama

































JALUR KERETA SOLO - BOYOLALI & TRAM KOTA SOLO

MENCARI  JEJAK  JALUR KERETA SOLO – BOYOLALI HINGGA TRAM DALAM KOTA SOLO

Seringkali melintas di sekitar Stasiun Purwosari, tampak satu jalur kereta yang aneh menurut saya. Jalur tersebut tepat berada disebelah barat stasiun menuju ke jalur lambat. Sempat mengira bahwa jalur itu dulunya hanyalah bekas jalur langsir kereta yang singgah di Stasiun Purwosari. Akan tetapi kecurigaan saya bertambah ketika dulu saat masih tinggal di Semarang sering melewati daerah Kartasura, saya sering melihat bekas rel kereta api melintas di area tersebut. Waktu itu saya tidak berfikir jauh mengenai bekas rel tersebut. Barulah belakangan ini ketika membaca sebuah artikel mengenai Stasiun Purwosari, ternyata di stasiun tersebut dahulu pernah memiliki jalur menuju Stasiun Boyolali.
            Berdasarkan informasi tersebut, saya mencoba mencari artikel-artikel yang berkaitan dengan sejarah kereta api di Boyolali. Ternyata benar, bahwa dahulu Kabupaten Boyolali pernah memiliki stasiun kereta api. Berbekal info yang saya miliki tersebut, saya mencoba untuk menelusuri sisa-sisa jalur kereta api di Boyolali.

Sejarah Singkat
            Jalur Solo – Boyolali adalah jalur kereta yang merupakan perpanjangan jalur dari Stasiun Purwosari Solo hingga Stasiun Kartosuro di Sukoharjo yang memiliki panjang 4 kilometer, kemudian jalur tersebut diperpanjang hingga Boyolali sejauh 23 kilometer dan dibuka pada tahun 1911. Perusahaan yang mengelola jalur ini adalah perusahaan  tram swasta Solosche Tramweg Maatschappij (SoTM) yang memiliki lebar rel (gauge) 1067 milimeter. Pembukaan jalur ini selain untuk angkutan penumpang juga diperuntukkan untuk angkutan distribusi barang dan kebutuhan industri seperti angkutan PG Bangak yang ada di Boyolali.

Pada mulanya SoTM menggunakan kuda untuk menarik gerbong, akan tetapi pada tahun 1905 jalur ini diambil alih oleh NISM dan mengganti tenaga kuda dengan mesin uap. Selain itu jalur yang pada mulanya berakhir hingga Pasar Sunggingan kemudian diperpendek hanya sampai Pasar Kota Boyolali. Tercatat ada beberapa halte dan stasiun yang berada di antara Stasiun Purwosari hingga Stasiun Boyolali, diantaranya adalah: Halte Gembongan, Stasiun Kartosuro, Halte Bangak, Halte Banyudono, Halte Mojosongo, dan Stasiun Boyolali.

Peta Jalur Kereta Solo – Boyolali
Sumber: kitlv.nl

Pusat Tram Tahun 1900
Sumber: kitlv.nl

Sebuah Tram Melintas di Area Ladang Tebu
Sumber: kitlv.nl

Sebuah Tram Melintas Diatas Jembatan Tahun 1900
Sumber: kitlv.nl


Memulai Blusukan
           
            Blusukan kali ini saya lakukan pada hari Minggu tanggal 14 September 2014. Tepat pukul enam pagi saya berangkat menuju Stasiun Purwosari. Kali ini saya mengambil titik start dari Stasiun Purwosari karena di area tersebut masih mudah untuk mencari jejak bekas rel menuju Kartosuro. Bekas jalur kereta menuju Kartosuro dari Stasiun Purwosari berada di jalur lambat. Tidak semua bekas rel bisa saya temukan karena sebagian besar rel telah tertutup oleh taman kota yang berada di pinggir jalan.
Selama perjalanan menyusuri rel di jalur lambat, beberapa kali saya menemukan  patok dari potongan rel yang terletak di jalur hijau. Patok tersebut sengaja di tancapkan sebagai penanda bekas jalur kereta yang kini menjadi aset milik PT. KAI. Perjalanan saya terhenti di Pasar Sidodadi Solo. Di titik inilah jejak terakhir jalur menuju Kartosuro bisa saya temui. Disamping pasar, saya juga menjumpai plang milik PT. KAI yang menandakan bahwa wilayah tersebut masih menjadi aset milik PT. KAI. Dengan berbekal peta yang saya miliki, perjalanan pun saya lanjutkan ke arah barat menuju Kartosuro untuk mencari bekas dari Stasiun Kartosuro yang menurut info kini telah berubah menjadi warung sate.

Stasiun Purwosari
Sumber: Tropen Museum

Bekas Jalur Kereta dari Stasiun Purwosari

Bekas Jalur dari Stasiun Purwosari Menuju Kartosuro

Bekas Rel di Kleco Solo

Rel Kereta Menuju Kartosuro di Kleco Solo
Sumber: kitlv.nl

Bekas Rel Disamping Pasar Sidodadi Solo

Setibanya di daerah Kartosuro, saya mulai berjalan pelan untuk mencari letak bekas Stasiun Kartosuro. Tepat di depan Pasar Kartosuro saya menemukan warung sate yang bangunannya tidak asing bagi saya. Benar saja, setelah saya amati bangunan tersebut ternyata adalah bekas Stasiun Kartosuro yang saya cari. Harus jeli memang mengingat di kawasan tersebut sudah menjadi kawasan pertokoan yang ramai. Yang menjadi penanda jelas bahwa dulunya bangunan itu adalah sebuah stasiun adalah adanya plang milik PT. KAI yang tertancap di samping stasiun dengan logo lama. Namun apabila diamati lebih teliti, sebenarnya di bangunan stasiun tersebut masih terdapat plang kayu nama stasiun yang bertuliskan “Kartasura” yang terletak di atas bangunan. Akan tetapi tulisan tersebut sudah tidak begitu jelas dan tertutup papan reklame.
Tepat dibelakang bangunan stasiun saya masih bisa menemukan sebuah rumah yang merupakan bekas rumah dinas kepala stasiun. Bangunan itu sekarang tidak berpenghuni. Berikutnya saya mencoba mencari sisa-sisa rel yang mungkin masih terlihat di sekitar stasiun. Tak mudah memang, karena kawasan tersebut telah berubah menjadi kawasan pertokoan yang padat dan jalan trotoar pun sudah tertutup paving dan semen. Berjalan ke barat mendekati jembatan penyeberangan yang tak jauh dari bekas stasiun, saya menemukan trotoar yang kebetulan lapisan semennya sedikit terkelupas dan disana saya menemukan besi memanjang yang menurut saya adalah bekas jalur kereta menuju ke Boyolali.

Bekas Stasiun Kartosuro

Plang Nama Stasiun Kartosuro
Sumber: semboyan35.com

Bekas Rel Menuju Boyolali

Perjalananpun saya lanjutkan menuju ke Boyolali. Sampai di daerah Kranggan sesuai peta, jalur kereta menyeberang ke arah selatan jalan raya. Disana saya berusaha mencari bekas-bekas rel yang masih tersisa, akan tetapi saya tidak berhasil menemukannya. Bekas jalur kereta sekarang telah tertutup aspal apalagi dengan tebalnya aspal jalan menuju Boyolali dan adanya pelebaran jalan tentu sangat susah menemukan bekas rel di area tersebut. Akhirnya perjalanan saya lanjutkan menuju ke Kota Boyolali mencari bekas Stasiun Boyolali.
            Masuk dalam Kota Boyolali, perjalanan saya lanjutkan menyusuri jalan Perintis Kemerdekaan atau pertigaan Ngangkruk. Sesuai peta, jalur kereta berbelok ke kiri menuju daerah Bakulan. Tak berselang jauh dari pertigaan Ngangkruk, akhirnya saya tiba di Kampung Bakulan. Sesuai dengan jalur yang ada di peta bahwa jalur kereta melintas di area ini. Disamping lapangan voli yang terletak di kampung tersebut, saya sempat berhenti sejenak untuk mengamati jalan kampung. Hipotesa saya mengatakan bahwa jalan yang saya lalui ini dulunya adalah jalur kereta seperti yang tertera pada peta. Hal ini diperkuat dengan adanya tikungan yang ada di depan saya yang sudutnya membentuk tikungan seperti jalur kereta api.

Bekas Jalur Kereta Menuju Kampung Bakulan

Bekas Jalur Kereta di Kampung Bakulan

Selang beberapa saat ada dua nenek-nenek yang berusia kira-kira 80 tahunan melintas di dekat lapangan voli. Dengan rasa penasaran yang tinggi saya mencoba menggali informasi dari nenek tersebut. “Dulu jalur keretanya nggih mriki Mas, dalan kampung mriki mengke menggok dugi daerah Sepuran mriko”. Terang nenek tersebut dengan Bahasa Jawa. Berbekal informasi tersebut, perjalanan saya lanjutkan mencari daerah Sepuran.
Terus menyusuri jalan kampung akhirnya perjalanan saya tiba di Kampung Driyan yang letaknya bersebelahan dengan Kampung Bakulan. Dari Kampung Driyan rel berbelok tajam ke kanan melintasi Jalan Nanas. Di Jalan Nanas, tepatnya di sebelah kiri jalan, berdiri SD Siswodipuran I yang menurut informasi yang saya peroleh jalur kereta menembus bangunan SD tersebut. Saya pun bergegas menuju belakang bangunan SD melalui gang kecil yang ada disebelah bangunan sekolah tersebut. Benar saja, di gang kecil yang saya lewati tersebut saya menemukan patok milik PT. KAI yang tertancap di samping gang.

Bekas Jalur Kereta Berbelok ke Kanan Melintas di Jalan Nanas

Patok Milik PT. KAI Disamping SD Siswodipuran I

Sesampainya di halaman belakang SD, saya menjadi semakin bingung karena menurut peta yang ada jalur kereta bercabang menjadi dua meskipun sama-sama menuju ke Stasiun Boyolali. Penelusuran saya lanjutkan di sekitar area tersebut dengan harapan saya bisa menemukan petunjuk. Dari area yang ada di belakang halaman SD Siswodipuran I terdapat jalur yang masuk kedalam gang kecil tepatnya disamping Puskesmas Pembantu (Pustu) Siswodipuran dan jalur yang menuju kejalan raya atau Jalan Jambu. Akhirnya saya putuskan untuk mencoba jalur ke arah jalan raya atau Jalan Jambu terlebih dahulu. Dan benar saja saya menemukan empat patok milik PT. KAI sekaligus yang tertancap di perempatan jalan tepat di samping Balai Desa Siswodipuran.
Saya kemudian kembali ke lokasi persimpangan jalur kereta yang saya perkirakan berada di belakang SD Siswodipuran I. Kali ini saya mencoba masuk ke dalam gang yang berada tepat di samping Puskesmas Pembantu (Pustu) Siswodipuran. Dibelakang Pustu berdiri sebuah masjid yang bernama Masjid As-Sakinah yang menurut info yang saya dapatkan dulu bekas rel melintas di bangunan masjid tersebut. Setelah bangunan masjid, jalan gang menikung ke kanan dan disana saya kembali menemukan patok milik PT. KAI lagi.

Titik Percabangan Jalur di Belakang SD Siswodipuran I

Bekas Patok Milik PT. KAI di Jalan Jambu

Patok Milik PT. KAI di Samping Masjid As-Sakinah

Perjalananpun saya lanjutkan melintasi Jalan Jambu dan terus masuk ke dalam gang. Disana saya menemukan sebuah patok milik PT. KAI tertancap di depan rumah warga. Terus masuk kedalam gang, akhirnya saya tiba di ujung gang yang merupakan bagian belakang dari Panti Marhaen yang menurut info yang saya dapatkan disinilah dulunya Stasiun Boyolali berdiri. Tak banyak yang bisa saya temui disana, karena bangunan sekitar merupakan bangunan baru. Mungkin orang tidak akan menyangka bahwa kawasan tersebut dulunya merupakan kawasan stasiun.
Sayapun berjalan menuju ke bagian depan panti dengan harapan masih bisa menemukan jejak bekas Stasiun Boyolali. Sesampainya di bagian depan bangunan panti, ternyata kondisinya pun tidaklah jauh berbeda. Semuanya telah di dominasi oleh bangunan baru. Bahkan halaman panti pun kini sudah ditutupi semen sehingga tidaklah memungkinkan menemukan petunjuk yang berkaitan dengan peninggalan Stasiun Boyolali. Di area tersebutlah jalur kereta api dari Solo menuju Boyolali berakhir. Sebenarnya dahulu jalur kereta memanjang hingga Pasar Boyolali yang diperuntukkan sebagai gudang. Namun semenjak jalur tersebut diambil alih oleh NIS, maka jalur kereta diperpendek hingga Stasiun Boyolali saja.

Patok Milik PT. KAI di Sepuran

Halaman Belakang Panti Marhaen (Eks Stasiun Boyolali)

Lokasi Bekas Stasiun Boyolali

Stasiun Boyolali Tempo Dulu
Sumber: kitlv.nl

Puas mencari informasi seputar Stasiun Boyolali, perjalanan saya lanjutkan menuju daerah Mojosongo yang searah dengan perjalanan pulang saya menuju Solo. Di Mojosongo, bekas jalur kereta berada di selatan jalan raya. Hal ini lah yang membuat saya memilih melakukan blusukan di area ini pada bagian akhir perjalanan karena searah dengan perjalanan saya pulang. Tidaklah sulit menemukan bekas jalur kereta dilokasi ini. Area ini terletak di sebelah gardu induk milik PLN atau tepatnya di depan Kantor Kecamatan Mojosongo. Disana terdapat plang milik PT. KAI yang menjadi penanda bahwa tanah disekitar area tersebut merupakan milik PT. KAI.
Bekas jalur kereta masih sangat terlihat di area ini. Tanda-tanda tersebut masih bisa diamati dari lebar jalan dan kontur tanah yang menyerupai jalur kereta api. Bekas jalur kereta kini telah dijadikan jalan kampung oleh masyarakat sekitar. Lokasi jalur kereta sebenarnya berada di samping jalan raya, akan tetapi kini telah dipisahkan oleh deretan ruko dan rumah milik warga sekitar.

Bekas Jalur Kereta di Mojosongo

Perjalanan saya lanjutkan kearah timur menyusuri jalan kampung yang sejajar dengan jalan raya. Sesampainya di perempatan jalan atau lebih tepatnya di Desa Masahan, saya kembali menjumpai plang milik PT. KAI tertancap dipinggir jalan. Disini saya sempat menanyakan informasi kepada warga sekitar mengenai jalur kereta yang pernah melintas diarea tersebut. Namun dari semua warga yang saya tanyai tidak ada yang mengetahui mengenai hal tersebut.

Bekas Jalur Kereta di Masahan

Terus berjalan kearah timur menyusuri jalan kampung, akhirnya saya tiba di Desa Ngadirejo. Disana saya sempat bertemu dengan seorang warga yang kebetulan sedang menyapu teras rumah dan menurut perkiraan saya usianya kurang lebih berkisar 80 an tahun. Saya menanyakan beberapa hal kepada kakek tersebut, diantaranya apakah benar jalan kampung yang saya lewati tadi adalah bekas rel kereta api. Kakek tersebut membenarkan pertanyaan saya. Beliau menjelaskan bahwa dahulu sewaktu ia masih kecil di depan rumahnya terdapat rel kereta api dari Solo hingga Boyolali. Tetapi beliau hanya melihat sebentar saja kereta melintas di jalur tersebut. Setelah itu beliau sudah tidak pernah lagi melihat kereta melintas di jalur tersebut hingga akhirnya rel dicabuti oleh warga sekitar.
Ketika saya menanyakan tahun berapa kira-kira kereta terakhir melintas di depan rumahnya, beliau tidak bisa mengingatnya. Hanya saja beliau memperkiraan tidak lama setelah Indonesia merdeka sudah tidak ada kereta yang melintas.  Saya pun turut menanyakan letak beberapa stasiun dan halte yang ada dijalur  tersebut termasuk Stasiun Mojosongo dan Halte Banyudono, akan tetapi beliau tidak tahu mengenai hal itu. “Saya tahu kalau dulu ada stasiun di Mojosongo, tapi saya tidak tahu persis letaknya, Mas”. Terang kakek tersebut sambil mengingat-ingat. Beliau hanya memberikan perkiraan letak Stasiun Mojosongo berada di sekitar Puskesmas Mojosongo. Merasa cukup dengan informasi yang saya peroleh, saya pun berpamitan dan kembali melanjutkan perjalanan.
Perjalanan saya lanjutkan menyusuri jalanan kampung dan berakhir di Polres Boyolali. Setelah itu perjalanan saya lanjutkan kearah timur. Disepanjang jalan saya sudah tidak bisa menemukan lagi sisa-sisa dari jalur kereta Solo – Boyolali karena sebagian besar telah berubah menjadi kawasan pemukiman dan pertokoan serta telah tertutup oleh pelebaran jalan raya. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Solo. Kurang lebih pukul sebelas siang saya tiba di Solo.
Setibanya di Solo saya teringat akan sejarah tram dalam kota yang pernah ada di Solo. Menurut beberapa artikel yang saya baca, dulu di Kota Solo pernah memiliki tram dalam kota yang menggunakan kuda sebagai tenaga penariknya. Jalur tersebut membentang dari Stasiun Solo Kota atau Sangkrah hingga Stasiun Jebres melintas di depan Pasar Gede. Hal ini sejalan dengan peta lawas yang saya miliki yang menunjukkan adanya jalur kereta terhubung antara Stasiun Solo Kota dengan Stasiun Jebres. Mungkin kala itu tram ditujukan untuk mendukung mobilitas harian masyarakat Solo yang ingin bepergian atau berdagang karena jalur tersebut melintas di pusat-pusat ekonomi Kota Solo.
Di era kepemimimpinan Joko Widodo saat masih menjabat sebagai Walikota Solo, sempat ada wacana untuk menghidupkan jalur tram tersebut. Rencananya jalur tram tersebut selain diperuntukkan untuk moda transportasi alternatif bagi masyarakat juga digunakan sebagai tram wisata di Kota Solo. Akan tetapi sayang rencana reaktivasi jalur tram tersebut kini urung dilakukan karena memiliki banyak faktor kendala seperti bekas jalur tram yang sudah berubah menjadi kawasan pemukiman penduduk dan kondisi jalan raya yang sudah terlalu padat.

Peta Tram Dalam Kota Solo
Sumber: kitlv.nl

Stasiun Solo Kota (Sangkrah)

Tram Kuda Melintas di Area Pasar Gede Solo
Sumber: kitlv.nl

Tram Melintas di Kota Solo Tahun 1900
Sumber: kitlv.nl

Perkiraan Jalur Tram di Stasiun Jebres Tahun 1930
Sumber: kitlv.nl

Stasiun Solo Jebres

            Kini tak banyak yang tersisa dari keberadaan jalur tram dalam kota yang pernah ada di Solo, terutama jejak jalur dari Stasiun Solo Kota hingga Stasiun Jebres. Yang masih bisa kita saksikan saat ini hanyalah jalur kereta yang berada di Jalan Slamet Riyadi yang dulu merupakan jalur penghubung tram antara Stasiun Purwosari dan Stasiun Solo Kota.  

________________________________________
Artikel ini dikembangkan oleh: blusukanpabrikgula.blogspot.com
________________________________________
PRIMA UTAMA / 2014 / WA: 085725571790 / MAIL, FB: primautama@ymail.com / INSTA: @primautama