Sabtu, 18 Maret 2017

BLUSUKAN MALANG RAYA  BAGIAN V:
MENGENANG JALUR TRAM BLIMBING – TUMPANG

Setelah menelusuri jejak jalur tram di petak Blimbing – Singosari, kali ini perjalanan saya lanjutkan menelusuri bekas jalur tram di petak Blimbing – Tumpang. Ini adalah penelusuran saya yang kedua dipetak ini dimana kurang lebih dua tahun yang lalu saya sempat menelusuri bekas jalur tram di petak ini.
            Jalur tram di petak Blimbing – Tumpang dibuka pada tanggal 27 April 1901 bebarengan dengan pembukaan jalur Blimbing – Singosari yang keseluruhannya sejauh 23 kilometer. Selain sebagai angkutan penumpang, jalur tram di petak Blimbing – Tumpang ini dahulu juga digunakan sebagai sarana angkutan avtur pesawat ke pangkalan udara di Malang. Dari Stasiun Blimbing hingga Stasiun Tumpang kurang lebih terdapat 9 pemberhentian tram, yaitu: Blimbing – Wendit – Bugis – Bunut – Pakis I – Pakis II – Pasir – Cokro – Jeru – Malangsuko – Tumpang. 

Peta Jalur Tram di Malang
Sumber: Universiteit Leiden

            Penelusuran kali ini saya awali dari percabangan jalur Stasiun Blimbing MS menuju Wendit. Disepanjang petak ini bekas rel masih banyak dijumpai. Posisinya berada di kanan jalan tepat berada di samping jalan raya. Kondisi bekas rel pun masih bisa dikatakan bagus. Dipetak ini saya juga menjumpai sebuah tiang sinyal milik Stasiun Blimbing MS yang masih tersisa. Tiang tersebut terletak tepat didepan warung makan milik warga dengan kondisi yang masih cukup bagus.

Bekas Jalur Tram Menuju Wendit

Bekas Tiang Sinyal

            Sayapun tiba di wilayah Wendit. Dahulu menurut info yang saya peroleh diwilayah ini terdapat Stopplast, akan tetapi kini keberadaannya sudah sulit untuk dilacak. Di Wendit ini jalur tram mulai berpindah disebelah kiri jalan. Hal ini dikarenakan diarea tersebut terdapat area yang cukup curam sehingga jalur tram harus berpindah untuk menyesuaikan gradien tanah. Posisi relpun juga masuk kedalam perkampungan.
            Di Wendit ada sebuah perkampungan bernama Kampung Trem. Tram digunakan sebagai nama kampung tersebut dikarenakan jalan yang membelah perkampungan tersebut merupakan bekas jalur tram dan bahkan warga sekitar juga masih mempertahankan bekas jalur tram dengan tidak menutup besi rel saat membuat jalan kampung. Diujung Kampung Tram juga terdapat bekas jembatan tram yang kini dimanfaatkan warga sebagai jembatan penyeberangan. Akan tetapi jembatan tersebut tidak bisa dilalui kendaraan bermotor karena alas jembatan yang rapuh. Dari Kampung Tram posisi rel kembali berpindah disebelah kanan jalan raya menuju Pakis.

Pemberhentian Wendit
Sumber: kitlv.pictura-dp.nl

Bekas Jembatan Tram di Wendit

Gapura Masuk Kampung Trem

Bekas Jalur Trem Menuju Jembatan Trem


Bekas Jembatan Trem


Bekas Jalur Trem di Kampung Trem

Bekas Jalur Trem Menuju Kampung Trem

Jalur Tram Menuju Pakis

Jalur Tram Menuju Pakis Berpindah di Sebelah Kanan Jalan

            Meninggalkan Wendit perjalanan saya lanjutkan menuju Pakis. Sepanjang perjalanan menuju Pakis, bekas jalur tram masih banyak saya jumpai meskipun dibeberapa titik ada bekas rel yang sudah tidak utuh lagi. Tibalah saya dipersimpangan menuju Bandara Abdul Rahman Saleh Malang. Disini terdapat percabangan jalur tram menuju bandara yang dulu digunakan untuk mengangkut avtur ke pangkalan udara Malang. Dipersimpangan tersebut saya juga masih bisa melihat wesel jalur menuju bandara.
            Percabangan jalur tram menuju Pangkalan Udara Malang kondisi gradient tanahnya agak sedikit menanjak. Di titik terebut bekas jalur tram masih banyak yang bisa saya temui. Posisinya tepat berada disamping jalan raya atau sebelah kiri jalan dari arah Wendit. Bekas rel tersebut berakhir di area pangkalan udara milik TNI AU. Sayang saya tidak bisa melihat lebih jauh kedalam pangkalan untuk melihat ujung dari jalur tersebut dikarena area tersebut merupakan area terbatas.

Jalan Menuju Bandara Abdul Rahman Saleh Malang

Titik Percabangan Menuju Bandara




Bekas Rel Menuju Pangkalan Udara

Meninggalkan area bandara, perjalanan saya lanjutkan menuju Pakis. Berhubung hari sudah mulai terik perjalananpun sedikit saya percepat. Tak lama melanjutkan perjalanan, akhirnya saya tiba di Pakis Malang. Kali ini tujuan saya adalah Pasar Pakis, karena bekas bangunan Stasiun Pakis terletak didepan Pasar Pakis.
            Tak butuh waktu lama bagi saya mencari lokasi Stasiun Pakis. Bentuk bangunan stasiun masih sama seperti saat saya blusukan diarea ini dua tahun lalu. Kini bekas bangunan Stasiun Pakis masih digunakan sebagai toko kelontong. Bentuk bangunannya sekilas memang sudah banyak yang berubah, namun dibagian samping kita masih bisa menemukan bagian kayu bangunan yang masih asli. Emplasmen Stasiun Pakis sendiri cukup luas karena dipisahkan oleh jalan raya. Hal inilah yang menjadikan stasiun ini unik.

Bekas Bangunan Stasiun Pakis


Stasiun Pakis Tempo Dulu
Sumber: Universiteit Leiden

            Dari Pakis perjalanan saya lanjutkan menuju Tumpang. Dari titik inilah perjalanan saya mulai sedikit menanjak. Jika dibandingkan dengan wilayah lain, Tumpang memang memiliki ketinggian yang lebih tinggi. Kondisi geografis tanahnya mirip dengan daerah Dampit. Dipetak inilah saya mulai banyak menjumpai bekas pondasi jembatan tram yang masih tersisa.
            Di Pakis sendiri posisi jalur tram masih berada di sebelah kiri jalan raya. Beberapa potongan besi relpun masih banyak yang utuh dan lengkap. Sebelum memasuki Tumpang yang kondisi tanahnya mulai meninggi, posisi rel berpindah disebelah kanan jalan dan cenderung banyak berada diarea perkebunan warga.

Bekas Jembatan Tram Setelah Pasar Pakis


Bekas Jembatan Tram Menuju Tumpang

Posisi Rel Mulai Berpindah Menuju Tumpang (Foto Menghadap Pakis)

Bekas Pondasi Jembatan Tram di Tumpang


            Mulai memasuki pusat Kecamatan Tumpang, posisi rel mulai berada di samping jalan raya atau tepatnya di kanan jalan. Di titik ini bekas rel masih banyak yang bisa ditemui. Rel kemudian bersilangan dengan jalan raya menuju kesebelah kiri jalan yang kemudian menuju ke Stasiun Tumpang sebagai stasiun terminus untuk petak tersebut.
            Letak Stasiun Tumpang berada tak jauh dari Pasar Kecamatan Tumpang. Bahkan untuk mengenang keberadaan Stasiun Tumpang, jalan yang berada didepan bangunan stasiun diberi nama Jalan Stasiun. dititik ini saya banyak menjumpai patok milik PT. KAI yang tertancap disana. Bangunan Stasiun Tumpang sendiri kini dimanfaatkan warga sebagai gudang. Didalam bangunan, dari luar saya masih bisa melihat bekas bilik loket penjualan karcis. Emplasemen Stasiun Tumpang kini telah berubah menjadi jalan dan kawasan pertokoan yang padat.

Bekas Rel Menuju Stasiun Tumpang

Emplasemen Stasiun Tumpang Menjadi Jalan Stasiun

Bekas Bangunan Stasiun Tumpang

Bekas Bilik Loket Stasiun Tumpang

            Dengan tibanya saya di Stasiun Tumpang ini, maka berakhir pula blusukan saya di petak Blimbing – Tumpang. Perjalanan ini sekaligus juga menjadi akhir dari blusukan saya di Malang Raya yang sudah saya mulai pada hari sebelumnya. Semoga peninggalan – peninggalan jejak tram di Kota Malang ini bisa tetap terjaga dan lesstari. Sebagai pembelajaran bagi generasi mendatang bahwa Malang pernah memiliki moda angkutan masal berbasis rel bernama Tram. Sekian.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
PRIMA UTAMA / 2017 / WA: 085725571790 / FB, MAIL: primautama@ymail.com / INSTA: @primautama   


Sabtu, 11 Maret 2017

BLUSUKAN MALANG RAYA  BAGIAN IV:
MENGENANG JALUR TRAM BLIMBING – SINGOSARI

            Kemarin adalah sejarah dan hari ini adalah kesempatan. Mungkin itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kesempatan kali ini. Setelah   sebelumnya saya telah menelusuri jejak jalur tram di Malang bagian selatan, pada hari ini saya akan mencoba menelusuri jejak jalur tram di Malang bagian utara atau tepatnya di petak Blimbing – Singosari dan Blimbing – Tumpang. Dalam tulisan saya ini akan saya bahas terlebih dahulu mengenai jalur tram di petak Blimbing – Singosari.
             Singosari adalah salah satu wilayah yang terletak disebelah utara Kota Malang. Wilayah ini merupakan kawasan yang sudah termasyur sejak dahulu kala. Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya temuan arkeologis di Singosari seperti candi dan arca peninggalan kerajaan masa lalu. Jalur tram yang dibangunan oleh Malang Stoomtram Maatschappij dari pusat Kota Malang menuju Singosari memiliki jalur yang sangat strategis, dimana semua jalur tersebut berada disamping jalan raya.

            Menurut catatan sejarah, jalur tram dari Malang menuju Blimbing sejauh 6 kilometer dibuka pada tanggal 15 Februari 1903. Selain untuk mendukung aktivitas masyarakat Kota Malang pada waktu itu, jalur ini juga terhubung dengan jalur kereta utama milik SS yaitu Stasiun Blimbing SS dan Stasiun Singosari SS yang bertujuan untuk memudahkan arus distribusi barang terutama hasil industri gula yang banyak berdiri di Kota Malang kala itu. Dari Stasiun Jagalan hingga Stasiun Singosari sendiri terdapat 11 pemberhentian tram, diantaranya: Jagalan – Alun-alun – Zigweg Naar Batu (pertigaan menuju Batu di Celaket) – Rampal – Lowokwaru – Glintung – Blimbing MS – Arjosari – Karanglo – Mondoroko – Singsari SS – Singasari Pasar – Singasari MS.

Peta Jalur Tram di Malang
Sumber: Universiteit Leiden

Penelusuran saya kali ini saya awali dari Stasiun Blimbing. Didaerah Blimbing sendiri sebenarnya terdapat dua buah stasiun yakni Stasiun Blimbing SS dan Stasiun Blimbing MS. Lokasinyapun saling berdekatan. Stasiun Blimbing SS kini masih aktif digunakan untuk melayani penumpang kereta api lokal dengan tujuan Surabaya maupun Blitar. Sementara untuk Stasiun Blimbing MS menurut info yang saya peroleh bekas bangunannya disewakan sebagai tempat tinggal. Stasiun Blimbing MS sendiri dahulu memiliki tiga percabangan, yakni: ke Stasiun Jagalan, ke Stasiun Tumpang, dan ke Stasiun Singosari.
Disekitar area Stasiun Blimbing bekas jalur tram sudah tidak saya jumpai. Menurut info yang saya peroleh, bekas jalur tram dari Blimbing hingga Singosari memang sudah dicabut pascakemerdekaan. Namun saya tidak tahu pasti apakah dicabut pada masa agresi militer Belanda, masa DKA, atau masa PJKA.

Lokasi Stasiun Blimbing MS dan Blimbing SS
Sumber: kitlv.nl

Stasiun Blimbing SS

Gudang Stasiun Blimbing SS

            Meninggalkan Stasiun Blimbing, perjalanan saya lanjutkan menuju Singosari. Sebenarnya jarak antara Blimbing dengan Singosari tidaklah begitu jauh, yakni hanya 6 kilometer saja. Merujuk pada peta, bekas lokasi jalur tram menuju Singosari berada tepat disamping jalan raya atau sebelah kanan jalan dari Malang.
            Disepanjang penelusuran saya, saya memang tidak menemukan bekas besi rel sama sekali. Bahkan patok milik PT. KAI pun juga tidak saya jumpai. Saya hanya menemukan sebuah pilar jembatan yang dahulu merupakan bekas jembatan tram menuju Singosari.


Bekas Pilar Jembatan Tram Menuju Singosari (Kanan)

Bekas Jalur Tram Menuju Singosari (Kanan)

            Perjalanan saya akhirnya tiba di wilayah Singosari. Disini saya sempat mampir di Stasiun Singosari SS. Stasiun tersebut hingga kini masih aktif melayani penumpang kereta api lokal dengan tujuan Surabaya maupun Blitar. Dari Stasiun Singosari SS  perjalanan saya lanjutkan keutara. Kurang lebih satu kilometer saya menjumpai beberapa rumah dinas milik PT. KAI yang kini digunakan sebagai tempat tinggal. Jika dilihat pada peta, lokasi tersebut saya perkirakan sebagai bekas area Stasiun Singosari MS. Saya mencoba menelusuri kebagian belakang rumah dinas akan tetapi yang saya jumpai hanyalah gang buntu saja. Menurut info yang saya peroleh, Bangunan Stasiun Singosari MS memang sudah dihancurkan.


Suasana di Stasiun Singosari MS Zaman Dahulu

Sumber: Universiteit Leiden

Peta Letak Stasiun Singosari MS
Sumber: kitlv.nl


Deretan Rumah Dinas di Bekas Area Stasiun Singosari MS


Stasiun Singosari SS

            Dari bekas lokasi Stasiun Singosari MS, perjalanan saya lanjutkan kembali menuju Blimbing. Kali ini saya akan menelusuri percabangan jalur tram dari Stasiun Blimbing menuju Tumpang. Penelusuran saya di petak Blimbing – Tumpang akan saya bahas pada artikel terpisah. Bersambung.

Candi Singhasari



Situs Singosari

-----------------------------------------------------------------------------------
PRIMA UTAMA / 2017 / WA: 085725571790 / MAIL, FB: primautama@ymail.com / INSTA: @primautama   












Kamis, 09 Maret 2017

BLUSUKAN MALANG RAYA  BAGIAN III:
MENGENANG JALUR TRAM GONDANGLEGI – DAMPIT

            Setelah pada blusukan sebelumnya saya menelusuri jejak tram di Kepanjen, kini penelusuran saya lanjutkan dari Gondanglegi hingga Dampit. Tak terasa hari sudah begitu teriknya. Cuaca kala itu memang sangat panas, namun dari kejauhan mendung yang begitu gelap pekat tampak terlihat dari arah Dampit. Perjalananpun segera saya percepat.
            Titik awal penelusuran saya menuju Dampit saya mulai dari Stasiun Gondanglegi. Menurut referensi yang saya peroleh, dari Stasiun Gondanglegi hingga Dampit kurang lebih terdapat tujuh pemberhentian tram, yaitu: Gondanglegi – Sepanjang – Sedayu – Turen (percabangan) – Talok – Rembun – Pamotan – Dampit. Total jalur tram antara Stasiun Gondanglegi hingga Dampit kurang lebih ada 15 kilometer ditambah 1 kilometer percabangan jalur dari Sedayu hingga Turen.
Jalur pada petak tersebut dibuka secara bertahap. Untuk tahap pertama jalur yang dibuka adalah Gondanglegi – Talok yang dibuka pada tanggal 9 September 1898 dengan panjang sejauh 7 kilometer. Tahap kedua adalah Talok – Dampit yang dibuka pada tanggal 14 Januari 1899 dengan panjang sejauh 8 kilometer. Sedangkan tahap ketiga atau yang terakhir adalah Sedayu – Turen yang dibuka pada tanggal 25 September 1908 dengan panjang hanya 1 kilometer.

Menurut informasi yang saya peroleh, sebenarnya percabangan jalur antara Gondanglegi hingga Dampit memiliki nasib yang sama seperti pada petak Gondanglegi – Kepanjen, yakni dicabut oleh Pemerintahan Dai Nipon saat menduduki Indonesia. Rel-rel tersebut dicabut untuk dipindah ke daerah lain atau disulap untuk dibuat alat perang. Akan tetapi nasib jalur tram antara Gondanglegi – Dampit jauh lebih baik dari pada jalur yang menuju ke Kepanjen, karena pascakemerdekaan jalur menuju Dampit dipasang kembali oleh Pemerintah Kolonial saat ingin merebut kembali kedaulatan Republik Indonesia. Jalur tram yang tidak dipasang kembali adalah percabangan antara Halte Sedayu hingga Turen yang memiliki panjang hanya 1 kilometer saja.

Peta Jalur Tram di Kota Malang
Sumber: Universiteit Leiden

Peta Percabangan Jalur Tram dari Gondanglegi Menuju Dampit (Kanan)
Sumber: kitlv.nl


Stasiun Gondanglegi

            Meninggalkan Gondanglegi perjalanan saya mulai menuju Dampit. Dari Gondanglegi kondisi geografis tanah mulai berbukit-bukit. Hal inilah yang membuat bekas jalur tram sedikit agak menjauhi jalan raya, meskipun dibeberapa titik ada juga jalur tram yang terletak disamping jalan raya. Bekas besi rel pun masih banyak saya jumpai. Dipetak ini saya juga banyak menjumpai gundukan-gundakan tanah yang tinggi yang merupakan bekas jalur kereta. Bekas pilar-pilar jembatan pun juga banyak saya jumpai. Maklum saja kondisi tanah yang berbukit-bukit membuat jalur tram harus dibuat sedemikian rupa agar tram bisa melaju dengan baik. Jalur tram di petak Gondanglegi – Sedayu ini posisinya berada di sebelah kiri jalan. Tidaklah sulit mencari bekas jalur dipetak ini, karena patok-patok milik PT. KAI banyak saya jumpai disepanjang jalur.

Bekas Jalur Tram Menuju Sedayu - Dampit


Bekas Pilar Jembatan Tram

Bekas Gundukan Tanah Jalur Tram Menuju Sedayu – Dampit (Kanan)

            Tak terasa perjalanan saya sampai di wilayah Sedayu. Hal ini ditandai dengan adanya sebuah pertigaan besar dimana terdapat percabangan jalan menuju Turen. Jika dilihat pada peta, dipertigaan tersebutlah dulu terdapat lokasi Halte Sedayu dan percabangan jalur menuju Turen. Lokasi percabangan jalur menuju Turen sebagian besar berada diarea Pabrik Senjata Pindad. Hal ini ditandai dengan plang milik PT. KAI yang tertancap disana. Bekas banguan Halte Sedayu memang sudah tidak berbekas, akan tetapi beberapa rumah dinasnya masih bisa saya temui disana.
            Dari pertigaan Sedayu perjalanan saya lanjutkan terlebih dahulu kearah Turen. Percabangan jalur dari Sedayu menuju Turen tidaklah panjang, yakni hanya 1 kilometer saja. Bekas jejak keberadaan tram di Turen memang sudah hilang sama sekali, termasuk bekas Halte Turen. Maklum saja jalur pada petak ini mulai non aktif saat pendudukan Jepang pada tahun 1943. Akan tetapi jika melihat dari peta, lokasi Halte Turen kurang lebih berada tak jauh dari kantor Pegadaian Turen atau sebelum Pasar Turen.

Peta Lokasi Halte Sedayu dan Halte Turen
Sumber: kitlv.nl

Pertigaan Sedayu (Foto Membelakangi Turen)

Bekas Tanda Perlintasan Kereta Api Didepan Pabrik Pindad

Sebuah Bangunan Didepan Pabrik Pindad

Perkiraan Area Lokasi Halte Turen

            Beranjak dari Sedayu, perjalanan saya lanjutkan kembali menuju Talok. Kali ini bekas jalur tram masih berada disebelah kiri jalan. Bekas relnya pun masih banyak saya jumpai. Posisi rel sendiri ada sebagian yang berada diarea persawahan maupun disamping jalan raya. Tak berapa lama perjalanan saya tiba di Talok. Di titik ini posisi jalur kereta mulai bersilangan dengan jalan raya dan berpindah disebelah kanan jalan.
Menurut peta, didaerah Talok ini dahulu terdapat sebuah pemberhentian tram bernama Halte Talok. Namun berdasarkan informasi yang saya dapatkan, bekas bangunan Halte Talok kini sudah tidak ada dan digantikan dengan bangunan toko. Dari Talok jalur tram mulai menanjak karena kondisi geografis yang berbukit-bukit.

 Lokasi Halte Talok

Sumber: kitlv.nl


Bekas Jalur Tram di Sedayu Menuju Talok (Kanan)

Bekas Jalur Tram Menuju Talok (Kanan Atas)

Bekas Rel Melintas Diatas Sungai di Talok

Posisi Rel Memotong Jalan Memasuki Halte Talok (Kiri)

Area Perkiraan Lokasi Halte Talok

            Setibanya di Talok, kedatangan saya disambut dengan hujan yang sangat lebat. Perjalananpun segera saya lanjutkan menuju Dampit. Selama perjalanan menuju Dampit ini saya sudah tidak menemukan bekas rel jalur tram. Yang saya jumpai hanyalah bekas pondasi dan pilar-pilar jembatan yang melewati bukit-bukit. Dipetak ini banyak segali gundukan-gundukan tanah bekas jalur kereta. Hal ini dikarenakan Dampit merupakan wilayah yang cukup tinggi, sehingga jalur tram harus dibuat sedemikian rupa agar  tram bisa melaju dengan baik.
            Tak terasa perjalanan saya tiba di Pasar Dampit. Sayapun segera bergegas mencari lokasi Stasiun Dampit. Tidak mudah mencari lokasi Stasiun Dampit kala itu. Hujan yang turun dengan lebatnya serta kabut yang tebal ditambah kondisi Pasar Dampit yang padat membuat saya harus berputat-putar dan masuk kebeberapa gang perkampungan untuk mencari lokasi stasiun. Akhirnya setelah cukup lama berputar-putar, sayapun berhasil menemukan bekas bangunan Stasiun Dampit. Bangunannya sendiri memang nyelempit diantara perumahan warga. Bahkan kondisi bangunannya sendiri sudah tidak utuh. Kini bekas bangunan Stasiun Dampit digunakan sebagai tempat tinggal dan tempat usaha mebel.

Bekas Pilar Jembatan Tram Menuju Dampit Tertutup Pepohonan

Bekas Pilar Jembatan Melintasi Sebuah Sungai Menuju Dampit

Tram Melintas di Kali Lesti Tahun 1919
Sumber: Universiteit Leiden

Bekas Jalur Tram di Area Persawahan

Bekas Pondasi Jembatan Tram Menuju Dampit


Bekas Bangunan Stasiun Dampit

Bekas Emplasemen Stasiun Dampit

Rumah Dinas Stasiun Dampit

Suasana Stasiun Dampit Tahun 1923
Sumber: Universiteit Leiden

            Disekitar Stasiun Dampit saya sempat berbicang-bincang dengan salah seorang warga. Beliau sedikit berkisah bahwa dulunya Stasiun Dampit merupakan stasiun yang cukup ramai. Banyak hasil pertanian dan perkebunan masyarakat sekitar yang diangkut menggunakan tram untuk dibawa dan dijual di Kota. Setelah angkutan jalan raya mulai mendominasi, sedikit demi sedikit tram mulai ditinggalkan dan berujung pada penutupan Stasiun Dampit.
            Hujan turun semakin deras. Udara dinginpun begitu menusuk tulang. Penelusuran saya di Dampitpun harus saya sudahi. Akhirnya selesai sudah penelusuran saya dipetak Jagalan – Kepanjen dan Jagalan – Dampit. Capek sudah pasti, namun banyak ilmu, pengalaman dan informasi yang saya peroleh selama penelusuran saya dipetak tersebut. Esok masih ada petak jalur Blimbing – Singosari dan Blimbing – Tumpang yang harus saya telusuri dengan petualangan yang tak kalah seru pastinya. Bersambung. 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
PRIMA UTAMA / 2017 / WA: 085725571790 / MAIL, FB: primautama@ymail.com / INSTA: @primautama