Jumat, 21 Agustus 2015

MALANG STOOMTRAM MAATTSCHAPPIJ (MSM)


MENCARI JEJAK TRAM DI KOTA MALANG
BAGIAN I

             Siapa yang tidak kenal dengan Kota Malang. Kota kecil berhawa sejuk ini ternyata banyak menyimpan segudang sejarah dimasa lalu yang menarik untuk diperbincangkan. Lokasinya yang strategis, hawanya yang sejuk, serta tanahnya yang subur, membuat warga Belanda kala itu berbondong-bondong untuk bermukim diwilayah ini. Maka tak ayal jika disetiap sudut Kota Malang banyak kita jumpai bangunan-bangunan tua bergaya indische yang berdiri kokoh menghiasi kota.
Ramainya Kota Malang dimasa lalu turut mengundang banyak perusahaan Hindia Belanda untuk mendirikan perusahaannya di wilayah ini. Sebagai contoh adalah Malang Stoomtram Maatschappij (MSM) yang merupakan perusahaan kereta tram swasta Hindia Belanda yang beroperasi di wilayah Malang dan sekitarnya. MSM didirikan pada tanggal 14 November 1897 dengan kantor pusat di Jagalan. Dahulu selain ditujukan untuk angkutan penumpang, tram di Kota Malang juga difungsikan sebagai angkutan distribusi hasil perkebunan dan hasil industri seperti gula.
Tercatat beberapa rute perjalanan yang pernah dilayani oleh MSM, diantaranya adalah: Blimbing – Tumpang, Jagalan – Singosari, Jagalan – Blimbing, Kepanjen – Gondanglegi, Malang Kotalama – Gondanglegi, dan Gondanglegi – Dampit. Dari beberapa rute tersebut, ada rute yang terhubung dengan jalur kereta api milik Staats Spoorwegen (SS). Hal ini ditujukan agar penumpang yang ingin bepergian di kota lain di Pulau Jawa bisa berganti kereta dan  melanjutkan perjalanan.
Beberapa stasiun besar tercatat juga pernah dimiliki oleh MSM, diantaranya adalah: Stasiun Jagalan, Stasiun Gondanglegi, Stasiun Dampit, Stasiun Kepanjen MSM, Stasiun Tumpang, Stasiun Blimbing MSM, dan Stasiun Singosari MSM. Seiring dengan berjalannya waktu dan berkembangnya moda transportasi darat, kereta tram mulai ditinggalkan oleh masyarakat karena kecepatannya yang terbatas dan kurang fleksibel. Akhirnya pada dekade 1970-an, kereta tram di Malang resmi ditutup oleh pemerintah karena menurunnya jumlah penumpang dan kalah bersaing dengan moda transportasi jalan raya seperti bus dan mobil pribadi. Sarana dan infrastruktur tram yang sudah tua juga turut menjadi alasan ditutupnya tram di Kota Malang.

Peta Jalur Tram di Kota Malang
Sumber: kitlv.nl

             Panjangnya sejarah tram di Kota Malang membuat saya tertarik untuk menelisik lebih jauh bukti-bukti keberadaan tram dimasa lalu. Sabtu 8 Agustus 2015, kebetulan saya mendapatkan kesempatan berkunjung kembali ke Kota Malang. Entah ini kunjungan saya yang keberapa, tapi kunjungan saya kali ini berbeda dari kunjungan saya sebelumnya. Tujuan saya datang ke Kota Malang kali ini adalah untuk blusukan mencari jejak tram di Kota Malang, meskipun sebenarnya ada beberapa acara lain yang harus saya ikuti. 
            Dalam blusukan saya kali ini, saya mencoba untuk mencari bukti-bukti keberadaan tram di Kota Malang yang masih bisa saya jumpai. Sesuai dengan rencana, blusukan saya lakukan pada hari Sabtu tanggal 8 Agustus 2015. Sebenarnya waktu itu ada rencana memulai blusukan pada pukul enam pagi untuk efisiensi waktu, tapi karena kondisi jalanan yang sangat ramai dan macet maka perjalanan saya tunda menunggu kondisi jalan raya lenggang. Seperti biasa blusukan kali ini saya lakukan sendiri dengan menggunakan sepeda motor pinjaman. Sebenarnya ada sedikit rasa takut mengingat rumitnya jalan di Kota Malang serta banyaknya jalan yang belum saya ketahui sebelumnya. Tapi dengan bermodal tekat dan nekat akhirnya rasa takut itu bisa saya atasi.
            Tepat pukul tujuh pagi saya berangkat meninggalkan hotel. Tujuan pertama saya kali ini adalah di petak Blimbing – Tumpang yang terletak di sebelah utara Kota Malang. Tidaklah mudah bagi saya menemukan jalan menuju Blimbing. Saya harus berputar-putar di Alun-Alun Kota Malang beberapa kali karena bingung dengan arah yang harus saya ambil. Akhirnya dengan petunjuk dari seorang warga yang saya jumpai dipinggir jalan, saya ditunjukkan jalan menuju Blimbing yang ternyata melewati Stasiun Kotabaru Malang.
            Saat melintas di Alun-Alun Kota Malang, saya teringat akan sebuah foto lawas yang saya miliki dimana di alun-alun tersebut dahulu pernah dilewati oleh jalur tram tepat di tengah-tengahnya. Sebelum menuju Blimbing sesuai dengan petunjuk dari warga yang saya temui tadi, saya menyempatkan untuk mencari jejak-jejak tram yang mungkin masih bisa saya temui di sekitar alun-alun. Sembari berjalan pelan saya mengitari area alun-alun dengan harapan bisa menemukan petunjuk.
Setelah melakukan pengamatan secara seksama, ternyata tak satupun petunjuk yang bisa saya temui disana. Bahkan patok-patok milik PT. KAI yang biasanya saya jumpai ditempat lain sebagai penanda tidak satupun saya temukan. Sebenarnya jika dilihat dari peta lawas buatan Belanda, banyak rute tram yang melintasi sudut-sudut Kota Malang. Akan tetapi karena pembangunan kota yang begitu pesat membuat bekas jalur-jalur tram tersebut tertutup oleh pembangunan kota seperti jalan raya dan gedung-gedung baru. Akhirnya dengan berat hati perjalanan saya lanjutkan menuju Blimbing karena pertimbangan waktu yang terbatas yang saya miliki.

Alun-Alun Kota Malang

Tram Melintas di Alun-Alun Kota Malang Tahun 1930
Sumber: Tropen Museum

            Tak terasa perjalanan saya tiba di Stasiun Kotabaru Malang. Disini saya sempat beristirahat sejenak sembari mengamati aktivitas yang ada di stasiun. Perjalananpun kemudian saya lanjutkan kearah utara menuju Blimbing. Tak seperti yang saya bayangkan, ternyata jarak dari Stasiun Kotabaru hingga Blimbing cukup jauh. Kondisi jalan yang ramai dan macet dibeberapa titik cukup memakan waktu saya. Akhirnya perjalanan saya tiba di Blimbing. Disana saya menyempatkan diri untuk mampir di Stasiun Blimbing.
Sebenarnya di Blimbing terdapat dua stasiun kereta, yakni Stasiun Blimbing SS yang masih aktif dan Stasiun Blimbing MSM yang non aktif. Karena waktu yang sudah terlalu siang dan kurangnya informasi yang saya miliki terkait lokasi bekas Stasiun Blimbing milik MSM, maka saya tidak menyempatkan untuk mencari lokasi bekas stasiun tersebut. Mungkin dilain waktu saya akan mencarinya. Beranjak dari Stasiun Blimbing SS perjalanan saya lanjutkan menuju Tumpang. Dari Blimbing menuju Tumpang tercatat ada beberapa halte dan stasiun, diantaranya adalah: Stasiun Blimbing, Halte Wendit, Halte Bugis, Halte Bunut, Stasiun Pakis, Halte Pakis, Halte Pasir, Halte Tjokro, Halte Jeru, Halte Malangsuko, dan Stasiun Tumpang.

Stasiun Blimbing SS

Bangunan Gudang Stasiun Blimbing SS

            Berjalan pelan menuju Wendit saya mulai menjumpai bekas jalur tram di wilayah Blimbing yang berada disebelah kanan jalan raya. Kondisinyapun masih bisa dikatakan baik. Posisi jalur tram tersebut kini telah banyak yang berubah menjadi trotoar. Dibeberapa titik saya juga menjumpai beberapa patok dan plang milik PT. KAI yang tertancap dipinggir jalan.         
Tak terasa perjalanan saya tiba diwilayah Wendit. Disini posisi rel berpindah disebelah kiri jalan raya. Kali ini bekas jalur trem masuk kedalam perkampungan warga. Saya agak kesulitan mencari bekas jalur tram di wilayah ini karena bekas jalur tram banyak yang telah tertutup dengan rumah-rumah penduduk yang sangat padat.  Terus berjalan pelan, akhirnya saya menjumpai sebuah jembatan yang ukurannya cukup besar melintang diatas sebuah sungai. Diujung jembatan saya sempat berhenti sejenak sembari mengamati kondisi sekitar dengan harapan akan menemukan petunjuk.
Ternyata saya berhenti ditempat yang tepat. Disamping saya terdapat sebuah gapura kecil sebagai gerbang masuk ke perkampungan warga yang berada di utara jalan. Di gapura tersebut tertulis kata “Tram”. Mungkin dikampung ini ada petunjuk mengenai jalur tram yang saya cari. Sayapun kemudian masuk kedalam perkampungan tersebut dengan harapan akan menemukan jejak-jejak bekas jalur tram dilokasi tersebut.
Ternyata perkiraan saya benar, di tengah-tengah perkampungan yang padat tersebut terdapat bekas jalur tram yang membelah perkampungan menjadi dua bagian. Bahkan rel bekas jalur tram pun masih bisa saya temui dalam kondisi yang masih utuh. Mungkin bekas jalur tram tersebut sengaja dipertahankan oleh warga sekitar sebagai identitas kampung dan penanda bahwa dahulu dikampung tersebut pernah dilalui kereta tram.
Sayapun mencoba menelusuri bekas jalur tram yang berada tepat di tengah-tengah perkampungan warga. Sebenarnya ada perasaan aneh saat saya berjalan pelan mengendarai motor di jalur tersebut, entah itu hanya perasaan saya saja tapi saya merasa banyak warga yang menatap saya dengan tatapan yang aneh. Dengan modal nekat sayapun tetap meneruskan penelusuran saya.
Akhirnya setelah berjalan kurang lebih 100 meter, saya baru tersadar kalau jalan yang saya lalui tersebut adalah jalur buntu. Mungkin inilah alasan tatapan aneh warga yang saya jumpai sebelumnya yang mungkin mengisyaratkan kepada saya untuk berputar arah karena jalan yang saya lalui adalah jalan buntu. Diujung jalan buntu tersebut, terdapat sebuah bekas jembatan tram yang kondisinya kurang begitu terawat. Hanya pejalan kaki saja yang bisa melewati jembatan tersebut, karena bagian atas jembatan hanya ditutupi oleh anyaman bambu saja.
Didekat jembatan kebetulan saya bertemu dengan sekelompok keluarga yang sedang bersantai diteras rumah. Sayapun menyempatkan diri untuk beramah tamah sembari menanyakan informasi mengenai jalur tram yang melintasi area tersebut. Salah seorang dari mereka menceritakan kepada saya bahwa jalur tram yang dulu melintas di area tersebut memanjang hingga ke area Bandara Abdul Rachman Saleh hingga ke Tumpang. Mereka juga menyinggung sedikit mengenai keberadaan Stasiun Blimbing MSM yang dulu menghubungkan jalur tersebut. Saya juga sempat menanyakan beberapa halte seperti Halte Wendit dan stasiun tram yang ada dipetak tersebut, akan tetapi sayang mereka tidak mengetahui hal tersebut. Mereka hanya menyinggung sedikit mengenai keberadaan Stasiun Pakis dan Stasiun Tumpang dan sayapun disarankan untuk bertanya pada warga didaerah Pakis dan Tumpang.


Bekas Jalur Tram di Blimbing

Bekas Jalur Tram di Wendit Bersinggungan dengan Jalan Raya

Kampung Tram di Wendit Barat


Bekas Jalur Tram di Kampung Tram

Bekas Jembatan Tram di Wendit

Halte Wendit Tahun 1906

Sumber: kitlv.pictura-dp.nl

            Setelah cukup mendapatkan informasi dari warga tersebut sayapun berpamitan dan tak lupa mengucapkan banyak terima kasih. Perjalananpun saya lanjutkan meninggalkan Kampung Tram. Tak jauh dari Kampung Tram saya menjumpai sebuah persilangan jalur tram dengan jalan raya. Kali ini jalur tram berpindah ke sisi kanan jalan. Hari semakin siang, mataharipun semakin terik. Sayapun segera tancap gas menuju Pakis mencari bekas lokasi Stasiun Pakis. Sepanjang perjalanan saya menuju Pakis, tak satupun bekas halte yang saya temui. Hal ini mungkin karena bangunannya sudah hilang tergusur oleh pembangunan kota.
            Tak terasa perjalanan saya mulai memasuki wilayah Pakis. Sayapun tiba di pertigaan jalan menuju Bandara Abdul Rachman Saleh. Disini saya melihat sebuah percabangan jalur tram menuju kearah bandara. Dengan rasa penasaran, sayapun mengikuti jalur tersebut. Bekas jalur tram diarea tersebut masih bisa saya amati dengan jelas. Kurang lebih 2 kilometer, akhirnya saya tiba diarea Bandara. Bekas jalur tersebut masuk menuju kawasan militer milik Angkatan Udara (AU). Sayang sekali saya tidak bisa menelusurinya lebih lanjut, karena area tersebut adalah area terbatas. 

Titik Percabangan Jalur Tram Menuju Bandara


Bekas Jalur Tram Menuju Landasan Udara (Lanud)

            Menurut referensi yang saya peroleh, dahulu bekas jalur tram menuju bandara tersebut digunakan untuk mengangkut avtur bahan bakar pesawat. Hal ini serupa dengan jalur kereta yang menghubungkan Stasiun Barat dengan Lanud Iswahjudi di Kabupaten Magetan. Perjalananpun saya lanjutkan mencari keberadaan Stasiun Pakis. Dalam perjalanan mencari lokasi bekas Stasiun Pakis, saya masih banyak menjumpai bekas jalur tram yang ada di pinggir jalan raya. Kondisinya pun banyak yang masih utuh.
            Akhirnya perjalanan saya tiba di Pasar Pakis. Seperti biasa, pasar selalu bisa diandalkan untuk mencari lokasi stasiun karena biasanya letak stasiun tidaklah jauh dari pasar. Diarea Pasar Pakis, saya mencoba menjelajahi bagian belakang pasar dengan harapan akan menemukan bekas bangunan stasiun. akan tetapi sayang, pencarian saya nihil. Yang saya jumpai dibagian belakang pasar hanyalah patok-patok milik PT. KAI saja.
Cukup lama saya berada di lokasi Pasar Pakis karena tak kunjung mendapatkan petunjuk mengenai keberadaan stasiun disana. Hampir menyerah, akhirnya saya berhenti sejenak sambil menenangkan pikiran yang mulai kacau. Tak jauh dari lokasi saya berhenti terdapat seorang ibu paruh baya sedang berjualan gorengan didepan rumah. Sayapun mencoba menanyakan lokasi bekas Stasiun Pakis kepada beliau. “Wah, kulo mboten ngertos niku mas bekas Stasiun Pakis. Opo tak celukne Mak e ndisek ya, sopo ngerti weruh”. Ternyata ibu tersebut juga tidak tahu mengenai keberadaan Stasiun Pakis. Akhirnya saya disuruh menunggu sebentar sembari memanggil emak nya yang mungkin tahu mengenai keberadaan Stasiun Pakis.
Tak lama kemudian, muncullah ibu tadi dengan seorang perempuan yang sudah tua dari dalam rumah. Sayapun mencoba menanyakan keberadaan bekas Stasiun Pakis kepada beliau. “Kuwi lho Mas bekas Stasiun Pakis ndisek, sing wes dadi warung kuwi. Jaman ndisek stasiune yo kuwi”. Tak berapa lama kemudian si ibu penjual gorengan pun menyahut pembicaraan kami. “Oalah Mak, kuwi ndisek stasiun tho? Aku malah ora weroh yen nang Pakis ono Stasiun. Kemudian ibu tua tadi sedikit bercerita kepada saya bahwa bangunan Stasiun Pakis dulu adalah bangunan yang telah berubah menjadi toko kelontong tersebut. Beliau juga menyinggung bahwa sudah lama jalur kereta di Pakis mati. Namun beliau tidak menyebutkan tahun berapa jalur kereta tram di Pakis mati, mungkin karena sudah lupa karena terlalu lama.
Sayapun akhirnya berpamitan kepada beliau dan beranjak menuju toko kelontong bekas Stasiun Pakis yang hanya berjarak 25 meter dari tempat kami bercakap-cakap. Berada dibagian depan bangunan bekas Stasiun Pakis hampir saya tidak menyangka kalau bangunan toko kelontong itu dulunya adalah bangunan stasiun, mekipun sebenarnya dibagian depan terdapat sebuah plang milik PT. KAI. Saya mulai percaya tatkala saya menelusuri bagian samping bangunan toko dimana saya masih bisa melihat fasad bangunan stasiun tersamarkan dengan tembok baru yang menutupinya.
Diarea bekas Stasiun Pakis, saya sudah tidak menjumpai bekas rel kereta tram yang masih tersisa. Mungkin karena bekas emplasemen stasiun telah berubah menjadi jalan raya sehingga membuat bekas-bekas rel terkubur oleh aspal jalan. Berhubung hari semakin terik perjalananpun saya lanjutkan menuju Tumpang. 

Bekas Jalur Tram di Pakis

Bangunan Stasiun Pakis

Stasiun Pakis Tahun 1919
Sumber: Leiden University

            Dalam perjalanan saya menuju Tumpang, saya sempat menjumpai bekas pondasi jembatan tram yang terletak tak jauh dari Pasar Pakis berada ditengah ladang. Bekas pondasi jembatan tersebut bisa dikatakan memiliki ketinggian yang cukup tinggi. Mungkin dahulu jembatan tersebut digunakan untuk menyesuaikan gradien tanah yang menanjak yang ada di Pakis. Yang saya sayangkan adalah bekas besi jembatan sudah tidak berbekas sama sekali. Entah diambil oleh pihak PT. KAI atau orang yang tak bertanggung jawab saya kurang mengetahuinya. Selain pondasi jembatan besar, saya juga sempat menjumpai sebuah jembatan kecil yang masih berada di wilayah Pakis.
            Perjalanan sayapun hampir tiba di daerah Tumpang. Sebelum memasuki wilayah Tumpang gradien tanah bisa dikatakan mulai menanjak. Hal ini mungkin karena letak geografis Tumpang yang dekat dengan kawasan pegunungan. Posisi rel diarea tersebut berada tepat di area pemukiman warga yang berada di samping jalan raya. Banyak bekas rel yang sudah tertutup dengan bangunan rumah milik masyarakat. Diarea ini saya menemukan bekas titik persimpangan jalur tram dengan jalan raya dimana jalur tram berpindah kesebelah kanan jalan.

Rel Melintas Disebuah Pondasi Jembatan di Pakis

Bekas Pondasi Jembatan Setelah Pasar Pakis

Persimpangan Jalur Tram dengan Jalan Raya Menuju Tumpang

            Tak berapa lama kemudian akhirnya saya mulai memasuki wilayah Tumpang. Disini bekas jalur tram masih bisa saya lihat dengan jelas berada tepat di sebelah kanan jalan raya. Dibeberapa titik, jalur masuk keperkampungan dan perkebunan milik warga. Saya juga sempat menemukan beberapa bekas pondasi jembatan diarea ini. Seperti halnya di Pakis, tujuan saya di Tumpang kali ini adalah mencari lokasi Pasar Tumpang karena saya berasumsi bahwa letak bekas Stasiun Tumpang juga berada diarea pasar.
            Setelah cukup jauh melaju akhirnya tiba juga saya di Pasar Tumpang. Kondisi pasar bisa dikatakan lebih ramai dari Pasar Pakis. Tak ingin menghabiskan banyak waktu dipasar, akhirnya sayapun langsung menghampiri seorang nenek yang sedang mengasuh cucunya disebuah kampung didekat pasar. Saya menanyakan kepada beliau mengenai lokasi bekas Stasiun Tumpang. Ternyata saya bertanya dengan orang yang tepat. Dengan hafalnya beliau langsung menunjukkan kepada saya lokasi bekas stasiun yang ternyata berada di belakang Pasar Tumpang. Dengan penuh semangat, sayapun segera tancap gas menuju lokasi yang telah ditunjukkan oleh nenek tersebut.
            Untuk menuju area belakang Pasar Tumpang, saya disarankan oleh nenek tadi untuk mengambil jalan disamping Puskesmas Tumpang. Setibanya diarea Puskesmas, saya sedikit mengalami kebingungan. Dilokasi tersebut saya menjumpai beberapa patok dan plang milik PT. KAI tertancap dipinggir jalan. Akan tetapi setelah saya amati secara seksama area sekitar, bangunan disekitar lokasi tersebut tak satupun yang mencirikan sebuah bangunan stasiun. Akhirnya sayapun memutuskan untuk mencari seseorang yang mungkin bisa memberikan petunjuk kepada saya.
            Secara tak sengaja, saya berjumpa dengan seorang warga yang bisa dikatakan sudah sepuh berjalan disekitar kampung didekat pasar. Sayapun menanyakan bekas lokasi Stasiun Tumpang kepada beliau. Dengan ramahnya beliau langsung menunjukkan bekas lokasi Stasiun Tumpang sembari menunjuk bangunannya yang ternyata terletak tidak jauh dari posisi saya. Beliau juga menyarankan kepada saya untuk melihat didalam bangunan bekas stasiun untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap. Senang sekali rasanya akhirnya bisa menemukan bekas bangunan Stasiun Tumpang. Disana saya juga tersadar ternyata nama jalan diarea stasiun diberi nama “Jalan Stasiun”. Hal ini seperti yang pernah saya jumpai di Baturetno Wonogiri dan Cepu Blora, dimana lokasi bekas stasiun diabadikan sebagai nama jalan. 


Bekas Pondasi Jembatan di Tumpang

Bekas Area Stasiun Tumpang

Bekas Bangunan Stasiun Tumpang

            Diarea bekas emplasemen Stasiun Tumpang saya sudah tidak bisa menjumpai bekas rel tram. Saat itu mungkin saya datang diwaktu yang kurang tepat. Bangunan bekas Stasiun Tumpang tampak tertutup rapat dan tak ada aktivitas yang terlihat didalamnya. Sayapun tidak bisa melihat bagian dalam bangunan yang menurut informasi yang saya peroleh masih terdapat loket tempat penjualan tiket didalam bangunan tersebut.
Berhubung waktu sudah semakin siang sayapun memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalan. Sebenarnya sebelum Stasiun Tumpang terdapat beberapa halte yang tersebar dibeberapa titik, diantaranya adalah: Halte Pasir, Halte Tjokro, Halte Djeru, dan Halte Malangsuko. Dari semua halte tersebut menurut referensi yang saya peroleh semua bangunannya telah lenyap. Hanya Halte Djeru saja yang masih menyisakan bekas pondasi bangunannya.

Bekas Pondasi Halte Djeru
Sumber: Copyright Toteaux Horatio

            Meninggalkan Stasiun Tumpang perjalanan saya lanjutkan menuju lokasi selanjutnya yakni di Jagalan yang merupakan pusat dari Malang Stoomtram Maatschappij (MSM). Kurang lebih pukul sebelas siang saya tiba di Stasiun Kotalama Malang yang merupakan titik start saya menuju Jagalan. Di Stasiun Kotalama Malang terdapat sebuah percabangan jalur yang digunakan untuk mengangkut minyak milik Pertamina yang sampai saat ini masih aktif digunakan. Sayapun mencoba mengikuti jalur tersebut dengan harapan akan menuntun saya ke wilayah Jagalan.
            Mengikuti jalur kereta pengangkut minyak milik Pertamina, akhirnya mengantarkan saya di Depo Pertamina yang berada di Jalan Halmahera. Sayapun teringat bahwa lokasi pusat MSM juga terletak di Jagalan Jalan Halmahera. Sembari berjalan pelan saya mengamati kondisi sekitar dengan harapan akan menemukan petunjuk. Diarea tersebut memang banyak saya jumpai bangunan-bangunan kuno berarsitektur Belanda menghiasi setiap sudut jalan. Perkiraan saya bangunan-bangunan tersebut adalah peninggalan MSM karena banyak plang milik PT. KAI bertebaran diarea tersebut. Bahkan bangunan-bangunan tersebut juga dipasang plakat milik PT. KAI.
            Dipinggir jalan saya bertemu dengan sekawanan anak-anak yang baru pulang dari sekolah. Saya menanyakan kepada mereka letak daerah Jagalan disekitar area tersebut. Dengan hafalnya saya ditunjukkan arah menuju Jagalan. Saya juga disarankan untuk berhati-hati karena banyak jalan searah diarea tersebut. Sayapun segera tancap gas menuju Jagalan.
            Ternyata tak mudah bagi saya untuk menemukan lokasi Jagalan. Padatnya jalan raya serta banyaknya jalan searah membuat saya harus tersesat beberapa kali. Hampir menyerah sayapun ditunjukkan jalan oleh seorang tukang becak yang ada disana mengenai lokasi bekas Stasiun Jagalan. Tak berapa lama kemudian akhirnya saya tiba disekitar lokasi bekas Stasiun Jagalan.
            Setelah memarkirkan motor dipinggir jalan, saya segera menuju kebagian belakang sebuah rumah warga yang ada diarea kios buah untuk mencari bekas bangunan Stasiun Jagalan. Kebetulan dibagian belakang rumah tersebut dilalui jalur kereta pengangkut minyak milik Pertamina. Bahkan saat saya berada disana ada serangkaian kereta yang sedang melintas menuju Depo Pertamina. Disana saya bertemu dengan seorang warga paruh baya yang ternyata adalah penghuni rumah disamping jalur kereta tersebut. Saya sempat menanyakan kepada beliau mengenai bekas bangunan Stasiun Jagalan. Jawaban mengejutkan saya dapatkan dari beliau. Ternyata bangunan rumah yang ada didepan saya adalah bangunan bekas Stasiun Jagalan. Bahkan beliau adalah salah satu penghuninya. Saya tidak menyangka kalau bangunan rumah tersebut adalah bekas bangunan stasiun.
            Masih dalam keadaan terkejut sayapun berbincang-bincang dengan warga tersebut mengenai bangunan stasiun yang kini menjadi tempat tinggalnya. Memang jika diamati sepintas, bangunan didepan saya ini tidak mencerminkan sebuah bangunan stasiun. akan tetapi jika kita mengamatinya lebih seksama maka akan terlihat bagian-bagian bangunan yang mirip dengan bangunan stasiun. Sayapun mencoba mengamati bagian depan bangunan stasiun. Disana terdapat sebuah plakat milik PT. KAI tertempel di tembok bangunan. Disudut-sudut bangunan  masih tampak pilar-pilar batu seperti halnya bangunan stasiun tempo dulu. Stasiun Jagalan kini memang telah dialihfungsikan sebagai tempat tinggal. Bahkan dibangunan tersebut dihuni oleh beberapa kepala keluarga dengan menyekat bagian dalam bangunan.

Emplasemen Stasiun Jagalan

Bagian Depan Bekas Bangunan Stasiun Jagalan

Pegawai Stasiun Jagalan dan Kotalama
Sumber: Leiden University

Bangunan Bekas Stasiun Jagalan Tampak Samping

Pegawai Malang Stoomtram Maatschappij
Sumber: Leiden University

Kantor Pusat Malang Stoomtram Maatschappij di Jagalan
Sumber: Leiden University

            Suara adzan dhuhur telah berkumandang, itu artinya saya harus segera melanjutkan perjalanan saya. Sebenarnya waktu itu saya ingin melanjutkan blusukan hingga ke Dampit, akan tetapi sayang pukul dua siang saya sudah harus berada di hotel karena ada acara di tempat lain. Akhirnya dengan pertimbangan waktu yang tidak mencukupi, blusukan ke Dampitpun saya urungkan. Mungkin dikesempatan lain nanti saya bisa melanjutkan blusukan hingga ke Dampit.
            Pukul dua belas siang saya mulai meninggalkan Jagalan. Dengan berakhirnya blusukan saya di Jagalan ini berarti usai sudah blusukan saya mencari jejak tram di Kota Malang. Meskipun belum semua area di Malang bisa saya telusuri, setidaknya ada sedikit cerita yang bisa ditulis sebagai kenang-kenangan mengenai bukti sejarah keberadaan tram di Kota Malang.
            Minggu 9 Agustus 2015, saya harus meninggalkan Kota Malang untuk kembali ke Solo. Kebetulan waktu itu saya mendapatkan tiket kereta Maliboro Expres untuk perjalanan pukul setengah sembilan pagi. Sebelum menuju Stasiun Kotabaru Malang saya sempat diajak saudara saya ke wilayah Oro-Oro Dowo dimana disana  terdapat sebuah bekas jembatan yang menurutnya adalah bekas jembatan tram. Setelah sarapan pagi sayapun segera meluncur ke lokasi tersebut. Ternyata lokasinya tidaklah jauh dari hotel tempat saya menginap. Kurang lebih lima menit perjalanan saya tiba di Oro-Oro Dowo.
Di Oro-Oro Dowo saya menjumpai sebuah bekas pondasi jembatan yang berada dipinggir jalan yang masih berdiri dengan kokoh. Bekas pondasi tersebut hanya tersisa satu buah, sedangkan satunya lagi sudah tergantikan dengan sebuah bangunan masjid yang ada diseberang jalan. Selanjutnya saya masuk kesebuah gang diperkampungan sekitar yang mana dibelah oleh sebuah sungai yang cukup besar. Disana terdapat sebuah jembatan penghubung antar kampung yang mana jembatan tersebut menurut perkiraan saya adalah bekas jembatan tram. Hal ini bisa saya lihat dari struktur bangunannya.

Bekas Jembatan Tram di Oro-Oro Dowo


Bekas Pondasi Jembatan Tram di Oro-Oro Dowo


Bekas Jalur Tram di Kajoetangan – Oro-Oro Dowo Malang Tahun 1930
Sumber: Tropen Museum

Jalur Tram di Tengah Kota Malang Tahun 1933
Sumber: kitlv.nl

Waktu sudah beranjak siang, akhirnya saya harus meninggalkan lokasi tersebut dan segera menuju ke Stasiun Kotabaru Malang. Masih banyak jejak-jejak peninggalan tram di Kota Malang yang menarik untuk ditelusuri. Semoga dilain kesempatan saya bisa berkunjung ke kota ini lagi dan menemukan jejak-jejak keberadaan tram di Kota Malang yang sudah punah termakan zaman.  

_______________
Developed by: blusukanpabrikgula.blogspot.com
_______________
PRIMA UTAMA / 2015 / WA: 085725571790 / MAIL, FB: primautama@ymail.com / INSTA: @primautama    





           





















6 komentar: