Jumat, 03 Oktober 2014

JALUR TUNTANG – BEDONO

 INDAHNYA  JALUR  TUNTANG – BEDONO

            Sejenak beristirahat di Stasiun Tuntang setelah melakukan blusukan dari Stasiun Kedungjati, perjalananpun saya lanjutkan menuju ke Stasiun Ambarawa. Perjalanan tersebut saya mulai tepat pada tengah hari. Dengan melewati jalan alternatif yang terletak di samping telaga Rawa Pening, perjalanan saya terasa menyenangkan. Sempat saya mampir di sebuah masjid untuk sholat dhuhur sembari melepas lelah.

Jembatan Kereta Api di Rawa Pening

            Selanjutnya saya bergegas menuju Stasiun Ambarawa atau Stasiun Willem I untuk mengejar waktu yang semakin terik. Ini adalah kunjungan ke dua saya menjelajahi stasiun tersebut. Sebelumnya pada tahun 2011, saya sempat berkunjung ke stasiun ini untuk berwisata dan sempat menikmati perjalanan kereta wisata dari Ambarawa menuju Tuntang. Kebetulan saat tiba disana kondisi stasiun masih dalam tahap renovasi, sehingga saya tidak bisa masuk ke dalam area stasiun. Dihalaman stasiun tampak puluhan lokomotif berjajar menghiasi halaman stasiun. Memang stasiun yang berdiri sejak tahun 1873 itu kini telah dialih fungsikan sebagai museum kereta api. Tidak jauh berbeda dengan stasiun-stasiun yang saya kunjungi sebelumnya, stasiun itu pun telah ditutup sejak tahun 1976 seiring dengan matinya jalur Secang menuju Kedungjati.


Stasiun Ambara Tahun 2011 dan 1906
Sumber: Dokumentasi Pribadi dan kitlv.nl


Kereta Wisata di Museum Ambarawa


Suasana Diatas Kereta Wisata Museum Ambarawa

Bekas Roda Bergerigi Koleksi Museum Ambarawa

Setelah puas di Stasiun Ambarawa, perjalanan saya lanjutkan menuju Stasiun Bedono. Sambil mengendarai motor, tak jemu saya melirik jalur kereta yang berada di sebelah kiri saya. Menurut saya jalur tersebut sangatlah indah dengan sawah dan perbukitan yang menghiasinya. Adanya gerigi di tengah rel juga menambah keunikan jalur tersebut. Saat ini, jenis kereta bergerigi yang masih aktif di dunia hanya ada dua, yakni di Indonesia yaitu di Ambarawa dan di India. Sungguh sayang jika peninggalan sebesar dan seunik itu harus lenyap termakan zaman.
Jalur antara Ambarawa dan Bedono adalah jalur yang didominasi oleh perbukitan, tak ayal jika jalur kereta api menggunakan gerigi agar kereta kuat menanjak. Hal ini lah yang menjadi keindahan tersendiri dari jalur ini. Ramainya jalan raya dari Semarang menuju Yogyakarta, sangat kontras dengan sepinya jalur kereta ini. Sempat berkhayal betapa ramainya jalur ini jika diaktifkan kembali.
Saat melintas di daerah Jambu, saya sempat melihat bangunan kecil tepat berdiri disamping rel kereta. Bangunan tersebut tidak nampak seperti bangunan Belanda, akan tetapi memiliki arsitektur lawas. Karena padatnya lalu lintas, saya putuskan untuk mengunjungi bangunan itu setelah selesai blusukan dari Bedono.



Jalur Kereta Menuju Stasiun Bedono

Jalur Kereta di Ambarawa Tahun 1900
Sumber: kitlv.nl

Sebuah Kereta Melintas di Ambarawa Menuju Jogja Tahun 1900
Sumber: kitlv.nl

Tiba di Stasiun Bedono, suasana sepi dan tenang mulai terasa, sangat kontras dengan hirukpikuknya jalan raya yang berada di depannya. Stasiun yang terletak tepat di depan Ponpes milik Syeh Puji ini memang memiki ukuran yang tidak terlalu besar. Stasiun ini dibuka pada tahun 1905 dan terletak pada ketinggian 693 meter diatas permukaan laut. Tahun 1976 stasiun ini resmi ditutup dan hanya dijadikan stasiun wisata dari Ambarawa.
Di area komplek Stasiun Bedono, terdapat beberapa sarana infrastruktur perkeretaapian yang masih bisa kita saksikan, diantaranya adalah: turn table, alat persinyalan, dan pipa pengisi air untuk lokomotif. Dibelakang stasiun terdapat sebuah bukit dimana diatasnya terdapat sebuah kolam penampungan air yang dahulu digunakan untuk menampung air yang kemudian disalurkan ke stasiun untuk mengisi lokomotif-lokomotif yang berhenti disana. Kondisi stasiun sungguh sangat sepi dan kondisi bangunannya tampak kurang terawat. Semenjak direnovasinya Stasiun Ambarawa, membuat perjalanan kereta wisata ke Stasiun Bedono berkurang drastis. Bahkan dibeberapa titik sebelum menuju Bedono, saya sempat menjumpai jalur kereta yang telah rusak karena minimnya perawatan.

Stasiun Bedono

Perjalanan kembali saya lanjutkan menyusuri jejak rel kereta api yang berada diperkampungan yang tak jauh dari Stasiun Bedono. Rasa penasaran saya akan kondisi rel yang sudah tidak terpakai, menuntun saya untuk menyusuri jalan kampung. Tak mudah memang, sempitnya jalan kampung serta jalanan yang cenderung curam menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Akhirnya tiba juga saya disebuah kampung kecil di ujung stasiun.
Diperkampungan tersebut saya masih bisa menemukan bekas rel dari Bedono menuju Secang, akan tetapi kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Beberapa rel sudah tertimbun aspal dan tanah. Selain itu, ada beberapa ruas rel yang dijadikan warga sebagai jalan atau gang. Sungguh sayang memang melihat kondisinya yang tak terawat.
            Selain bekas rel kereta, disana saya juga menemukan bekas alat perkeretaapian yang dulu digunakan oleh petugas stasiun untuk mengatur perjalanan kereta api. Kondisinya pun juga tak kalah memprihatinkannya dengan kondisi rel yang ada disana.

Stasiun Bedono dari Kejauhan

Bekas Alat Perkeretaapian di Tengah Kampung


Bekas Rel dari Bedono Menuju Secang

Rel Bergerigi di Tengah Perkampungan Warga

Rasa ingin tahu yang tinggi membuat rasa penasaran saya bertambah. Perjalananpun kemudian saya lanjutkan menelusuri jalan kecil menuju perkebunan warga. Di area tersebut masih terlihat jelas bekas rel, akan tetapi gundukan tanah penyangga rel telah amblas dan dijadikan warga sebagai jalan menuju ke kebun. Begitu asyiknya blusukan hingga hampir masuk ke bibir hutan, tak sadar bahwa jalan yang saya lewati tersebut selain jalan menuju ke kebun ternyata juga sebagai jalan menuju ke pemakaman warga setempat. Suana angkerpun sekejap menyelimut ditengah sunyinya perkebunan tersebut.
            Dengan memberanikan diri, saya menyempatkan untuk mengamati sekitar hutan disekeliling saya. Tampak jalur kereta mulai menghilang tertutup tanah dan masuk ke dalam hutan. Sebenarnya saya memiliki niat untuk sedikit masuk ke bibir hutan, akan tetapi dengan rimbunnya pepohonan dan bekas rel yang sudah menghilang serta kondisi yang sepi, niat itu akhirnya saya urungkan. Akhirnya sayapun berputar arah kembali ke perkampungan.


Bekas Rel Masuk Meuju Hutan

Puas berkeliling, akhirnya saya memutuskan untuk kembali. Sebelum kembali ke Solo, saya teringat akan bangunan kecil yang berdiri tepat bersebelahan dengan jalur kereta api di daerah Jambu. Saat melintas di daerah Jambu, cukup sulit untuk mencari jalan masuk menuju bangunan tersebut. Lalu lintas yang padat serta lokasi bangunan yang terpencil membuatnya sulit untuk dijangkau. Tepat di seberang Masjid Fatkhussa’diyah Jambu, terdapat gang kecil menurun menuju sebuah perkampungan. Saya pun masuk melalui jalur tersebut. Tak mudah memang, kondisi gang yang curam dan berkerikil memaksa saya harus berhati-hati.
            Selang beberapa meter, saya menemukan plang milik PT. KAI tertancap pada sebuah rumah. Hipotesa saya bahwa bangunan tersebut adalah sebuah rumah dinas kepala stasiun. Perjalananpun saya lanjutkan, dan benar saja tak jauh dari rumah tersebut berdiri sebuah bangunan kecil persis yang saya lihat dari jalan raya tadi. Bangunan tersebut ternyata adalah Halte Jambu. Sebelumnya saya tidak tahu jika antara Stasiun Ambarawa dan Stasiun Bedono ada sebuah halte pemberhentian kereta.
            Halte Jambu terletak di ketinggian 479 meter diatas permukaan laut. Seiring dengan matinya jalur Ambarawa menuju Secang, halte ini juga menemui ajalnya. Halte ini resmi ditutup pada tahun 1976. Menurut artikel yang saya baca, dahulu sebelum Halte Jambu dari arah Ambarawa juga terdapat tiga halte kecil lagi, yaitu: Halte Ampin Wetan, Halte Karangkepoh, dan Halte Kloerahan/Tempuran. Namun sayang, menurut kabar ketiga halte tersebut sudah hilang.
            Seiring dengan dibukanya Stasiun Ambarawa sebagai stasiun wisata, Halte Jambu dijadikan tempat pemberhentian lokomotif yang hendak menuju Stasiun Bedono. Disini lokomotif akan pindah posisi ke belakang rangkaian kereta sehingga posisi lokomotif mendorong rangkaian gerbong. Hal tersebut dikarenakan kondisi rel menuju Stasiun Bedono yang menanjak.
Melihat kondisi halte, tampak bangunan masih terawat dengan baik. Taman disekitar haltepun menambah keindahan bangunan tua itu. Warna cat kuning bangunan halte yang masih tampak jelas terlihat kontras dengan warna hijau ladang persawahan di sekitar halte. Sungguh sangat indah pemandangan di disana, saya pun seolah-olah tak mau pergi meninggalkan lokasi tersebut.


 Halte Jambu Tahun 2014 dan 1890-1906
Sumber: Dokumentasi Pribadi dan kitlv.nl

Emplasemen Halte Jambu

Jalur Kereta dari Jambu menuju Bedono

Kebetulan saat blusukan di Halte Jambu, saya bertemu dengan seorang warga yang sedang menikmati pemandangan di area halte. Saya sempat bertanya beberapa hal mengenai aktivitas yang masih ada di halte tersebut. Menurut informasi dari beliau dulunya halte ini ramai oleh aktivitas kereta wisata menuju Bedono, terutama turis-turis dari mancanegara. Namun sekarang kereta tersebut sudah jarang melintas. Menurut info dari beliau, lokomotif yang digunakan untuk menarik kereta wisata sudah lama rusak. Lamanya proses renovasi Stasiun Ambarawa yang tidak jelas kapan selesainya turut menjadikan halte ini sepi oleh wisatawan. Semoga proses renovasi Stasiun Ambarawa segera cepat rampung sehingga akan banyak lagi wisatawan yang mampir di halte kecil ini.
Puas menikmati pemandangan dan sejuknya udara di Halte Jambu, perjalananpun saya lanjutkan pulang menuju Solo. Puas rasanya blusukan kali ini. Banyak sejarah dan ilmu yang bisa saya dapatkan dalam perjalanan kali ini. Rasa sedih pun muncul mengingat jalur ini sudah lama tak terpakai dan cenderung terbengkalai. Mungkin jalur tersebut tak semujur jalur Tuntang -  Kedungjati yang telah di reaktivasi. Tapi seiring dengan padatnya jalan raya dari Semarang menuju Magelang, semoga ada harapan dari pemerintah untuk menghidupkan kembali jalur ini. Sekitar pukul empat sore saya tiba di Solo. Saya berharap, semoga di lain kesempatan bisa blusukan ke tempat lain yang tak kalah serunya.

______________________________
Artikel ini dikembangkan oleh: blusukanpabrikgula.blogspot.com
---------------------------------------------
PRIMA UTAMA / 2014 / WA: 085725571790 / MAIL, FB: primautama@ymail.com / INSTA: @primautama 



















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar