Jumat, 03 Oktober 2014

REAKTIVASI JALUR TUNTANG - KEDUNGJATI

TUNTANG – KEDUNG JATI  AKHIRNYA  HIDUP  LAGI

            Alhamdulilah selang satu minggu setelah blusukan saya ke Magetan, akhirnya kali saya bisa melakukan blusukan lagi di tempat lain yakni di Kabupaten Semarang dan Kabupaten Grobogan. Blusukan kali ini saya lakukan dari Stasiun Tuntang hingga Stasiun Kedungjati. Banyak hal menarik yang saya ditemui di jalur yang memiliki panjang kurang lebih 37 kilometer tersebut. Salah satu hal menarik yang saya jumpai diantaranya adalah proses reaktivasi jalur Tuntang – Kedungjati yang mulai dilaksanakan. Berikut adalah hasil penelusuran saya.

Sejarah Singkat
            Jalur Kedungjati hingga Tuntang adalah jalur kereta api yang pada zamannya menghubungkan Semarang dengan Secang yang terletak di Kabupaten Magelang. Jalur ini dibangun oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) yang dibuka pada tahun 1871 dan rampung pada tahun 1905. Jalur ini melewati beberapa stasiun dan halte sebagai tempat naik turunnya penumpang. Tercatat ada tiga stasiun yang dilewati jalur ini, yaitu: Stasiun Tempuran, Stasiun Gogodalem, dan Stasiun Bringin serta Halte Ngombak dan Halte Tlogo yang dulu digunakan khusus untuk mengangkut kayu mengingat bahwa wilayah Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Semarang memiliki sumber daya alam kayu yang melimpah pada masanya.
Pada masa awal 1970-an, Stasiun Tuntang juga digunakan untuk angkutan ternak yang hendak dibawa ke Jakarta. Ternak-ternak pilihan yang diternakkan oleh warga dikumpulkan di Stasiun Tuntang sebelum dibawa ke Jakarta untuk dijual menggunakan gerbong khusus angkutan ternak.

 Seiring dengan kemajuan zaman, jalur Kedungjati – Tuntang akhirnya harus menyerah pada perkembangan moda transportasi jalan raya. Pada tahun 1976 jalur ini resmi di tutup karena kalah bersaing dengan angkutan jalan raya seperti bus dan mobil pribadi. Kini 40 tahun sudah jalur tersebut mati dan tak terawat. Banyak peninggalan infrastruktur kereta api yang menjadi saksi bisu betapa ramainya jalur tersebut dimasa lalu. 

Peta Jalur Kedung Jati – Tuntang Tahun 1868
Sumber: kitlv.nl


Memulai Blusukan
            Blusukan kali ini saya awali dari Solo pada tanggal 6 September 2014. Saya memilih hari Sabtu karena kebetulan waktu itu sedang tidak ada jadwal perkuliahan dan saya rasa kondisi jalan Solo – Semarang relatif lebih sepi saat akhir pekan. Pukul setengah tujuh pagi saya berangkat dan kurang lebih satu setengah jam perjalanan akhirnya saya tiba di Stasiun Tuntang. Sesampainya di Stasiun Tuntang saya melihat pemandangan yang tidak biasa disana. Beberapa pekerja proyek nampak sedang mengotak atik jalur kereta dan beberapa pekerja tampak sedang membersihkan area stasiun. Beberapa pemukiman warga disekitar area stasiun pun juga nampak baru dirubuhkan. Ternyata proyek reaktivasi Tuntang – Kedungjati sudah dimulai pelaksanaannya.
Sembari beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan, saya pun berkeliling diarea stasiun sambil menikmati keindahan arsitektur bangunan Stasiun Tuntang. Stasiun Tuntang adalah stasiun yang terletak di Kecamatan Tuntang perbatasan antara Salatiga dan Kabupaten Semarang. Stasiun ini sendiri terletak pada ketinggian 464 meter diatas permukaan laut. Pada zamannya, stasiun ini melayani perjalanan menuju Secang dan Kedungjati. Tidaklah sulit menemukan lokasi stasiun ini karena posisinya yang strategis berada di samping Jalan Raya Solo – Semarang.

Emplasemen Stasiun Tuntang

Halaman Depan Stasiun Tuntang

Stasiun Tuntang Tampak Samping

Stasiun Tuntang Tahun 1910
Sumber: kitlv.nl


Stasiun Tuntang dibangun pada tahun 1871 bebarengan dengan dibangunnya jalur kereta api dari Kedungjati menuju Stasiun Willem I di Ambarawa. Tepat pada tanggal 21 Mei 1873, stasiun ini diresmikan dan mulai beroperasi. Stasiun ini ditutup pada tahun 1976 setelah beroperasi selama 103 tahun. Sekarang stasiun ini dialih fungsikan sebagai stasiun kereta wisata dari Ambarawa.
Dengan berbekal peta kecil dan beberapa artikel mengenai jalur kereta api Tuntang – Kedungjati yang telah saya persiapkan sebelumnya, blusukan pun saya lanjutkan. Saya menuju kearah Kecamatan Bringin yang masih masuk dalam wilayah Kabupaten Semarang. Selama perjalanan menuju Bringin saya menemukan beberapa bekas potongan rel kereta yang berada di daerah Tuntang. Tak jauh dari sana, saya  juga menjumpai proses eskavasi reaktivasi jalur Tuntang – Kedungjati. Saya juga sempat menemukan bekas jembatan kereta yang berbentuk plengkung bersinggungan dengan jalan raya. Jembatan tersebut masih nampak kokoh meskipun telah berusia puluhan tahun.

Bekas Rel Berpotongan dengan Jalan Raya Menuju Bringin

Proses Reaktivasi Jalur Kereta di Kecamatan Tuntang

Bekas Jembatan Kereta Api

Bekas Jembatan Menuju Bringin

Perjalanpun berlanjut menuju Bringin. Berdasarkan info yang saya dapatkan, didaerah Bringin zaman dahulu terdapat sebuah stasiun yang terletak di dekat Pasar Bringin. Benar saja sesampainya di pasar  saya menemukan sebuah papan milik PT. KAI tertancap di depan barisan ruko di area pasar. Dari jauh tampak sebuah atap bangunan tua yang saya perkirakan adalah bekas Stasiun Bringin yang berdiri tepat dibelakang komplek ruko. Saya pun semakin penasaran dan mencoba mencari jalan masuk menuju lokasi tersebut.
            Tepat didepan pasar, terdapat sebuah gang kecil menuju perkampungan warga. Sayapun mencoba masuk melewati gang tersebut. Benar dugaan saya, disitulah berdiri Stasiun Bringin yang kini telah berubah menjadi sarang burung walet.
            Stasiun Bringin mulai beroperasi pada tahun 1873 untuk angkutan distribusi barang dan penumpang. Seiring dengan ditutupnya jalur Kedungjati – Tuntang, praktis stasiun inipun ikut menjumpai kematiannya. Stasiun ini resmi ditutup oleh pemerintah pada tahun 1976. Saat ini tak banyak yang tersisa dari bangunan stasiun. Bangunan stasiun yang tidak terawat memunculkan kesan angker dan kumuh. Hanya sebuah bekas alat sinyal di emplasemen stasiun sajayang menjadi bukti bahwa bangunan tersebut dulunya adalah sebuah stasiun kereta api.

Emplasemen Stasiun Bringin

Plakat Cagar Budaya Stasiun Bringin

Bekas Alat Sinyal di Stasiun Bringin

Bekas Jalur Kereta Api di Stasiun Bringin

Setelah puas menjelajahi Stasiun Bringin, perjalanan saya lanjutkan menuju ke Stasiun Kedungjati. Sebenarnya masih ada dua stasiun lagi sebelum Stasiun Kedungjati, yakni Stasiun Gogodalem dan Stasiun Tempuran. Akan tetapi saya berencana mencari dua stasiun tersebut setelah blusukan ke Kedungjati.
            Sampai di daerah Kedungjati yang masuk kedalam wilayah admisnistrasi Kabupaten Grobogan, saya disuguhi dengan pemandangan hutan jati yang sangat luas. Mungkin itulah kenapa daerah ini disebut dengan Kedungjati. Perbukitan pun nampak berjajar rapi persis seperti yang saya saksikan saat naik kereta api Kalijaga dari Solo menuju Semarang. Cuaca disini sangat terik, tapi tetap menyuguhkan panorama yang luar biasa indahnya. Akhirnya perjalanan saya tiba di Stasiun Kedungjati yang merupakan salah satu stasiun tertua di Indonesia.
            Seperti halnya di Stasiun Tuntang, disini saya juga menjumpai aktivitas reaktivasi jalur Kedungjati – Tuntang. Jalur rel di emplasemen selatan stasiun sudah dibongkar. Beberapa petugas nampak sibuk dengan alat kerjanya. Saya pun singgah sejenak untuk beristirahat di dalam bangunan stasiun yang memiliki desain yang hampir mirip dengan bangunan Stasiun Ambarawa tersebut.

Stasiun Kedungjati

Ruang Tunggu Penumpang Stasiun Kedungjati

Jalur Kereta dari Arah Tuntang

Emplasemen Selatan Stasiun Kedungjati

Stasiun Kedungjati Tahun 1868
Sumber: kitlv.nl


Stasiun Kedungjati adalah salah satu stasiun yang terletak di Kabupaten Grobogan Jawa Tengah. Dahulu stasiun ini merupakan titik pertemuan jalur kereta api dari Semarang menuju Secang Magelang. Stasiun ini terletak di ketinggian 36 meter diatas permuakaan laut. Diresmikan pada tanggal 21 Mei 1873, stasiun ini sekarang nampak sepi seiring matinya jalur selatan menuju Ambarawa. Meskipun sepi, stasiun ini masih nampak terawat dan bersih. Hanya beberapa kereta api kelas ekonomi saja yang mampir di stasiun ini. Bangunan stasiun sendiri berarsitek menyerupai Stasiun Willem I di Ambarawa dan sempat mengalami renovasi pada tahun 1907.
            Setelah puas melihat isi stasiun, saya kembali melanjutkan perjalanan untuk mencari lokasi Stasiun Tempuran. Sebelumnya saya sempat bertanya kepada kepala stasiun untuk menanyakan keberadaan Stasiun Tempuran. “Ada Mas, dulu dari Kedungjati ada stasiun didaerah Tempuran tapi bangunannya masih ada atau tidak saya kurang tahu”. Terang kepala stasiun kepada saya. Mendengar informasi tersebut saya segera bergegas menuju Desa Tempuran.
            Sesampainya di Desa Tempuran setelah sempat tersesat berkali-kali dijalanan desa, akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya kepada beberapa penduduk untuk memperoleh informasi tentang keberadaan Stasiun Tempuran. Beberapa penduduk yang saya tanyai semuanya tidak tahu mengenai keberadaan Stasiun Tempuran. Hampir putus asa, akhirnya saya bertemu dengan seorang kakek berusia kurang lebih 70 tahun yang menenteng cangkul dari ladang menuju ke rumahnya melintasi jalan desa. Saya segera mencegat kakek tersebut dan menanyakan tentang lokasi stasiun kepada beliau. “Oh, kalau Stasiun Tempuran dulu ada”. Kata kakek tersebut dengan bersemangat. “Lokasinya 200 meter dari sungai sebelah kiri jalan”. Sambil menunjukkan arah dengan tangannya. Menurut saya kakek tersebut merupakan salah satu saksi hidup tentang keberadaan dan kejayaan Stasiun Tempuran mengingat masih hafalnya lokasi stasiun di ingatan sang kakek.
            Berbekal informasi yang saya peroleh, saya segera tancap gas menuju TKP. Ternyata tak mudah mencari lokasi stasiun, banyak jalan desa seperti yang dimaksud oleh kakek tadi saya jumpai di Tempuran. Kebetulan ada seorang pemuda, perkiraan berusia 27 tahun yang sedang duduk di tepi jalan. Saya pun bertanya mengenai keberadaan Stasiun Tempuran. “Lokasi stasiunnya disitu mas, itu tinggal pondasinya”. Sambil menunjukkan arah dengan tangan kanannya. Dia pun menjelaskan bahwa semenjak dia duduk di bangku sekolah dasar, bangunan stasiun memang sudah tidak ada alias sudah dibongkar. “Dari dulu bangunannya memang sudah tidak ada mas, sudah lama sekali itu”.  Akhirnya saya menuju ke lokasi bekas stasiun yang hanya berjarak 50 meter dari tempat kami berbincang.
Benar saja, sesampainya dilokasi bangunan stasiun sama sekali sudah tak berbekas. Hanya bersisa batu pondasi bekas Bangunan Stasiun Tempuran berdiri. Saat ini yang nampak di lokasi stasiun hanyalah proyek reaktivasi jalur kereta api Tuntang – Kedungjati saja. Bekas potongan rel pun sudah tidak bisa saya temui. Sangat sayang memang, salah satu bangunan bersejarah dalam dunia perkeretaapian di Indonesia harus hilang tak berbekas. Mungkin Kejayaan stasiun Tempuran saat ini hanyalah tersisa di kenangan warga sekitar yang telah berusia lanjut yang menjadi saksi hidup kejayaan Stasiun Tempuran.

Bekas Lokasi Stasiun Tempuran

Stasiun Tempuran
Sumber: Wikipedia

Sebelum melanjutkan perjalanan mencari Stasiun Gogodalem, saya juga sempat bertanya pada warga yang tidak saya ketahui namanya tadi mengenai keberadaan Stasiun Gogodalem. Dengan jelas dia menujukkan dimana letak stasiun berada. Melalui informasi tersebut perjalanan saya lanjutkan menuju Desa Gogodalem. Selama perjalanan menuju Gogodalem saya menjumpai pemandangan yang unik. Terlihat dari kejauhan beberapa pekerja sedang mempersiapkan pembuatan jembatan kereta api melintasi Kali Konang dan pengerukan jalur kereta api.

Proses Persiapan Pembangunan Jembatan Kereta Api Kali Konang

Pembuatan Jalur Kereta Api di Dekat Gogodalem

Pembangunan Jalur Kereta Api di Gogodalem Tahun 1868
Sumber: kitlv.nl


Pembangunan Jembatan Kereta Api Tuntang - Kedungjati Tahun 1868
Sumber: kitlv.nl

Sesampainya di Desa Gogodalem tepatnya di Pasar Gogodalem saya mulai mencari keberadaan lokasi stasiun berada. Sempat beberapa kali saya tersesat, akhirnya saya putuskan untuk menengok proyek aktivasi jalur kereta api di area tersebut dengan harapan bisa menemukan petunjuk mengenai keberadaan Stasiun Gogodalem. Tepat didepan pasar terdapat hutan karet yang tidak terlalu besar. Disana terdapat jalan tanah menurun menuju perkampungan di balik hutan. Tampak alat-alat berat sedang meratakan tanah untuk dijadikan jalur kereta api.
Tak jauh dari posisi saya, terdapat lima anak kecil yang sedang bermain disekitar proyek. Saya sempat menanyakan lokasi keberadaan stasiun pada salah satu anak dan merekapun menunjukkan lokasi stasiun yang ternyata tepat berada di depan saya. Tak tampak bangunan serupa stasiun yang ada disana. Yang ada hanyalah bangunan bedeng milik pekerja sebagai tempat beristirahat. Karena masih ragu dengan jawaban anak tersebut, akhirnya saya bertanya pada seorang warga yang kebetulan melintas ditempat tersebut bersama anaknya. “Stasiunnya dulu letaknya disitu mas, dulu bangunannya mirip bangunan Belanda”. Jawab warga tersebut sambil menunjukkan lokasi stasiun yang ternyata sama seperti yang ditunjukkan oleh anak-anak tadi. Lebih lanjut saya menanyakan kapan dan kenapa stasiun itu dibongkar kepada Bapak tersebut. “Satu bulan yang lalu kurang lebih stasiunnya masih ada, tapi karena ada proyek reaktivasi bangunan stasiun dirubuhkan”. Kembali saya harus menelan kekecewaan karena salah satu bangunan bersejarah itu kini telah hancur tak bersisa.
Disekitar area bekas Stasiun Gogodalem saya mencoba mencari jejak-jejak keberadaan bangunan stasiun yang mungkin masih bisa saya temukan. Tak banyak yang bisa saya temui di bekas area stasiun. Satu-satunya petunjuk bahwa disana pernah terdapat bangunan adalah sebuah tembok penahan yang masih berdiri yang menurut saya adalah bagian belakang dari bangunan Stasiun Gogodalem.  Stasiun Gogodalem dibangun pada tahun 1873 bebarengan dengan pembangunan jalur Tuntang – Kedungjati. Stasiun ini ditutup pada tahun 1976 seiring dengan matinya jalur yang melintasi stasiun tersebut. Kini Stasiun Gogodalem hanyalah tinggal sejarah.

Lokasi Bekas Stasiun Gogodalem

Stasiun Gogodalem
Sumber: Wikipedia


Setelah blusukan di Gogodalem, perjalanan saya lanjutkan ke titik awal saya yaitu di Stasiun Tuntang. Diperjalanan saya berpikir bahwa reaktivasi jalur Tuntang – Kedungjati yang rencananya juga ditujukan untuk wisata rasanya akan sedikit tidak lengkap mengingat lenyapnya dua stasiun bersejarah di lintasan tersebut. Semoga hal ini tidak terjadi dengan stasiun-stasiun di wilayah lain.
Sampai di Stasiun Tuntang, saya berencana melanjutkan perjalanan menyusuri jalur kereta api menuju Ambarawa hingga Bedono. Blusukan saya ke Stasiun Ambarawa dan Bedono akan saya tulis dalam tulisan berikutnya dengan judul yang berbeda.

_____________________________
Tulisan ini dikembangkan oleh: blusukanpabrikgula.blogspot.com
--------------------------------------------
PRIMA UTAMA / 2014 / WA: 085725571790 / MAIL, FB: primautama@ymail.com / INSTA: @primautama 

























1 komentar: