Rabu, 08 Oktober 2014

JALUR KERETA SOLO - BOYOLALI & TRAM KOTA SOLO

MENCARI  JEJAK  JALUR KERETA SOLO – BOYOLALI HINGGA TRAM DALAM KOTA SOLO

Seringkali melintas di sekitar Stasiun Purwosari, tampak satu jalur kereta yang aneh menurut saya. Jalur tersebut tepat berada disebelah barat stasiun menuju ke jalur lambat. Sempat mengira bahwa jalur itu dulunya hanyalah bekas jalur langsir kereta yang singgah di Stasiun Purwosari. Akan tetapi kecurigaan saya bertambah ketika dulu saat masih tinggal di Semarang sering melewati daerah Kartasura, saya sering melihat bekas rel kereta api melintas di area tersebut. Waktu itu saya tidak berfikir jauh mengenai bekas rel tersebut. Barulah belakangan ini ketika membaca sebuah artikel mengenai Stasiun Purwosari, ternyata di stasiun tersebut dahulu pernah memiliki jalur menuju Stasiun Boyolali.
            Berdasarkan informasi tersebut, saya mencoba mencari artikel-artikel yang berkaitan dengan sejarah kereta api di Boyolali. Ternyata benar, bahwa dahulu Kabupaten Boyolali pernah memiliki stasiun kereta api. Berbekal info yang saya miliki tersebut, saya mencoba untuk menelusuri sisa-sisa jalur kereta api di Boyolali.

Sejarah Singkat
            Jalur Solo – Boyolali adalah jalur kereta yang merupakan perpanjangan jalur dari Stasiun Purwosari Solo hingga Stasiun Kartosuro di Sukoharjo yang memiliki panjang 4 kilometer, kemudian jalur tersebut diperpanjang hingga Boyolali sejauh 23 kilometer dan dibuka pada tahun 1911. Perusahaan yang mengelola jalur ini adalah perusahaan  tram swasta Solosche Tramweg Maatschappij (SoTM) yang memiliki lebar rel (gauge) 1067 milimeter. Pembukaan jalur ini selain untuk angkutan penumpang juga diperuntukkan untuk angkutan distribusi barang dan kebutuhan industri seperti angkutan PG Bangak yang ada di Boyolali.

Pada mulanya SoTM menggunakan kuda untuk menarik gerbong, akan tetapi pada tahun 1905 jalur ini diambil alih oleh NISM dan mengganti tenaga kuda dengan mesin uap. Selain itu jalur yang pada mulanya berakhir hingga Pasar Sunggingan kemudian diperpendek hanya sampai Pasar Kota Boyolali. Tercatat ada beberapa halte dan stasiun yang berada di antara Stasiun Purwosari hingga Stasiun Boyolali, diantaranya adalah: Halte Gembongan, Stasiun Kartosuro, Halte Bangak, Halte Banyudono, Halte Mojosongo, dan Stasiun Boyolali.

Peta Jalur Kereta Solo – Boyolali
Sumber: kitlv.nl

Pusat Tram Tahun 1900
Sumber: kitlv.nl

Sebuah Tram Melintas di Area Ladang Tebu
Sumber: kitlv.nl

Sebuah Tram Melintas Diatas Jembatan Tahun 1900
Sumber: kitlv.nl


Memulai Blusukan
           
            Blusukan kali ini saya lakukan pada hari Minggu tanggal 14 September 2014. Tepat pukul enam pagi saya berangkat menuju Stasiun Purwosari. Kali ini saya mengambil titik start dari Stasiun Purwosari karena di area tersebut masih mudah untuk mencari jejak bekas rel menuju Kartosuro. Bekas jalur kereta menuju Kartosuro dari Stasiun Purwosari berada di jalur lambat. Tidak semua bekas rel bisa saya temukan karena sebagian besar rel telah tertutup oleh taman kota yang berada di pinggir jalan.
Selama perjalanan menyusuri rel di jalur lambat, beberapa kali saya menemukan  patok dari potongan rel yang terletak di jalur hijau. Patok tersebut sengaja di tancapkan sebagai penanda bekas jalur kereta yang kini menjadi aset milik PT. KAI. Perjalanan saya terhenti di Pasar Sidodadi Solo. Di titik inilah jejak terakhir jalur menuju Kartosuro bisa saya temui. Disamping pasar, saya juga menjumpai plang milik PT. KAI yang menandakan bahwa wilayah tersebut masih menjadi aset milik PT. KAI. Dengan berbekal peta yang saya miliki, perjalanan pun saya lanjutkan ke arah barat menuju Kartosuro untuk mencari bekas dari Stasiun Kartosuro yang menurut info kini telah berubah menjadi warung sate.

Stasiun Purwosari
Sumber: Tropen Museum

Bekas Jalur Kereta dari Stasiun Purwosari

Bekas Jalur dari Stasiun Purwosari Menuju Kartosuro

Bekas Rel di Kleco Solo

Rel Kereta Menuju Kartosuro di Kleco Solo
Sumber: kitlv.nl

Bekas Rel Disamping Pasar Sidodadi Solo

Setibanya di daerah Kartosuro, saya mulai berjalan pelan untuk mencari letak bekas Stasiun Kartosuro. Tepat di depan Pasar Kartosuro saya menemukan warung sate yang bangunannya tidak asing bagi saya. Benar saja, setelah saya amati bangunan tersebut ternyata adalah bekas Stasiun Kartosuro yang saya cari. Harus jeli memang mengingat di kawasan tersebut sudah menjadi kawasan pertokoan yang ramai. Yang menjadi penanda jelas bahwa dulunya bangunan itu adalah sebuah stasiun adalah adanya plang milik PT. KAI yang tertancap di samping stasiun dengan logo lama. Namun apabila diamati lebih teliti, sebenarnya di bangunan stasiun tersebut masih terdapat plang kayu nama stasiun yang bertuliskan “Kartasura” yang terletak di atas bangunan. Akan tetapi tulisan tersebut sudah tidak begitu jelas dan tertutup papan reklame.
Tepat dibelakang bangunan stasiun saya masih bisa menemukan sebuah rumah yang merupakan bekas rumah dinas kepala stasiun. Bangunan itu sekarang tidak berpenghuni. Berikutnya saya mencoba mencari sisa-sisa rel yang mungkin masih terlihat di sekitar stasiun. Tak mudah memang, karena kawasan tersebut telah berubah menjadi kawasan pertokoan yang padat dan jalan trotoar pun sudah tertutup paving dan semen. Berjalan ke barat mendekati jembatan penyeberangan yang tak jauh dari bekas stasiun, saya menemukan trotoar yang kebetulan lapisan semennya sedikit terkelupas dan disana saya menemukan besi memanjang yang menurut saya adalah bekas jalur kereta menuju ke Boyolali.

Bekas Stasiun Kartosuro

Plang Nama Stasiun Kartosuro
Sumber: semboyan35.com

Bekas Rel Menuju Boyolali

Perjalananpun saya lanjutkan menuju ke Boyolali. Sampai di daerah Kranggan sesuai peta, jalur kereta menyeberang ke arah selatan jalan raya. Disana saya berusaha mencari bekas-bekas rel yang masih tersisa, akan tetapi saya tidak berhasil menemukannya. Bekas jalur kereta sekarang telah tertutup aspal apalagi dengan tebalnya aspal jalan menuju Boyolali dan adanya pelebaran jalan tentu sangat susah menemukan bekas rel di area tersebut. Akhirnya perjalanan saya lanjutkan menuju ke Kota Boyolali mencari bekas Stasiun Boyolali.
            Masuk dalam Kota Boyolali, perjalanan saya lanjutkan menyusuri jalan Perintis Kemerdekaan atau pertigaan Ngangkruk. Sesuai peta, jalur kereta berbelok ke kiri menuju daerah Bakulan. Tak berselang jauh dari pertigaan Ngangkruk, akhirnya saya tiba di Kampung Bakulan. Sesuai dengan jalur yang ada di peta bahwa jalur kereta melintas di area ini. Disamping lapangan voli yang terletak di kampung tersebut, saya sempat berhenti sejenak untuk mengamati jalan kampung. Hipotesa saya mengatakan bahwa jalan yang saya lalui ini dulunya adalah jalur kereta seperti yang tertera pada peta. Hal ini diperkuat dengan adanya tikungan yang ada di depan saya yang sudutnya membentuk tikungan seperti jalur kereta api.

Bekas Jalur Kereta Menuju Kampung Bakulan

Bekas Jalur Kereta di Kampung Bakulan

Selang beberapa saat ada dua nenek-nenek yang berusia kira-kira 80 tahunan melintas di dekat lapangan voli. Dengan rasa penasaran yang tinggi saya mencoba menggali informasi dari nenek tersebut. “Dulu jalur keretanya nggih mriki Mas, dalan kampung mriki mengke menggok dugi daerah Sepuran mriko”. Terang nenek tersebut dengan Bahasa Jawa. Berbekal informasi tersebut, perjalanan saya lanjutkan mencari daerah Sepuran.
Terus menyusuri jalan kampung akhirnya perjalanan saya tiba di Kampung Driyan yang letaknya bersebelahan dengan Kampung Bakulan. Dari Kampung Driyan rel berbelok tajam ke kanan melintasi Jalan Nanas. Di Jalan Nanas, tepatnya di sebelah kiri jalan, berdiri SD Siswodipuran I yang menurut informasi yang saya peroleh jalur kereta menembus bangunan SD tersebut. Saya pun bergegas menuju belakang bangunan SD melalui gang kecil yang ada disebelah bangunan sekolah tersebut. Benar saja, di gang kecil yang saya lewati tersebut saya menemukan patok milik PT. KAI yang tertancap di samping gang.

Bekas Jalur Kereta Berbelok ke Kanan Melintas di Jalan Nanas

Patok Milik PT. KAI Disamping SD Siswodipuran I

Sesampainya di halaman belakang SD, saya menjadi semakin bingung karena menurut peta yang ada jalur kereta bercabang menjadi dua meskipun sama-sama menuju ke Stasiun Boyolali. Penelusuran saya lanjutkan di sekitar area tersebut dengan harapan saya bisa menemukan petunjuk. Dari area yang ada di belakang halaman SD Siswodipuran I terdapat jalur yang masuk kedalam gang kecil tepatnya disamping Puskesmas Pembantu (Pustu) Siswodipuran dan jalur yang menuju kejalan raya atau Jalan Jambu. Akhirnya saya putuskan untuk mencoba jalur ke arah jalan raya atau Jalan Jambu terlebih dahulu. Dan benar saja saya menemukan empat patok milik PT. KAI sekaligus yang tertancap di perempatan jalan tepat di samping Balai Desa Siswodipuran.
Saya kemudian kembali ke lokasi persimpangan jalur kereta yang saya perkirakan berada di belakang SD Siswodipuran I. Kali ini saya mencoba masuk ke dalam gang yang berada tepat di samping Puskesmas Pembantu (Pustu) Siswodipuran. Dibelakang Pustu berdiri sebuah masjid yang bernama Masjid As-Sakinah yang menurut info yang saya dapatkan dulu bekas rel melintas di bangunan masjid tersebut. Setelah bangunan masjid, jalan gang menikung ke kanan dan disana saya kembali menemukan patok milik PT. KAI lagi.

Titik Percabangan Jalur di Belakang SD Siswodipuran I

Bekas Patok Milik PT. KAI di Jalan Jambu

Patok Milik PT. KAI di Samping Masjid As-Sakinah

Perjalananpun saya lanjutkan melintasi Jalan Jambu dan terus masuk ke dalam gang. Disana saya menemukan sebuah patok milik PT. KAI tertancap di depan rumah warga. Terus masuk kedalam gang, akhirnya saya tiba di ujung gang yang merupakan bagian belakang dari Panti Marhaen yang menurut info yang saya dapatkan disinilah dulunya Stasiun Boyolali berdiri. Tak banyak yang bisa saya temui disana, karena bangunan sekitar merupakan bangunan baru. Mungkin orang tidak akan menyangka bahwa kawasan tersebut dulunya merupakan kawasan stasiun.
Sayapun berjalan menuju ke bagian depan panti dengan harapan masih bisa menemukan jejak bekas Stasiun Boyolali. Sesampainya di bagian depan bangunan panti, ternyata kondisinya pun tidaklah jauh berbeda. Semuanya telah di dominasi oleh bangunan baru. Bahkan halaman panti pun kini sudah ditutupi semen sehingga tidaklah memungkinkan menemukan petunjuk yang berkaitan dengan peninggalan Stasiun Boyolali. Di area tersebutlah jalur kereta api dari Solo menuju Boyolali berakhir. Sebenarnya dahulu jalur kereta memanjang hingga Pasar Boyolali yang diperuntukkan sebagai gudang. Namun semenjak jalur tersebut diambil alih oleh NIS, maka jalur kereta diperpendek hingga Stasiun Boyolali saja.

Patok Milik PT. KAI di Sepuran

Halaman Belakang Panti Marhaen (Eks Stasiun Boyolali)

Lokasi Bekas Stasiun Boyolali

Stasiun Boyolali Tempo Dulu
Sumber: kitlv.nl

Puas mencari informasi seputar Stasiun Boyolali, perjalanan saya lanjutkan menuju daerah Mojosongo yang searah dengan perjalanan pulang saya menuju Solo. Di Mojosongo, bekas jalur kereta berada di selatan jalan raya. Hal ini lah yang membuat saya memilih melakukan blusukan di area ini pada bagian akhir perjalanan karena searah dengan perjalanan saya pulang. Tidaklah sulit menemukan bekas jalur kereta dilokasi ini. Area ini terletak di sebelah gardu induk milik PLN atau tepatnya di depan Kantor Kecamatan Mojosongo. Disana terdapat plang milik PT. KAI yang menjadi penanda bahwa tanah disekitar area tersebut merupakan milik PT. KAI.
Bekas jalur kereta masih sangat terlihat di area ini. Tanda-tanda tersebut masih bisa diamati dari lebar jalan dan kontur tanah yang menyerupai jalur kereta api. Bekas jalur kereta kini telah dijadikan jalan kampung oleh masyarakat sekitar. Lokasi jalur kereta sebenarnya berada di samping jalan raya, akan tetapi kini telah dipisahkan oleh deretan ruko dan rumah milik warga sekitar.

Bekas Jalur Kereta di Mojosongo

Perjalanan saya lanjutkan kearah timur menyusuri jalan kampung yang sejajar dengan jalan raya. Sesampainya di perempatan jalan atau lebih tepatnya di Desa Masahan, saya kembali menjumpai plang milik PT. KAI tertancap dipinggir jalan. Disini saya sempat menanyakan informasi kepada warga sekitar mengenai jalur kereta yang pernah melintas diarea tersebut. Namun dari semua warga yang saya tanyai tidak ada yang mengetahui mengenai hal tersebut.

Bekas Jalur Kereta di Masahan

Terus berjalan kearah timur menyusuri jalan kampung, akhirnya saya tiba di Desa Ngadirejo. Disana saya sempat bertemu dengan seorang warga yang kebetulan sedang menyapu teras rumah dan menurut perkiraan saya usianya kurang lebih berkisar 80 an tahun. Saya menanyakan beberapa hal kepada kakek tersebut, diantaranya apakah benar jalan kampung yang saya lewati tadi adalah bekas rel kereta api. Kakek tersebut membenarkan pertanyaan saya. Beliau menjelaskan bahwa dahulu sewaktu ia masih kecil di depan rumahnya terdapat rel kereta api dari Solo hingga Boyolali. Tetapi beliau hanya melihat sebentar saja kereta melintas di jalur tersebut. Setelah itu beliau sudah tidak pernah lagi melihat kereta melintas di jalur tersebut hingga akhirnya rel dicabuti oleh warga sekitar.
Ketika saya menanyakan tahun berapa kira-kira kereta terakhir melintas di depan rumahnya, beliau tidak bisa mengingatnya. Hanya saja beliau memperkiraan tidak lama setelah Indonesia merdeka sudah tidak ada kereta yang melintas.  Saya pun turut menanyakan letak beberapa stasiun dan halte yang ada dijalur  tersebut termasuk Stasiun Mojosongo dan Halte Banyudono, akan tetapi beliau tidak tahu mengenai hal itu. “Saya tahu kalau dulu ada stasiun di Mojosongo, tapi saya tidak tahu persis letaknya, Mas”. Terang kakek tersebut sambil mengingat-ingat. Beliau hanya memberikan perkiraan letak Stasiun Mojosongo berada di sekitar Puskesmas Mojosongo. Merasa cukup dengan informasi yang saya peroleh, saya pun berpamitan dan kembali melanjutkan perjalanan.
Perjalanan saya lanjutkan menyusuri jalanan kampung dan berakhir di Polres Boyolali. Setelah itu perjalanan saya lanjutkan kearah timur. Disepanjang jalan saya sudah tidak bisa menemukan lagi sisa-sisa dari jalur kereta Solo – Boyolali karena sebagian besar telah berubah menjadi kawasan pemukiman dan pertokoan serta telah tertutup oleh pelebaran jalan raya. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Solo. Kurang lebih pukul sebelas siang saya tiba di Solo.
Setibanya di Solo saya teringat akan sejarah tram dalam kota yang pernah ada di Solo. Menurut beberapa artikel yang saya baca, dulu di Kota Solo pernah memiliki tram dalam kota yang menggunakan kuda sebagai tenaga penariknya. Jalur tersebut membentang dari Stasiun Solo Kota atau Sangkrah hingga Stasiun Jebres melintas di depan Pasar Gede. Hal ini sejalan dengan peta lawas yang saya miliki yang menunjukkan adanya jalur kereta terhubung antara Stasiun Solo Kota dengan Stasiun Jebres. Mungkin kala itu tram ditujukan untuk mendukung mobilitas harian masyarakat Solo yang ingin bepergian atau berdagang karena jalur tersebut melintas di pusat-pusat ekonomi Kota Solo.
Di era kepemimimpinan Joko Widodo saat masih menjabat sebagai Walikota Solo, sempat ada wacana untuk menghidupkan jalur tram tersebut. Rencananya jalur tram tersebut selain diperuntukkan untuk moda transportasi alternatif bagi masyarakat juga digunakan sebagai tram wisata di Kota Solo. Akan tetapi sayang rencana reaktivasi jalur tram tersebut kini urung dilakukan karena memiliki banyak faktor kendala seperti bekas jalur tram yang sudah berubah menjadi kawasan pemukiman penduduk dan kondisi jalan raya yang sudah terlalu padat.

Peta Tram Dalam Kota Solo
Sumber: kitlv.nl

Stasiun Solo Kota (Sangkrah)

Tram Kuda Melintas di Area Pasar Gede Solo
Sumber: kitlv.nl

Tram Melintas di Kota Solo Tahun 1900
Sumber: kitlv.nl

Perkiraan Jalur Tram di Stasiun Jebres Tahun 1930
Sumber: kitlv.nl

Stasiun Solo Jebres

            Kini tak banyak yang tersisa dari keberadaan jalur tram dalam kota yang pernah ada di Solo, terutama jejak jalur dari Stasiun Solo Kota hingga Stasiun Jebres. Yang masih bisa kita saksikan saat ini hanyalah jalur kereta yang berada di Jalan Slamet Riyadi yang dulu merupakan jalur penghubung tram antara Stasiun Purwosari dan Stasiun Solo Kota.  

________________________________________
Artikel ini dikembangkan oleh: blusukanpabrikgula.blogspot.com
________________________________________
PRIMA UTAMA / 2014 / WA: 085725571790 / MAIL, FB: primautama@ymail.com / INSTA: @primautama   
































22 komentar:

  1. mantab penelusurannya
    salut

    BalasHapus
  2. terima kasih atas feed back nya.
    lokasi tersebut termasuk blusukan tersulit yang pernah saya lakukan, meskipun sebenarnya pemetaan jalurnya jelas. akan tetapi jejaknya sudah hampir 80% hilang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. dulu taun 80-an
      saya kalo main ke saudara yang tinggal di seberang jalan RC Dr. Soeharso (RS Ortopedi), kadang melihat kereta sedang melintas,

      kata ortu dulu kereta tsb menuju / dari gembongan

      Hapus
    2. Kalau itu kereta angkut tetes tebu pak.

      Kalau tahun 80an bisa jadi itu angkutan tetes tebu pg. Kartasura/gembongan kalau gak ya pg. Colomadu.

      Pasalnya pg kartasura tutup tahun 1981 an mengginakan kereta pengangkut tetes tebu hingga st purwosari.

      Begitu juga dengan pg. Colomadu yg menggunakan kereta pengangkut tetes tebu hingga tahun 1990 dan kemudian jqlur dibongkar.

      Sayangnya angkutan tetes tersebut sampai saat ini saya belum menemukan foto dokumentasinya.

      Hapus
    3. Kalau itu kereta angkut tetes tebu pak.

      Kalau tahun 80an bisa jadi itu angkutan tetes tebu pg. Kartasura/gembongan kalau gak ya pg. Colomadu.

      Pasalnya pg kartasura tutup tahun 1981 an mengginakan kereta pengangkut tetes tebu hingga st purwosari.

      Begitu juga dengan pg. Colomadu yg menggunakan kereta pengangkut tetes tebu hingga tahun 1990 dan kemudian jqlur dibongkar.

      Sayangnya angkutan tetes tersebut sampai saat ini saya belum menemukan foto dokumentasinya.

      Hapus
    4. Pak Prima, panjenengan keren sekali .. saya saja ga ingat dan ga tau sama sekali itu angkutan apa, cuma taunya kereta barang (bukan penumpang), hehe

      Hapus
  3. utk jalur tram yg dari Stasiun Jebres lewat depan Pasar Gede, itu lanjut ke depan BI / Kantor Pos atau lewat ke belakang Benteng Vastenberg? lewat lojiwetan maksudnya..ga ada juga ya bekas jembatan utk nyebrangin Kali Pepe? sy pernah liat foto Benteng Vastenberg kira2 tahun 1930-an, ada rel disampingnya..ngga tau itu yg depan atau belakangnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau depan atau belakang benteng saya belum cek di peta detail kota solo zaman dulu. tapi kalau dilihat dari peta pasar gede tempo dulu jalur kereta melintas didepan pasar yang kemungkinan lewat didepan balai kota terus melintasi depan benteng sebelum berbelok menuju stasiun sangkrah

      Hapus
  4. Seingat saya kl dari tegalwire, mojosongo boyolali, ada jalan yg lebih rendah dari jalan raya (di depan seberang STM pertanian mojosongo / boyolali ) yg memanjang sampai bayudono, dulu sebelum ada pelebaran jalan dijadikan jalur lambat. Di bayudono ada jalan menurun lewat bawah jalan raya belok ke sebelah kanan jalan, konon itu dulu jalur rel kereta. Yg memanjang dari bayudono sampai kartosuro disebelah kanan jalan kl dari boyolali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya betul dulu jalurnya memang itu, tapi sebenarnya jalan raya zaman dulu tidak setinggi yang sekarang kalau menurut pengamatan saya

      Hapus
  5. Sewaktu kecil sering mampir di daerah bayudono ada warung es kelapa muda,ada bangunan disekitarnya seperti bekas stasiun. Krn ada beberapa roda besi kereta yg tergeletak dan satu gerbong barang. Lokasi tepatnya di sebelah barat yg saat ini menjadi rumah sakit daerah bayudono

    BalasHapus
    Balasan
    1. kira2 itu tahun berapa ya?
      saya pernah tanya sama warga sekitar kalau perkiraan lokasi halte banyudono berada didekat puskesmas banyudono. untuk bangunan halte menurut referensi terbuat dari kayu.

      Hapus
  6. dekata rumah nenek saya juga ada bekas rel kereta tapi katanya cuman buat ngankut tebu,, tapi saya juga tak tahu belok kemana dan arahnya kemana. tapi seitar tahun 90an saya masih bisa melihat bekas besi rel ereta yang tak lagi pada tempatnya,, dan sekarang sebagian besi rel ada yagn dipakai buat jembatan dan palang di pintu masuk makam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya benar. Dulu jalur solo boyolali jg terhubung dengan pabrik gula. Diantaranya: colomadu, gembongan kartosuto, dan bangak boyolali

      Hapus
  7. Mas prima utama terima kasih atas blusukannya. Berarti ini adalah pecinta kereta api. Salut Mas. Kenalkan nama saya hanung haryanto juga pecinta kereta api dari solo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal. Mungkin kalau ada waktu bisa blusukan bareng. Banyak misteri di jalur kereta solo boyolali yg blm terpecahkan. Salam

      Hapus
  8. saya juga sedikit tahu waktu saya kecil th 70 an diajak ke tawangmangu melewati kartasura, di utara jalan raya dekat pertigaan smg-solo-jogja ada rel kereta api di kiri jalan (kalau ke arah solo) dan rel itu ada terus sampai masuk kota solo. Perlu Anda tahu saya anak Magelang lho, bukan anak solo (waktu melihat rel itu). Saya melihatnya beberapa kali sampai kira-kira tahun 80an waktu saya kadang-kadang ke solo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih atas informasinya. dulu setelah jalur boyolali non aktif menurut info masih ada kereta wisata dari stasiun purwosari hingga stasiun kartasura yang sekarang masih ada bangunannya. tapi seiring waktu semuanya hilang karena diganti bus

      Hapus
  9. Mas primautama, minta alamat/situs buat lihat peta-peta zaman belanda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alamat tepatnya sy lupa pk. Coba ketik d google: map leiden. Trus klik yg plng atas kalau g slh. Nanti tgl d utek2 sendiri pak. Pilih negara sama lokasinya.

      Hapus
  10. Trimakasih mas. Informasi yang bermanfaat.

    BalasHapus
  11. Wah sangat lengkap ulasannya sampai sejarahnya juga..
    kebetulan lagi pengen naik, terima kasih sangat membantu, btw sekarang tiketnya berapa ya?

    Salam
    Bunda Umar
    Cream Sari
    Cream Anisa
    Cream Adha

    BalasHapus