Jumat, 03 Oktober 2014

JALUR AVTUR: STASIUN BARAT - LANUD ISWAHJUDI

 YANG TERSISA DARI JALUR AVTUR

Era kejayaan kereta api sebagai moda transportasi masal dan angkutan barang dimulai sejak pendudukan Belanda di Indonesia yang ditandai dengan pembangunan jalur kereta api pertama di Semarang. Masa kejayaan itu berlangsung  hingga awal tahun 1970. Setelah itu sedikit demi sedikit peran kereta api mulai tergeserkan dengan alat transportasi berbasis ban karet yang dirasa lebih efektif dan efisien. Kondisi ini dibuktikan dengan matinya beberapa jalur kereta api di Pulau Jawa yang merana akibat kalah bersaing dengan moda transportasi berbasis jalan raya. Begitu pula dengan peran kereta api pengangkut bahan bakar pesawat atau avtur di Landasan Udara (Lanud) Iswahjudi Magetan Jawa Timur.
            Dahulu diantara Stasiun Barat yang merupakan satu-satunya stasiun di Kabupaten Magetan, memiliki jalur kereta api menuju ke Landasan Udara Iswahjudi. Saya belum dapat menemukan bukti tertulis kapan pastinya jalur ini mulai dibangun, tapi kemungkinan jalur ini dibangun beriringan dengan dibangunnya Lanud Iswahjudi yaitu pada Tahun 1939 oleh Hindia Belanda yang kala itu bernama Pangkalan Udara Maospati.
Jalur Stasiun Barat hingga Lanud Iswahjudi dikhususkan untuk mengangkut avtur atau bahan bakar pesawat yang dipasok oleh Pertamina menuju Landasan Udara Iswahjudi. Seiring dengan berjalannya waktu dan berkembangnya moda transportasi darat, Pertamina lebih memilih mendistribusikan avtur dengan menggunakan truk karena dinilai lebih praktis dan efisien. Oleh karena itu jalur kereta dari Stasiun Barat menuju Lanud Iswahjudi pun  dinonaktifkan alias sudah tidak terpakai lagi.
 Dibeberapa tempat di pulau Jawa maupun Sumatra mungkin banyak dijumpai jalur kereta khusus pengangkut BBM, namun di Lanud Iswahjudi ini mungkin adalah satu-satunya jalur kereta api yang dikhususkan untuk mengangkut bahan bakar pesawat ke landasan udara. Keunikan serta sejarahnya itulah yang membuat saya tertarik untuk menyusuri sisa-sisa jalur tersebut. Berikut adalah blusukan saya di lintas jalur Stasiun Barat Magetan hingga Lanud Iswahjudi.

Kereta Pengangkut Avtur dari Stasiun Barat Menuju Lanud Iswahjudi
Sumber: semboyan35.com

 Memulai Blusukan
            Perjalanan pagi itu saya lakukan pada hari Senin 1 Setember 2014 dengan menggunakan motor. Saya berangkat dari rumah yang terletak di Kabupaten Sragen pada pukul tujuh pagi. Waktu itu cuaca pagi hari sudah terasa terik, mungkin karena masih masuk dalam musim kemarau sehingga cuaca agak begitu panas. Perjalanan saya mulai kearah timur melalui Kabupaten Ngawi menuju Magetan. Selama diperjalanan, saya menjumpai dua pabrik gula yang masih aktif. Pabrik pertama yang saya temui adalah Pabrik Gula (PG) Soedhono yang masuk dalam wilayah Kabupaten Ngawi dan yang kedua adalah PG Purwodadi yang terletak di Kabupaten Magetan. Hal inilah yang menarik perhatian saya selama diperjalanan, karena disepanjang jalan saya masih bisa menjumpai bekas-bekas rel lori atau decauville di kanan jalan menuju perkebunan tebu. Tentu saja jalur itu sudah tidak utuh lagi karena sudah lama tidak terpakai.
            Kurang lebih pukul sembilan pagi saya mulai memasuki wilayah Kabupaten Magetan. Ini adalah pertama kalinya saya blusukan di Magetan. Hal ini lah yang membuat saya agak canggung dan sedikit bingung dengan kondisi wilayah dan arah jalan yang ada disana. Tak jauh berbeda dengan Kabupaten Ngawi, wilayah di Magetan juga masih banyak didominasi oleh hutan dan ladang persawahan.

  Gapura Masuk Kabupaten Magetan

            Sampai juga saya di pertigaan Maospati. Disana saya sempat tersesat jauh karena tidak tahu arah jalan. Ketidaktahuan saya akan posisi Stasiun Barat dan Lanud Iswahjudi membuat saya mengambil arah jalan yang salah. Alhasil banyak waktu saya yang terkuras habis untuk mencari petunjuk jalan. Akhirnya setelah mendapat petunjuk dari seorang petugas SPBU, saya berhasil menemukan lokasi Lanud Iswahjudi.
            Tiba diarea Lanud Iswahjudi, tentu saja pencarian pertama saya adalah bekas jalur kereta pengangkut avtur. Tak sulit ternyata untuk menemukannya. Jalur tersebut ternyata bersinggungan dengan Jalan Raya Maospati – Madiun. Jalur tersebut mengarah ke utara menuju Stasiun Barat. Saya pun segera tancap gas meluncur kearah utara untuk mencari keberadaan Stasiun Barat.
            Kurang lebih empat kilometer perjalanan ke utara, akhirnya saya sampai di Stasiun Barat yang berada di Desa Tebon Kecamatan Barat. Bangunan stasiun tidaklah begitu besar, namun suasana disana cukup ramai dengan aktivitas calon penumpang yang menunggu kedatangan kereta. Saya sempat bermain-main sejenak diarea stasiun sembari melihat-lihat bangunan gudang stasiun serta bangunan rumah dinas kepala Stasiun Barat yang lumayan cukup tua.

Gambar peta jalur avtur stasiun Barat – Lanud Iswahjudi
Sumber: Google Map

Stasiun Barat

Area Stasiun Barat dan Decauville PG Purwodadi Tahun 1928
Sumber: kitlv.nl

Stasiun Barat Tahun 1928
Sumber: kitlv.nl

Disekitar area Stasiun Barat, saya banyak menjumpai bekas jalur Decauville yang saya perkirakan adalah milik PG Purwodadi. Hal ini merupakan hal yang lazim, mengingat pada zaman dahulu pabrik gula selalu terhubung dengan stasiun kereta api sebagai angkutan distribusi barang.
            Disebelah barat stasiun akhirnya saya menjumpai bekas jalur kereta dari Lanud Iswahyudi yang juga merupakan titik pertemuan dengan jalur kereta Solo – Madiun. Akan tetapi sayang, titik pertemuan jalur tersebut kini sudah ditutup tembok beton milik Stasiun Barat. Diarea tersebutlah blusukan saya menuju ke Lanud Iswahjudi menyusuri bekas jalur kereta pengangkut avtur dimulai.
      Sayapun mulai menelusuri bekas jalur kereta yang mengarah ke selatan menuju ke sebuah perkampungan. Dibeberapa titik bekas rel besi masih tampak terlihat dengan jelas, akan tetapi tidak semuanya dalam kondisi utuh. Bekas jalur kereta sekarang telah menjadi jalanan kampung yang ada di tengah-tengah pemukiman warga. Jalur tersebut terus mengarah ke selatan hingga berpotongan dengan sebuah jalan raya. 


Titik Pertemuan Jalur di Stasiun Barat


Bekas Jalur Kereta Menjadi Jalan Kampung

Penelusuran saya tiba di seberang kampung yang berbatasan dengan sebuah jalan raya dan sungai. Dititik tersebut, rel berpotongan dengan jalan raya dan melintasi sebuah sungai. Bekas kerangka besi penyangga rel pun masih utuh. Kini bekas jembatan kereta tersebut dimanfaatkan warga sebagai jembatan penyeberangan. Tak jauh dari jembatan tersebut, saya juga banyak menjumpai bekas jalur lori milik PG Purwodadi. Kondisinyapun masih bisa dikatakan bagus.
            Untuk melanjutkan perjalanan, saya harus berputar mencari jalan alternatif menuju keseberang sungai. Hal ini karena bekas jembatan kereta tidak bisa dilalui kendaraan bermotor dan terlalu beresiko jika dipaksakan. Akhirnya sayapun masuk ke perkampungan warga untuk menjangkau area diseberang sungai tersebut. Sempat muncul kecurigaan dari penduduk sekitar karena gerak-gerik saya yang cukup mencurigakan. Akhirnya setelah berputar, sayapun bisa menjangkau area diseberang jembatan.

Bekas Rel Berpotongan dengan Jalan Raya

Bekas Rel Melintasi Sungai

Bekas Jalur Kereta dari Seberang Jembatan


Bekas Jalur Lori dan Jembatan Lori Milik PG Purwodadi

Mengejar waktu yang semakin terik, perjalananpun segera saya lanjutkan kembali. Kali ini area blusukan saya beralih ke area persawahan dari yang sebelumnya berada di area perkampungan warga. Bekas jalur kereta masih sangat terlihat jelas meskipun banyak besi rel yang telah hilang. Bekas jalur kereta tersebut kini dijadikan jalan alternatif menuju ke persawahan oleh masyarakat sekitar.
            Dibeberapa titik saya juga kembali menemukan bekas jembatan kereta yang melintasi sebuah saluran irigasi. Besi kerangka jembatan pun masih utuh meskipun besi rel nya sudah hilang. Posisi rel sebenarnya tidaklah terlalu jauh dari jalan raya, hanya dipisahkan oleh sebuah sungai kecil yang berada tepat disamping jalan raya. Setelah cukup jauh menyusuri bekas jalur kereta diarea persawahan, akhirnya saya tiba disuatu titik dimana bekas jalur kereta mulai mendekati jalan raya dan akhirnya bekas jalur kereta tersebut berada persis disamping jalan raya.   

 Bekas Jalur Kereta di Area Persawahan


Bekas Jembatan Kereta Melintas Diatas Saluran Irigasi 

Bekas Rel Kereta di Perkebunan Tebu

Jalur Kereta Mulai Bertemu Jalan Raya

 Kini bekas jalur kereta berada persis disamping jalan raya. Hal ini merupakan keuntungan tersendiri bagi saya karena mudah untuk menelusuri jalur tersebut. Dibeberapa titik bahkan bekas jalur kereta ada yang masuk kehalaman rumah milik warga. Kondisi rel kereta pun masih sama seperti sebelumnya yakni sudah banyak yang hilang. Yang masih tamak jelas disana adalah gundukan tanah bekas jalur kereta. Dibeberapa lokasi, bekas jalur kereta telah tertutup dengan bangunan warung semi permanen milik masyarakat.
            Terus melaju tak terasa perjalanan saya tiba diujung jalan yakni di Lanud Iswahjudi. Di Pertigaan tersebut bekas jalur kereta masih terlihat dengan jelas. Bahkan rambu penanda perlintasan kereta pun masih bisa saya temukan meskipun telah tertutup oleh papan reklame. Di Lanud Iswahjudi terdapat sebuah pintu gerbang dari besi yang merupakan pintu masuk kereta ke area landasan udara. Kondisi gerbang tersebut sangat kotor tertutup oleh semak belukar. Hal ini mungkin karena gerbang tersebut sudah lama tidak dibuka oleh pihak lanud.




       Bekas Rel Berada di Samping Jalan Raya dan Pekarangan Warga


Gerbang Masuk Kereta ke Lanud Iswahjudi

            Tak terasa blusukan saya di bekas jalur kereta pengangkut avtur antara Stasiun Barat hingga Lanud Iswahjudi berakhir sudah. Meskipun jalur tersebut hanya membentang sejauh empat kilometer, namun jalur tersebut memiliki sejarah yang luar biasa. Mungkin jalur ini adalah satu-satunya jalur kereta pengangkut avtur yang ada di Indonesia yang langsung terhubung dengan landasan udara. Adalah hal yang mustahil mungkin untuk mereaktivasi jalur itu kembali karena perannya yang telah tergantikan dengan angkutan truk. Namun besar harapan sisa-sisa jalur tersebut akan terus lestari sebagai bukti aktivitas angkutan avtur dimasa lalu.

_____________
artikel ini dikembangkan oleh: blusukanpabrikgula.blogspot.com
_____________

PRIMA UTAMA / 2014 / WA: 085725571790 / MAIL/FB: primautama@ymail.com / INSTA: @primautama 

11 komentar:

  1. biasanya kalo blusukan berapa orang mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. semuanya saya lakukan sendiri mas,
      kecuali yang artikel berjudul "blusukan bersama kota toea magelang" itu dilakukan rombongan..

      Hapus
    2. kebetulan itu ada di daerah saya, dulu waktu kecil sering ikut kereta itu dari maospati ke barat bolak balik pada saat libur, thanks tulisannya bagus.

      Hapus
    3. terima kasih atas atensinya, saya punya teman di daerah situ namanya dian cita. barang kali bapak kenal

      Hapus
  2. saat saya kecil, sangat seneng melihat kereta ini , keretanya sangat lambat meski sdh menggunakan loko diesel , mengingat jalurnya sejajar dgn jalan raya barat yg cukup ramai, kereta lewat jam 10 siang, jalur di tutup sdh masuk tahun 2000 an..terakhir lewat tahn 2o15 jalur sdh ketutup aspal karena ada pelebaran jalan Barat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang suplai avtur memang beralih menggunakan truk pertamina. Jalur kereta seperti ini bisa di jumpai di bandara malang, jogja, semarang, dan beberapa lg.

      Hapus
  3. Sedikit tambahan, setelah jalur pada gambar "Bekas Jembatan Kereta Melintas Diatas Saluran Irigasi" relnya bersilang dengan jalur lori PG Purwodadi, karena di sebelah irigasi itu, tepatnya di seberang jalan besar, ada jembatan Kereta lori yang memotong jalan raya dan Jalur kereta.

    BalasHapus
  4. Boleh saya ikut blusukan mas ? Lain kali mungkin bisa blusukan lagi kalau mas ada agenda buat blusukan jalur mati lagi, ini email saya mas Griandiaditya36@gmail.com

    BalasHapus
  5. Boleh saya ikut blusukan mas ? Lain kali mungkin bisa blusukan lagi kalau mas ada agenda buat blusukan jalur mati lagi, ini email saya mas Griandiaditya36@gmail.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh kalau mau ikut. Januari ada blusukan bareng komunitas kota tua magelang. Kalau mau gabung silakan

      Hapus