Rabu, 08 Oktober 2014

JALUR WONOGIRI – BATURETNO

TENGGELAMNYA JALUR WONOGIRI – BATURETNO

            Pembangunan Waduk Gajah Mungkur (WGM) pada awal tahun 1978  memaksa ribuan warga yang berada pada peta area terdampak untuk melakukan bedol desa. Tak tanggung-tanggung, beberapa desa harus ditenggelamkan untuk membuat waduk besar ini. Tak hanya desa yang ditenggelamkan, jalur kereta api dari Wonogiri hingga Baturetno pun ikut menjadi korban.
Kali ini blusukan saya lanjutkan menyusuri jalur mati dari Wonogiri hingga Baturetno meneruskan blusukan yang sebelumnya telah saya lakukan dari Stasiun Sangkrah hingga Halte Tekaran. Perjalanan kali ini saya mulai dari Solo kurang lebih pada pukul tujuh pagi menunggu kondisi lalu lintas lengang terlebih dahulu. Kali ini blusukan saya lakukan pada hari Senin tanggal 15 September 2014. Dari Solo saya langsung meluncur menuju Wonogiri via Sukoharjo. Kurang lebih pukul setengah sembilan pagi saya mulai memasuki wilayah Kabupaten Wonogiri.

Gapura Masuk Kabupaten Wonogiri

            Perjalanan kemudian saya lanjutkan untuk mencari letak Stasiun Wonogiri. Menurut informasi yang saya dapatkan, Stasiun Wonogiri terletak di belakang Pasar Wonogiri yang berdekatan dengan terminal angkot. Setibanya di pusat kota, saya membuntuti sebuah angkutan kota yang kebetulan melintas di samping saya. Untung bagi saya, angkot tersebut menuntun saya menuju ke Stasiun Wonogiri yang letaknya persis di belakang Pasar Wonogiri sesuai informasi yang saya peroleh sebelumnya.

Emplasemen Stasiun Wonogiri

            Stasiun Wonogiri terletak di Desa Giripurwo Kecamatan Wonogiri. Stasiun ini berdiri 144 meter diatas permukaan air laut. Dahulunya stasiun ini merupakan stasiun pemberhentian terakhir kereta api feeder dari Solo. Saat saya tiba disana kondisi stasiun sangat sepi, kontras dengan ramainya kondisi pasar yang ada di depannya. Yang nampak hanyalah aktivitas beberapa pekerja yang sibuk memperbaiki rel di halaman stasiun. Stasiun ini sebenarnya masih nampak bagus dan terawat. Saya sempat mengintip ruang pemimpin perjalanan kereta api dan saya masih bisa melihat alat-alat perjalanan kereta api yang masih nampak terawat.

Stasiun Wonogiri

Setelah cukup puas beristirahat di area stasiun, perjalanan saya lanjutkan menyusuri rel menuju kesebuah perkampungan yang tak jauh dari stasiun. Disana saya menjumpai beberapa rel yang sudah tertutup tanah dan menjadi jalan kampung. Rel ini adalah bekas jalur menuju Baturetno yang sudah 30-an tahun tidak aktif. Perjalanpun saya lanjutkan hingga menemukan sebuah bangunan gudang Stasiun Wonogiri yang berada di tengah perkampungan warga.
Bangunan gudang Stasiun Wonogiri masih tampak masih utuh dan terawat.  Seperti kebanyakan gudang yang ada dibeberapa stasiun, bangunan tersebut berfungsi sebagai sarana distribusi barang pada masanya. Tampak pintu gudang terkunci rapat yang menandakan bahwa gudang itu sudah lama tak terpakai. Kini area disekitar bangunan gudang Stasiun Wonogiri sudah dipadati oleh perumahan penduduk. Bekas jalur keretapun juga sudah banyak yang hilang tertutup bangunan rumah warga. Disamping gudang tampak rel kereta mengarah keselatan menuju Baturetno.  Akan tetapi sayang, rel menuju ke Baturetno telah dicabut yang ditandai dengan sebuah rel melengkung keatas yang menjadi penanda bahwa titik tersebut adalah akhir dari jalur Solo – Wonogiri.

Bangunan Gudang Stasiun Wonogiri

Bekas Jalur Kereta di Samping Gudang Stasiun Wonogiri

Titik Akhir Jalur Solo – Wonogiri

Selepas dari perkampungan disekitar stasiun, perjalanan saya lanjutkan kembali menuju PLTA yang ada di area Waduk Gajah Mungkur. Sebenarnya cukup sulit untuk mencari bekas jalur kereta api menuju Baturetno karena bekas rel nya sendiri sudah di cabut oleh PT. KAI sebelum pembangunan waduk dimulai, sehingga yang tersisa hanyalah gundukan tanah dan jembatan yang menjadi penanda bahwa dulunya pernah ada jalur kereta api yang melintas di area tersebut.
Memasuki area PLTA, saya menemukan plang milik PT. KAI tertancap di pinggir jalan. Saya pun berhenti sejenak sembari mengamati hutan yang ada disekitar papan nama itu. Benar saja, saya melihat sebuah plengkung atau bekas jembatan tua tertutup rimbunnya pohon. Saya segera berputar arah mendekat kearah jembatan tua tersebut. Tidak mudah menjangkau jembatan tersebut mengingat letaknya yang ada di tengah hutan dan gundukan tanahnya yang lumayan tinggi. Jembatan tersebut memiliki tinggi kurang lebih 10 meter dari dasar sungai. Kerangka besi penyangga rel pun sudah tidak ada, yang tersisa hanyalah plengkungan dari batu yang menandakan bahwa dulu bangunan itu adalah sebuah jembatan.


Bekas Jembatan Kereta di Area PLTA

            Dari lokasi jembatan perjalanan kemudian saya lanjutkan mengikuti arah jalur jembatan tersebut. Kurang lebih 100 meter dari jembatan saya menemukan sebuah gundukan tanah memanjang menuju arah waduk. Saya memperkirakan bahwa gundukan tersebut adalah bekas jalur kereta api menuju Baturetno, mengingat gundukan tersebut terletak satu garis lurus dengan jembatan dan memiliki lebar kurang lebih sama dengan lebar jalur kereta. Sebenarnya saya ingin lebih jauh mengikuti jalur tersebut, akan tetapi sayang saya tidak bisa melakukannya karena area PLTA adalah area terbatas yang hanya orang-orang tertentu saja yang boleh memasukinya.

Bekas Jalur Kereta Menuju Waduk

            Dari lokasi PLTA perjalanan saya lanjutkan menuju Baturetno. Kali ini rute yang saya lewati melintasi sebelah timur waduk via Ngadirojo. Cukup jauh memang jarak dari PLTA hingga Baturetno. Akhirnya sekitar pukul setengah sebelas siang, saya tiba di Baturetno. Tujuan pertama saya adalah Pasar Baturetno, karena sesuai informasi dibelakang pasar itulah dulunya Stasiun Baturetno berdiri.
            Sebelum memasuki wilayah pasar, saya sempat melewati sebuah jembatan yang ukurannya lumayan besar. Disana saya melihat bekas jembatan yang menurut saya adalah bekas jembatan kereta api. Jembatan tersebut hanya menyisakan pondasi dan kerangka besinya saja. Dengan rasa penasaran saya mendekati jembatan itu untuk mencari informasi lebih jauh.
            Tak mudah mencapai lokasi jembatan, saya harus melewati semak belukar yang kering serta gundukan tanah yang tinggi untuk menjangkaunya. Dari bentuk kontur tanah saya sudah bisa memastikan bahwa dulunya disana pernah terdapat jalur kereta api. Keyakinan saya bertambah tatkala saya tiba dilokasi jembatan. Di area gundukan tanah saya menemukan kumpulan batuan kecil seperti batuan penyangga bantalan kereta api atau balas yang telah menyatu dengan tanah. Saya juga menjumpai beberapa patok milik PT. KAI tertancap di sekitar gundukan tanah tersebut.

Bekas Jembatan Kereta Api di Baturetno


Bekas Jalur Kereta di Baturetno

Selepas dari area jembatan, saya bergegas melanjutkan perjalanan menuju Pasar Baturetno. Setibanya dipasar saya mencoba memasuki sebuah jalan yang ada dibelakang pasar. Jalan tersebut tidaklah terlalu besar akan tetapi banyak kendaraan roda empat seperti truk dan mobil yang lalu lalang melintasi jalan tersebut. Saya melihat sebuah papan reklame yang ukurannya cukup besar milik salah satu toko yang ada dijalan tersebut dan di papan tersebut tertulis alamat toko yakni Jalan Ex Stasiun Baturetno. Berarti memang benar bahwa dijalan itulah dulunya Stasiun Baturetno pernah berdiri.
            Saya mencoba mencari informasi dari warga sekitar yang ada disekitar pasar untuk mengetahui lokasi bekas Stasiun Baturetno. Kebetulan saya bertemu dengan seorang kakek yang melintas di jalan tersebut dan menanyakan keberadaan stasiun kepadanya. Kakek tersebut menceritakan bahwa dulunya memang benar kalau di sana pernah berdiri Stasiun Baturetno, tetapi bangunannya sudah tidak ada dan telah menjadi jalan pasar. Saya pun sempat berputar beberapa kali di jalan tersebut dengan harapan bisa menemukan sedikit jejak yang tertinggal tentang keberadaan Stasiun Baturetno akan tetapi hal tersebut tidak saya temukan. Yang menjadi penanda bahwa dulunya disana pernah berdiri sebuah stasiun hanyalah nama jalan itu sendiri yang menerangkan bahwa bekas Stasiun Baturetno berada di area tersebut. Stasiun Baturetno dulunya adalah stasiun terminus dijalur Wonogiri – Baturetno yang terletak di ujung paling selatan.
Berhubung tidak ada bukti lain yang bisa saya temukan disana, akhirnya saya putuskan untuk menyudahi blusukan saya kali ini. Saya pun bergegas meninggalkan Pasar Baturetno. Tak terduga saat keluar pasar saya menemukan sebuah patok yang terbuat dari potongan besi rel kereta api tertancap di sebuah pertigaan dekat pasar. Saya pun bergegas menghampirinya.
            Patok tersebut berwarna putih biru dengan ukuran yang tidak terlalu tinggi dengan tulisan besi yang di las dibagian atasnya. Saya kurang tahu dengan arti tulisan tersebut karena hanya membentuk sebuah singkatan. Mungkin patok tersebut sengaja di tinggalkan atau mungkin sengaja di tancapkan oleh PT. KAI sebagai penanda bahwa di tempat tersebut dahulunya pernah dilalui jalur kereta api.

Lokasi Bekas Stasiun Baturetno

Patok di Area Pasar Baturetno

Selepas dari lokasi patok tersebut saya melanjutkan perjalanan pulang menuju Solo. Sungguh terik cuaca waktu itu mengingat masih musim kemarau. Sekitar pukul satu siang akhirnya saya tiba di Solo dengan membawa kumpulan kisah yang luar biasa tentang keberadaan jalur Wonogiri – Baturetno.

________________________________
artikel ini dikembangkan oleh: blusukanpabrikgula.blogspot.com
________________________________
PRIMA UTAMA / 2014 / WA: 085725571790 / MAIL, FB: primautama@ymail.com / INSTA: @primautama 



9 komentar:

  1. Sy masih sempat saksikan Stasiun Baturetno berdiri, namun sy kehilangan dokumentasi photo nya, nanti kalau ketemu sy share ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. ok terima kasih pak, saya sangat berharap bisa melihat bagaimana stasiun baturetno dulu berdiri. sempat beberapa kali meminta keterangan warga disana tapi jawabannya kurang memuaskan karena mereka mengira saya petugas dari kai yang akan menghidupkan jalur batu retno.

      Hapus
  2. itu dulunya kereta yang lewat itu kereta barang apa kereta penumpang ????

    BalasHapus
    Balasan
    1. setahu saya barang dan penumpang, seperti halnya di daerah-daerah lain

      Hapus
  3. Beberapa waktu lalu saya sempat baca berita bahwa jalur Wonogiri - Baturetno akan dihidupkan kembali, bahkan rute nya akan di perpanjang hingga Kecamatan Donorojo (Kab. Pacitan)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau untuk jalur tersebut, rencana hanya sampai waduk gajah mungkur saja setahu saya. tapi hal tersebut hanya untuk wisata.

      Hapus
  4. Saya pernah lewat dibelakang smp didekat baturetno dulu diaitu ada besi rel bercabang tapi ukuranya pendek. Tapi sedih min liat stasiunya sudah tidak ada bekasnya-_-

    BalasHapus
  5. Keren sekali, Pak. Suatu saat bolehlah saya diajak menelusuri tempat-tempat bersejarah lain, terutama stasiun tua dan jalur matinya. Salam. 😃

    BalasHapus
  6. Saya masih ingat (sedikit dan samar-samar) sewaktu berumur kira-kira 3 tahun (sebelum TK), keluarga saya naik kereta "kluthuk" dari Baturetno ke Wonogiri, terus ke Solo. Gerbong penumpangnya mirip dengan gerbong yang ada di Museum Palagan Ambarawa, tempat duduknya memanjang berhadapan.
    Ketika masih di SMP, beberapa kali saya ikut ortu tilik ndeso ke Baturetno (tempat asal ortu dan moyang saya). Saya masih melihat jalur rel dan bekas stasiun itu. Really amazing !
    Sekarang saya tahu kalau hampir semua peninggalan peradaban jadul itu sudah lenyap. Sedih.

    BalasHapus